KabarBaik.co, Lombok — Bagi M. Iqram, menjadi mekanik alat berat bukan sekadar pekerjaan. Profesi itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menghentikan seseorang untuk mengejar cita-cita.
Iqram kini berusia 20 tahun. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara dan kini bekerja sebagai mekanik alat berat di PT Bornusa Peralatan Indonesia yang bekerja sama dengan Beren XCMG.
Dalam pekerjaannya, Iqram menangani berbagai pekerjaan perbaikan alat berat, termasuk melakukan troubleshooting untuk mengetahui dan mengatasi gangguan pada mesin maupun sistem alat berat.
Perjalanan Iqram hingga berada di titik tersebut tidak berlangsung mudah. Ia menempuh pendidikan di SMK PGRI 2 Ponorogo, jurusan Teknik Alat Berat.
Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Iqram selama menempuh pendidikan. Ayahnya, almarhum Rusdan, merupakan tulang punggung keluarga.
Iqram bahkan kehilangan ayah ketika masih berstatus sebagai pelajar sekaligus menjalani program magang.

Saat itu, Iqram sedang berada di Makassar untuk menjalankan tugas magang dan memperbaiki unit alat berat. Di tengah kegiatan tersebut, ia tetap mengikuti pendidikan sekolah secara daring.
“Saat saya ada dinas magang perbaiki unit alat berat di Makassar dan sekolah secara online, bapak meninggal,” kata Iqram.
Kepergian sang ayah menjadi salah satu titik berat dalam perjalanan pendidikannya. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Iqram berhenti melanjutkan pendidikan.
Sebelum mendapatkan beasiswa, Iqram juga berusaha membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah pendidikan, ia terkadang bekerja bersama temannya dalam kegiatan pertambangan emas maupun membantu membeli gabah bersama ayah temannya.
Di sisi lain, Iqram aktif sebagai atlet taekwondo. Aktivitas tersebut membuat kehidupan sekolahnya tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik.
“Saya di sekolah paling aktif dan gampang akrab sama orang,” kata Iqram.
Keaktifannya di sekolah bahkan membawanya mengikuti pertandingan taekwondo sebanyak dua kali. Ia sempat mendapat tawaran dari KONI Ponorogo untuk mengikuti pertandingan Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur melalui daerah tersebut.
Beasiswa yang Mengubah Perjalanan
Di tengah berbagai aktivitas dan keterbatasan ekonomi itu, kesempatan mendapatkan beasiswa menjadi titik penting dalam perjalanan pendidikan Iqram.
Bagi Iqram, beasiswa tersebut memberikan perubahan besar dalam kehidupannya. Dukungan yang diterimanya tidak hanya digunakan untuk membiayai pendidikan, tetapi juga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebagian uang beasiswa juga ia sisihkan untuk ditabung dan membeli kambing.
“Pokoknya kehidupan saya jauh berubah, kebutuhan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari bisa teratasi,” ujar Iqram.
Beasiswa tersebut membuat Iqram dapat melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang sekaligus membantu mengurangi beban keluarga.
Hal tersebut juga diperkuat Andik Susilo, Kepala Konsentrasi Keahlian Teknik Alat Berat SMK PGRI 2 Ponorogo.
Menurut Andik, secara akademik Iqram tidak jauh berbeda dengan siswa lainnya. Namun, ia memiliki keunggulan dalam sikap, kemampuan bersosialisasi dan kompetensi praktik.
“Iqram di sekolah secara akademik dibilang biasa saja seperti siswa lainnya. Namun secara attitude, sosial dan kompetensi praktik sangat menonjol,” kata Andik.
Andik mengetahui kondisi ekonomi keluarga Iqram. Setelah ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia, beasiswa dinilai sangat membantu keberlangsungan pendidikan Iqram.
“Kondisi ekonomi memang saat itu pas-pasan. Dengan adanya beasiswa dari AMMAN, alhamdulillah sangat terbantu,” ujarnya.
