Datang Diam-Diam, Pergi Tanpa Banyak Kata: Jejak Tenang Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang

oleh -269 Dilihat
ZULMANSYAH

KABAR itu datang seperti angin malam. Pelan, dingin, dan mengguncang tanpa suara. Sabtu dini hari, 18 April, saat tidak sedikit yang bertahajud, dunia pers Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Zulmansyah Sekedang, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, mendadak berpulang di usia kurang dari 54 tahun. Kabarnya akibat serangan jantung.

Kepergiannya begitu tiba-tiba.  Seolah menegaskan satu hal yang kerap kita lupakan. Bahwa hidup, betapapun sibuk dan penuh rencana, tetaplah sangat rapuh.

Dua hari sebelumnya, Kamis (16/4) petang, almarhum masih tampak seperti biasa. Di Gedung Dyandra Convention Center, Surabaya, seusai acara bedah buku ”Jalan Sunyi Menuju Puncak”, sebuah kisah epik perjalanan hidup Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, Bang Zul–demikian panggilan akrabnya–terlihat sehat. Senyumnya mengembang lebih banyak daripada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Petang itu, Bang Zul berdiri di depan pintu keluar. Menunggu mobil yang akan membawanya ke Bandara Juanda, untuk kembali ke Jakarta bersama rekan-rekan seperjuangan dari PWI Pusat. Tampak Cak Munir, Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim dan sejumlah wartawan pun melepas kepergiannya.

”Selamat jalan, hati-hati Bang.” begitu kalimat terakhir kami.

Tak ada yang menyangka, senja itu adalah garis batas yang tak kasat mata. Pertemuan sederhana itu menjelma menjadi perpisahan terakhir.

Bang Zul bukan nama yang tiba-tiba hadir dalam panggung besar pers. Dia menapaki jalannya seperti air yang mengalir. Mungkin tidak selalu riuh, tetapi pasti. Lahir di Aceh Tenggara pada 2 Juli 1972, ia tumbuh dan berproses panjang, Terutama di Pekanbaru, Riau, hingga dikenal sebagai wartawan yang tangguh dan organisator yang tekun. Dua periode mendedikasikan hidupnya sebagai ketua PWI provinsi setempat.

Namanya mulai banyak diperbincangkan di kalangan wartawan nasional sejak Kongres PWI XXV di Bandung tahun 2023. Saat itu, ia maju sebagai calon ketua umum. Dia memang belum berhasil, tetapi kegagalan itu tidak memadamkan langkahnya. Seperti api yang tertiup angin, Bang Zul justru menyala lebih tenang.

Singkat cerita, Bang Zul dipercaya menjadi Sekjen PWI Pusat. Dari posisi itu, dia menjadi salah seorang figur penting dalam dinamika organisasi yang tidak selalu berjalan mulus. Di tengah gelombang dinamika dan perbedaan pandangan, ia dikenal sebagai sosok yang teguh. Bukan tipe yang mudah mundur, juga bukan yang gemar berteriak. Dia memilih jalan sunyi, bekerja, bertahan, dan terus berjalan.

Bagi banyak wartawan daerah, Zulmansyah mungkin bukan sosok yang paling vokal. Mungkin tidak selalu berada di barisan depan sorotan. Namun, seperti akar pada pohon besar, perannya sering kali justru berada di bawah permukaan. Tidak terlihat, tetapi menopang.

IMG 20260418 WA0033
Zulmansyah Sekedang (tiga dari kanan) dan Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir (tengah) saat berkunjung ke kantor PWI Provinsi Jatim, Kamis (16/4/2026).

Kesaksian sederhana dari pertemuan terakhir di Kota Pahlawan Surabaya menjadi potret kecil tentang dirinya. Saya melihat, Bang Zul lebih banyak tersenyum daripada berbicara. Seolah dia tahu, tidak semua hal harus diucapkan. Ada ketenangan dan keteguhan yang dibawa, bahkan di tengah hiruk-pikuk acara besar.

Setelah bersalaman dan berpisah di depan pintu Gedung Dyandra it, malam itupun berlanjut seperti biasa. Sebagian menuju persiapan agenda berikutnya puncak peringatan Hari Pers Nasional Pers (HPN) Jatim, sebagian mencari makan di sekitar lokasi sambil menunuggu acara itu mulai. Termasuk saya dan teman-teman.

Hidup berjalan normal, tanpa firasat apa pun. Tidak ada tanda bahwa salah seorang dari kami itu baru saja mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya.

Kepergian Bang Zul meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena perjalanan panjang yang didedikasikan untuk dunia pers dan organisasi PWI.

Dia adalah potret dari mereka yang tidak selalu berada di puncak. Tetapi, tidak pernah berhenti mendaki. Dia sepertinya percaya bahwa transformasi tidak selalu lahir dari sorotan terang, melainkan dari ketekunan yang nyaris tak terdengar.

Kini, langkah itu telah berhenti.

Namun, seperti jejak kaki di pasir yang perlahan dihapus ombak, kisahnya tidak benar-benar hilang. Dia tetap tinggal dalam ingatan rekan-rekannya, dalam dinamika organisasi yang pernah diwarnai, dan dalam semangat yang dititipkan bahwa perjuangan tidak harus keras terdengar untuk menjadi berarti.

Dan, Bang Zul di antara sedikit wartawan yang datang tanpa banyak gemuruh. Dia pergi dengan cara yang sama, sunyi dan tenang, tetapi meninggalkan gema. Selamat jalan, Bang! Jalan tenang itu kini benar-benar telah membawamu menuju puncak yang abadi. Husnul khotimah. (*)

Penulis: H Supardi Hardy, Dirut KabarBaik.co

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.