GRESIK – Situasi memanas terjadi di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik. Ratusan warga membongkar ikon patung Ki Begawan Setigi di area wisata Selo Tirto Giri (Setigi), Sabtu (30/12/2023).
Patung pria berjengggot panjang itu identik dengan eks Kepala Desa (Kades) Sekapuk, Abdul Halim yang baru saja lengser. Aksi massa ini diduga buntut ketidakpuasan dan menuntut keterbukaan pengelolaan keuangan di BUMDes.
Dalam video amatir yang beredar, tampak leher patung Ki Begawan Setigi ditarik menggunakan tali. Kemudian sejumlah warga lain berusaha merobohkan patung dari semen itu menggunakan palu. Perobohan pun diikuti sorak – sorai massa.
“Ndas e, ndas e (kepalanya, kepalanya, red),” teriak massa saat prosesi perobohan patung menggunakan palu. Sedikit demi sedikit patung setengah badan ini pun berhasil dihancurkan. Aksi massa ditengarai karena ketidakpuasan atas kinerja eks Kades Sekapuk, Abdul Halim.
Setelah menghancurkan patung Ki Begawan Setigi, ratusan warga beranjak menuju area wisata Kebun Pak Inggih untuk membongkar Patung Pak Inggih yang ada di sana. Seketika patung roboh dengan tanah. Massa juga menghapus tulisan Desa Miliarder di papan nama desa.

Sebelum pemusnahan dua patung ikonik itu, warga Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik menggelar aksi unjuk rasa di balai desa, Jumat (29/12/2023) malam. Memakai pengeras suara, para pendemo juga memampang sejumlah spanduk tuntutan.
“PEMBOHONGAN PUBLIK! GORO GAWE PASILAN GAK SESUAI KENYATAAN,” bunyi salah satu spanduk. “DESA MILIARDER HOAX, TAEK, HUTANG DIMANA2 BUMDES SAKIT COK,” tulisan bernada sarkas dalam spanduk lainnya.

Ratusan massa mulai dari yang tua dan muda menggeruduk balai desa untuk melihat proses rapat bersama Muspika, BPD, BUMDes dan dipimpin pejabat Plt Kepala Desa. Dalam rapat tersebut, warga meminta laporan keuangan BUMDes yang mengelola wisata Setigi, Kebun Pak Inggih dan usaha desa lainnya.
Di samping itu, bahkan warga juga meminta kejelasan dan transparansi gaji yang diterima komisaris BUMDes (Eks Kades Sekapuk Abdul Halim, red) sebesar Rp 19,500 juta perbulan. Kemudian keterbukaan informasi terkait dana hak inisiator sebesar Rp 364,8 Juta berupa saham di BUMDes.
Selain itu, warga juga meminta dasar hukum pembentukan wisata Setigi dan Kebun Pak Inggih. Massa juga mendesak laporan pertanggungjawaban pembangunan wisata Setigi dan Kebun Pak Inggih. Termasuk croascheck dana hutang BUMDes Sekapuk sebesar Rp 3 miliar di bank dan di masyarakat yang investasi sebesar Rp 6,5 miliar lebih.
Sehingga total hutang BUMDes diduga mencapai Rp 9,5 miliar. Sejumlah tuntutan warga itu dibacakan secara langsung oleh Asjudi, mantam Diresktur BUMDes Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah. Penyematan Desa Sekapuk sebagai Desa Miliarder sudah tidak relevan. “Ini namanya Desa Miliarder yang menanggung hutang,” kata Asjudi.
Tidak hanya transparansi, warga juga menuntut agar ikon patung Pak Inggih di wisata Kebun Pak Inggih dan patung Ki Begawam Setigi untuk dirobohkan. “Permintaan warga sesuai pernyataan mantan Pak Inggih yang mengizinkan patung Pak Inggih bisa dirobohkan setelah lengser,” cetusnya.
Setelah rapat secara memanas, menghasilkan kesepakatan bersama yang isinya dibacakan oleh Plt. Kades Sekapuk yaitu Ridloi. Yakni memusnahkan patung Ki Begawan yang ada di Wisata Setigi, memusnahkan patung ikon yang ada di Wisata Kebun Pak inggih dan menghilangkan nama Desa Miliarder yang ada di papan nama desa’.(kb04)