Menurut Andik, dukungan tersebut membuat Iqram tidak lagi harus mengeluarkan biaya pendidikan. Bahkan, sebagian uang saku pendidikan dapat disisihkan untuk membantu ibunya dan memenuhi kebutuhan lainnya.
Andik mengatakan Iqram juga kerap diberikan kepercayaan karena memiliki rasa tanggung jawab dan kejujuran.
“Iqram sering saya beri kepercayaan karena mempunyai tanggung jawab tinggi dan jujur,” ujarnya.
Perubahan Iqram semakin terlihat setelah mendapatkan beasiswa dan mulai memasuki tahapan menuju dunia kerja. Menurut Andik, kedewasaan, kemampuan berkomunikasi dan kompetensinya semakin berkembang.
“Dari segi kompetensi sangat terlihat karena saat diberi pekerjaan Iqram bisa menyelesaikannya dengan baik,” katanya.
Ilmu SMK yang Kini Dipakai di Lapangan
Pendidikan di SMK PGRI 2 Ponorogo menjadi bekal penting bagi Iqram sebelum terjun ke dunia kerja. Keterampilan yang diperolehnya selama sekolah kini banyak digunakan dalam pekerjaan sebagai mekanik alat berat.
Salah satu keterampilan yang paling sering digunakan adalah pemeriksaan dan pemeliharaan harian alat berat. Selain itu, pengetahuan mengenai servis rutin serta cara kerja sistem alat berat menjadi bekal dalam menjalankan pekerjaannya.

Sebelum resmi bekerja, Iqram terlebih dahulu menjalani program magang selama satu tahun. Setelah menyelesaikan kontrak magang, ia kemudian ditarik untuk bekerja dan mulai bergabung pada Juni 2025.
Pekerjaannya kini sejalan dengan jurusan yang ia tempuh di SMK. Cita-cita yang dulu ia bayangkan akhirnya mulai terwujud.
“Saya ingin menjadi mekanik alat berat dan alhamdulillah sekarang sudah tercapai,” ujarnya.
Dari Magang Menuju Dunia Kerja
Pengalaman magang menjadi tahap penting dalam perjalanan Iqram sebelum akhirnya bekerja sebagai mekanik alat berat.
Perkembangan Iqram selama menjalani pekerjaan mendapat penilaian dari Sulung Prasetyo, Manager Departemen Service PT Bornusa Peralatan Indonesia.
Menurut Sulung, Iqram menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Ia dinilai detail dalam bekerja, cepat mempelajari persoalan baru pada unit alat berat dan mampu mengingat cara penyelesaian ketika menghadapi masalah serupa.
“Iqram detail dalam melakukan suatu pekerjaan dan cepat menangkap hal baru,” kata Sulung.
Dari sisi kedisiplinan dan komunikasi, Iqram juga dinilai semakin matang. Jika pada awalnya masih terlihat kaku, pengalaman selama magang membuat kemampuan komunikasinya dengan atasan maupun customer berkembang.
“Setelah magang setahun dia sudah bagus dalam hal berkomunikasi,” ujarnya.
Sulung mengatakan kemampuan teknis Iqram juga terus berkembang. Meski belum sepenuhnya menguasai sistem elektrik, hidrolik, engine dan struktur, Iqram sudah cukup menguasai pekerjaan umum seperti maintenance, commissioning dan training.
“Untuk waktu setahun lebih ini, perkembangannya sudah cukup bagus,” katanya.
Ia berharap pengalaman kerja dalam beberapa tahun ke depan semakin memperkuat kemampuan Iqram, terutama dalam pekerjaan maintenance dan commissioning.
Menurut Sulung, pengalaman magang juga menjadi modal penting bagi Iqram saat memasuki dunia kerja. Pengetahuan dasar mengenai alat berat yang diperoleh selama magang membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan pekerjaan.
