KabarBaik.co, Jombang— Suasana berbeda tampak di SMAN Ploso, Jombang, dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-43. Ratusan siswa terlibat dalam gelar karya kokurikuler yang memadukan edukasi budaya, ketahanan pangan, hingga kampanye pengurangan sampah plastik.
Kepala sekolah SMAN Ploso Qoidatun Nisak menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar perayaan ulang tahun, tetapi juga sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa.
“Hari ini merupakan rangkaian kegiatan HUT ke-43 sekolah. Kami ingin siswa tidak hanya merayakan, tapi juga mengenal budaya serta terlibat dalam kegiatan kokurikuler yang bermakna,” ujarnya kepada KabarBaik.co Rabu (6/5).
Salah satu kegiatan utama adalah panen hasil kebun sekolah, seperti terong, kangkung, cabai, dan tomat. Tanaman tersebut ditanam langsung oleh siswa kelas 10 dan 11 di lahan sekolah yang dibagi per kelas.
“Kami tidak melibatkan kelas 12 karena mereka sudah fokus pada persiapan akhir pembelajaran dan ujian,” jelasnya.
Selain panen, siswa juga menghadirkan 15 stan kuliner yang menyajikan jajanan tradisional khas Indonesia. Menariknya, seluruh makanan dikemas tanpa plastik, sebagai bagian dari program pengurangan sampah yang dicanangkan Dinas Pendidikan Jawa Timur.
“Bungkusnya tidak boleh plastik. Anak-anak menggunakan daun atau kertas bekas yang masih layak. Ini bagian dari edukasi menuju kebiasaan ramah lingkungan,” kata Qoidatun.
Tak hanya itu, para siswa juga mengenakan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, menambah nuansa kental budaya dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap melalui kegiatan ini siswa semakin mengenal budaya bangsa, mencintai makanan tradisional, serta membangun karakter hidup bersih dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Penilaian pun dilakukan untuk menambah semangat siswa, mulai dari stan terbaik, kostum terbaik, hingga kebersihan area.
“Penilaian kebersihan juga penting. Kami ingin siswa terbiasa tidak membuang sampah sembarangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua OSIS SMAN Ploso, Anggi, menyebut kegiatan ini menjadi ajang pengembangan kreativitas dan kekompakan antarkelas.
“Kegiatan ini melatih kolaborasi. Setiap kelas saling berbagi ide untuk menampilkan yang terbaik,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan acara dilakukan sekitar dua minggu sebelum hari pelaksanaan. Awalnya, konsep kegiatan cukup sederhana, namun antusiasme siswa membuat acara berkembang jauh lebih meriah dari perkiraan.
“Awalnya sederhana, tapi ternyata di luar ekspektasi. Teman-teman sangat antusias dan hasilnya jadi sangat keren,” katanya.
OSIS sendiri tidak hanya berperan sebagai panitia, tetapi juga membantu mengoordinasikan siswa di masing-masing kelas serta menyebarkan informasi kegiatan.
Dengan total 15 stan yang masing-masing dikelola satu kelas, gelar karya ini menjadi bukti bahwa pembelajaran bisa dikemas secara kreatif, menyenangkan, sekaligus bermakna bagi siswa. (*)








