Desa Manduro, Jejak 500 Tahun Warisan Madura yang Tetap Hidup di Jombang

oleh -143 Dilihat
Desa Manduro
Salah satu sudut di Desa Manduro Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang — Di tengah kuatnya budaya Jawa di Jombang, terdapat sebuah desa yang menyimpan keunikan tersendiri. Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, tetap mempertahankan bahasa dan tradisi Madura yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Kepala Desa Manduro, Jamilun, mengatakan keberadaan masyarakat berbahasa Madura di wilayah utara Jombang itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan cerita turun-temurun, warga Manduro diyakini merupakan keturunan prajurit Kerajaan Majapahit asal Madura.

“Orang Manduro itu dulunya prajurit Majapahit. Keberadaannya sudah sekitar 500 tahun sejak runtuhnya Majapahit,” ujar Jamilun dalam keterangannya, Sabtu (23/5).

Nama Manduro sendiri mulai digunakan sekitar tahun 1913–1914 oleh Carik Wayo atau sekretaris desa saat itu. Nama tersebut diambil dari simbol pewayangan, yakni Mandura yang berkaitan dengan kisah perjalanan Prabu Baladewa.

Tak hanya dikenal karena bahasanya, Desa Manduro juga memiliki sisi spiritual yang kuat. Salah satu tempat yang dianggap sakral adalah makam Buyut Niko atau Tuan Nata, yang diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Manduro.

Di area makam tersebut, terdapat aturan adat yang masih dijaga hingga kini. Perempuan yang sedang menstruasi dilarang memasuki area makam, sementara laki-laki yang hendak berziarah diwajibkan dalam keadaan suci.

Desa Manduro juga memiliki sejumlah situs bersejarah, seperti Gunung Kemendung, Sendang Weji, dan Situs Jeladri yang diyakini sebagai peninggalan era Majapahit.

Selain itu, tradisi budaya masih rutin digelar oleh masyarakat setempat. Salah satunya adalah kesenian Sandur yang dipentaskan setiap Jumat Legi di bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Dalam prosesi tersebut, terdapat ritual “Sentren”, yakni penyucian gamelan dan penari di Gunung Kemendung sebelum pertunjukan dimulai.

Warga juga rutin menggelar Selamatan Bari’an setiap Jumat Legi sebagai bentuk rasa syukur dan doa keselamatan bagi seluruh desa.

Di tengah arus modernisasi, Jamilun berharap generasi muda tetap menjaga identitas budaya yang telah diwariskan leluhur.

“Kita harus terus melestarikan adat budaya ini, terutama bahasa Madura sebagai bahasa sehari-hari. Ini kebanggaan kita karena sudah bertahan selama ratusan tahun,” kata dia.

Bagi masyarakat Manduro, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi pengikat persaudaraan sekaligus penanda sejarah panjang yang terus dijaga hingga kini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.