“Pengalaman magang cukup membantu karena dia sudah punya basic mengenai alat berat,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan pekerjaan, Iqram masih mendapat pendampingan untuk pekerjaan tertentu. Namun, ada pula pekerjaan yang sudah mampu diselesaikan secara mandiri.
Beasiswa dan Jalan Menuju Dunia Kerja
Perjalanan Iqram menunjukkan bahwa dukungan pendidikan tidak berhenti pada kelulusan sekolah. Bagi penerimanya, beasiswa dapat menjadi jembatan menuju dunia kerja ketika pendidikan yang ditempuh sesuai dengan kebutuhan keterampilan industri.
Kartika Octaviana, Vice President Corporate Communication AMMAN, menjelaskan program AMMAN Scholars merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam pengembangan sumber daya manusia di wilayah sekitar operasional.
Program tersebut menyediakan dukungan pendidikan vokasi melalui beasiswa formal dan nonformal.
Menurut Kartika, AMMAN memiliki dua bentuk beasiswa kejuruan. Pertama, beasiswa nonformal berupa pelatihan jangka pendek selama enam hingga 12 bulan. Kedua, beasiswa formal untuk siswa SMK dan program diploma dengan durasi minimal tiga tahun.
Program SMK Unggulan AMMAN membuka berbagai bidang yang berkaitan dengan kebutuhan industri kreatif dan teknik, termasuk Teknik Alat Berat, Teknik Mesin, Teknik Pengelasan, Teknik Elektronika, Teknik Ketenagalistrikan dan Teknik Otomasi Industri.
Program tersebut ditujukan bagi masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa sebagai bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat atau PPM.
“Program AMMAN Scholars dirancang untuk memperluas akses anak muda daerah terhadap pendidikan vokasi berkualitas,” kata Kartika.
Hingga periode 2021–2025, AMMAN menyebut telah mendukung 239 AMMAN Scholars melalui program beasiswa SMK unggulan. Sebanyak 78 penerima telah lulus pada 2024 dan 2025.
Untuk program pelatihan vokasi perhotelan, sepanjang 2022–2024 telah diberikan 302 beasiswa pelatihan hospitality. AMMAN menyebut 87 persen lulusan program tersebut telah bekerja di KSB, Lombok dan Bali.
Pada 2026, AMMAN kembali memberikan beasiswa kepada 61 AMMAN Scholars untuk bersekolah di SMK mitra unggulan yang tersebar di Kudus, Malang dan Ponorogo.
Menurut Kartika, tujuan program bukan hanya mengatasi keterbatasan akses pendidikan, tetapi juga menjawab kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Program ini tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membekali penerima dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri,” ujar Kartika.
Bekal yang diberikan mencakup keterampilan teknis, kemampuan nonteknis, pengalaman praktik serta kesiapan memasuki dunia kerja.
Tidak Diikat untuk Bekerja di AMMAN
Salah satu hal yang membedakan program beasiswa AMMAN adalah penerima tidak diwajibkan kembali bekerja di perusahaan setelah menyelesaikan pendidikan.
Kartika menjelaskan program tersebut bukan merupakan ikatan dinas, melainkan bagian dari inisiatif pemberdayaan masyarakat. Karena itu, penerima beasiswa memiliki kebebasan menentukan pilihan karier setelah menyelesaikan pendidikan.
Mereka dapat bekerja di sektor pertambangan, industri lain, berwirausaha maupun kembali membangun daerah asalnya.
“Program ini tidak dirancang sebagai ikatan dinas, melainkan sebagai inisiatif pemberdayaan masyarakat,” kata Kartika.
Menurut Kartika, memberikan pilihan yang lebih luas kepada generasi muda daerah merupakan bagian dari dampak sosial yang ingin dibangun melalui program tersebut.
AMMAN juga memandang keterampilan yang dimiliki generasi muda sebagai investasi jangka panjang, termasuk untuk menghadapi kondisi setelah kegiatan pertambangan nantinya berakhir.
