KabarBaik.co – Nama sebuah dusun biasanya berasal dari tokoh penting, peristiwa tertentu, atau kondisi alam. Namun di Desa Klantingsari, Tarik, Sidoarjo, ada dua nama dusun yang langsung membuat orang tersenyum saat mendengarnya. Dua nama itu adalah Dusun Bokong Duwur dan Dusun Bokong Ngisor.
Meski terdengar nyeleneh, nama tersebut justru menjadi identitas yang lekat di tengah masyarakat. Tidak sedikit pendatang yang kaget saat pertama kali mendengarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘bokong; berarti pantat. Sedangkan istilah duwur dan ngisor dalam bahasa Jawa memiliki arti ‘atas’ dan ‘bawah’. Kombinasi ini membuat kedua nama dusun terasa unik sekaligus menggelitik.
Rahmat, 45, salah satu warga setempat, menceritakan bahwa sejak dahulu ada banyak kisah yang berkembang soal penamaan dua dusun tersebut. Namun, ada satu cerita yang paling sering diceritakan secara turun-temurun di tengah masyarakat.
Cerita itu berkaitan dengan Sungai Bokong, sungai kecil yang mengalir tepat di antara dua dusun tersebut. Sungai inilah yang diyakini menjadi awal munculnya nama Bokong Duwur dan Bokong Ngisor.

Menurut Rahmat, pada masa lampau warga sebagian besar adalah petani. Untuk mencapai sawah, mereka harus menyeberangi sungai tersebut. Agar jarik atau sarung tidak basah, warga mengangkatnya setinggi mungkin saat menyeberang.
“Kalau air sungai sedang dalam, kain itu sampai diangkat ke bokong. Kalau tidak terlalu dalam, ya cukup sampai lutut atau pinggang,” ujar Rahmat pada KabarBaik.co Minggu (6/12) sembari mengenang cerita para sesepuh.
Dari kebiasaan itu, muncullah istilah Bokong Duwur untuk menggambarkan wilayah yang identik dengan angkatan kain lebih tinggi, serta Bokong Ngisor untuk wilayah yang lebih dangkal. Cerita ini masih hidup hingga kini dalam budaya tutur warga.
Rahmat juga menyebut ada versi dongeng lain yang beredar, yakni konon sungai itu sering dilalui para bidadari yang menuju sebuah tempat bernama Dusun Telaga. Cerita fantasi ini menjadi bagian dari kisah masa kecil warga setempat.
Meski kaya cerita, hingga kini belum ada catatan literasi resmi yang menjelaskan asal-usul dua nama itu. Namun bagi warga, nama Bokong Duwur dan Bokong Ngisor tetap menjadi bukti bahwa sejarah bisa lahir dari hal-hal sederhana, dari sungai kecil hingga kebiasaan sehari-hari yang akhirnya diwariskan lintas generasi. (*)








