Dari Gereja untuk Muktamar NU, Kolaborasi Tiga Gereja Sidoarjo Jadi Simbol Toleransi

oleh -105 Dilihat
Jemaat gereja bersama Laziznu PCNU Sidoarjo saat menggalang donasi di GKJW Jemaat Sidoarjo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)
Jemaat gereja bersama LAZISNU PCNU Sidoarjo saat menggalang donasi di GKJW Jemaat Sidoarjo. (Foto: Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co, Sidoarjo — Dukungan terhadap Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tidak hanya datang dari kalangan Nahdliyin. Tiga gereja di kawasan Sidoarjo Kota turut membuka ruang bagi jemaatnya untuk berdonasi melalui LAZISNU PCNU Sidoarjo. Kolaborasi ini menjadi gambaran bahwa semangat kebersamaan lintas agama dapat diwujudkan dalam aksi nyata.

Penggalangan dana tersebut berlangsung Minggu (16/8) pagi bertepatan dengan ibadah jemaat di GKJW Sidoarjo, GPIB Sidoarjo dan GKI Sidoarjo. Kotak donasi berukuran besar dikirab dari GKI, kemudian menuju GPIB dan terakhir ditempatkan di GKJW.

Pendeta GKJW Jemaat Sidoarjo Noven Rudy Nathaniel, mengatakan keterlibatan gereja dalam penggalangan dana tersebut menjadi bentuk kepercayaan sekaligus persaudaraan yang terjalin antara komunitas Kristen dengan NU.

“Ini sebuah bentuk kepercayaan dan sebuah bentuk bahwa LAZISNU secara khusus menganggap kami adalah saudara, keluarga yang bisa terlibat dalam kegiatan NU,” ujar Noven, Minggu (16/8).

Menurut Noven, toleransi tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan. Salah satunya dengan memberikan dukungan ketika kelompok masyarakat lain menggelar kegiatan besar.

Antusiasme jemaat pun disebut cukup baik. Bahkan sebelum kegiatan penggalangan secara langsung digelar, sejumlah jemaat telah lebih dahulu mengirimkan donasi melalui rekening LAZISNU.

“Seperti yang anda lihat tadi, sebelum hari ini sudah ada yang memberikan donasi melalui rekening LAZISNU. Itu merupakan tanggapan positif dari umat atau warga jemaat khususnya GKJW ini,” katanya.

Kedekatan GKJW dengan kalangan NU juga bukan sesuatu yang baru. Noven menyebut hubungan tersebut memiliki perjalanan tersendiri, salah satunya melalui komunitas Gusdurian. Bahkan di lingkungan kantor sinode GKJW terdapat ruang yang menjadi tempat mengenang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Menurut Noven, Gus Dur pernah mengajar di lembaga pendidikan milik gereja, termasuk memberikan pemahaman mengenai Islam di Indonesia. Jejak tersebut dinilai menjadi bagian dari hubungan baik yang terus terpelihara hingga sekarang.

Ketua LAZISNU PCNU Sidoarjo, Dodi Dliya’uddin, mengapresiasi keterbukaan tiga gereja dalam mendukung penggalangan dana. Ia menyebut gagasan awal untuk membuka donasi di lingkungan gereja berasal dari GKJW Sidoarjo.

“Alhamdulillah semuanya welcome. Ini bagian dari wujud kami Nahdlatul Ulama sebagai lembaga yang rahmatan lil ‘alamin. Dan ini luar biasa kerjasamanya, membangun toleransi,” ungkapnya.

Dodi menegaskan, keterlibatan umat non-NU dalam kegiatan NU bukan yang pertama. Saat peringatan 1 Abad NU, warga Sidoarjo dari berbagai kalangan juga ikut membantu memberikan pelayanan kepada para tamu.

Muktamar NU ke-35 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Agenda tersebut menjadi salah satu forum penting bagi organisasi NU dalam membahas berbagai persoalan dan arah organisasi ke depan.

Untuk mendukung pelaksanaan muktamar, hasil donasi yang dihimpun LAZISNU akan digunakan untuk pelayanan selama kegiatan berlangsung. LAZISNU nantinya menyiapkan posko yang menyediakan sekitar 1.000 nasi bungkus setiap hari, kopi, polo pendem serta berbagai kebutuhan konsumsi.

Selain konsumsi, posko tersebut juga dilengkapi layanan pijat, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis bagi peserta maupun tamu muktamar.

“Ini bagian dari donasinya. Lalu kalau kemudian ini sebagian lagi juga akan kami sampaikan untuk panitia muktamar,” jelas Dodi.

Posko ditargetkan telah beroperasi sejak hari pertama muktamar pada 27 Agustus. Lokasinya berada di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Selain dari gereja, penggalangan dana juga dilakukan melalui lembaga pendidikan di bawah naungan Ma’arif, TPQ dan pesantren. Minggu (16/8) menjadi batas akhir pengumpulan donasi sebelum seluruh dana dihimpun dan dipersiapkan untuk kebutuhan pelayanan selama muktamar.

LAZISNU PCNU Sidoarjo menargetkan dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp300 juta. Namun, Dodi menegaskan nominal tersebut bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan kegiatan.

“Kalau keseluruhan memang kami menarget sekitar Rp300 juta. Kalau memenuhi target alhamdulillah, lebih dari target juga masyaallah, kalau tidak ya astagfirullah,” ujarnya.

Bagi Dodi, pesan terpenting dari kegiatan tersebut adalah terbentuknya ruang kebersamaan antarumat beragama. Donasi tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk saling membantu dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Ia berharap kolaborasi antara NU dan umat Kristen maupun pemeluk agama lain di Sidoarjo dapat terus berkembang. Selain memperkuat toleransi, hubungan tersebut diharapkan menjadi jembatan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis.

Dodi juga berharap Muktamar NU ke-35 menghasilkan keputusan yang mampu menjawab berbagai persoalan bangsa, terutama menyangkut kehidupan sosial, budaya dan kemasyarakatan.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.