Mengukur Keberhasilan dari Perubahan
AMMAN mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah penerima maupun lulusan.
Menurut Kartika, perusahaan menggunakan sejumlah indikator, mulai dari capaian pendidikan, kelulusan, peningkatan keterampilan teknis dan soft skill, kesiapan kerja, kesempatan magang hingga peluang bekerja atau berwirausaha.
Perubahan tingkat kemandirian penerima dan dampaknya terhadap keluarga serta daerah juga menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.
“Keberhasilan program tidak semata-mata dilihat dari jumlah lulusan, tetapi dari perubahan yang lebih substantif dalam hidup para penerima beasiswa,” ujar Kartika.
Dalam konteks Iqram, perjalanan tersebut terlihat dari perubahan yang terjadi sejak bangku sekolah hingga memasuki dunia kerja. Beasiswa membantu keberlanjutan pendidikan, kemudian pengalaman magang menjadi jembatan menuju pekerjaan sebagai mekanik alat berat.
Ketika Pendidikan Menjadi Jalan Menuju Kemandirian
Dari perspektif pendidikan vokasi, perjalanan Iqram juga memperlihatkan pentingnya keterhubungan antara sekolah, dunia industri dan akses pendidikan.
Akademisi Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma), Dr Hadi Gunawan Sakti, menilai pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan lulusan menghadapi dunia kerja.
“Saya berpandangan bahwa pendidikan vokasi atau SMK memiliki peran yang strategis dalam menyiapkan generasi yang siap kerja, mandiri dan adaptif terhadap perkembangan industri,” kata Hadi.
Menurutnya, beasiswa juga memiliki peran penting bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Beasiswa bagi siswa dari keluarga keterbatasan ekonomi itu sangat penting karena dapat memperluas akses pendidikan dan juga mencegah siswa putus sekolah,” ujarnya.
Selain dukungan pembiayaan, Hadi menilai pengalaman magang merupakan bagian penting dari pendidikan vokasi karena siswa dapat berhadapan langsung dengan lingkungan kerja.
“Magang menjadi bagian penting karena memberikan pengalaman nyata kepada siswa,” katanya.
Menurut Hadi, magang juga membantu membangun disiplin, etos kerja, kemampuan komunikasi dan adaptasi siswa.
Namun, keberhasilan pendidikan vokasi juga bergantung pada kesesuaian kompetensi yang diajarkan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Yang tidak kalah penting adalah keterhubungan kurikulum SMK dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Menurut Hadi, kompetensi, teknologi dan keterampilan yang diajarkan perlu disusun bersama atau berdasarkan masukan dari dunia usaha dan dunia industri. Dengan demikian, lulusan SMK tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga memiliki kompetensi relevan, sertifikasi, pengalaman kerja dan daya saing.
“Intinya SMK itu harus semakin dekat dengan industri,” katanya.
Cita-cita yang Menjadi Pekerjaan
Bagi Iqram, perjalanan itu belum berhenti.
Menjadi mekanik alat berat yang dulu menjadi cita-cita kini telah tercapai. Dari ruang kelas, praktik sekolah dan pengalaman magang, ia kini berhadapan langsung dengan alat berat yang sebelumnya hanya dipelajari melalui pendidikan.
Cita-cita yang sempat terhalang kondisi keluarga akhirnya menemukan jalannya.
Namun, perjalanan sebagai mekanik masih panjang. Tantangan berikutnya adalah terus meningkatkan keterampilan, memperdalam kemampuan teknis dan membangun karier dari profesi yang sejak awal ingin ia jalani.
Dari beasiswa, bangku SMK PGRI 2 Ponorogo, pengalaman magang hingga dunia kerja, perjalanan Iqram memperlihatkan bagaimana pendidikan, dukungan dan pengalaman dapat menjadi rangkaian yang membuka jalan bagi anak muda untuk membangun masa depannya.(*)






