KabarBaik.co, Surabaya – Upaya menekan angka kasus kanker stadium lanjut terus didorong melalui penguatan deteksi dini dan edukasi kepada masyarakat. Adi Husada Cancer Center (AHCC) menilai pencegahan dan pemeriksaan sejak awal perlu menjadi perhatian bersama, tidak hanya tenaga kesehatan, tetapi juga perusahaan, asuransi, komunitas, dan media.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan AHCC’s Partner Gathering: “Synergy in Care” bertema “Integrating Corporate, Insurance, Community and Media” yang digelar di Nusantara Ballroom, Grand Swiss-Belhotel Darmo, Surabaya, Rabu (26/8).
General Manager AHCC, dr. Silvia Haniwijaya, M.Kes, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemitraan sekaligus memperluas edukasi mengenai kanker, mulai dari pencegahan, deteksi dini hingga penanganan secara terpadu.
Menurut dia, perkembangan kasus kanker membuat edukasi kepada masyarakat semakin penting. Karena itu, AHCC ingin mendorong para mitra, termasuk perusahaan dan penyedia asuransi, turut menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat atau nasabah yang mereka layani.
“Harapannya masing-masing bisa membantu memberikan edukasi kepada orang-orang, terutama terkait kanker, pencegahan, deteksi dini, maupun pengobatannya,” ujar Silvia.
Ia menambahkan, sinergi antarpihak diharapkan dapat membangun ekosistem layanan kanker yang lebih terintegrasi, mudah diakses, inovatif, serta tetap menempatkan kebutuhan pasien sebagai perhatian utama.
Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah AHCC dr. Sahar Bawazeer, Sp.B, menyoroti masih ditemukannya pasien kanker yang datang dalam kondisi stadium lanjut. Salah satu penyebabnya adalah keterlambatan melakukan pemeriksaan atau screening.
Menurut Sahar, kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki peluang penanganan yang lebih baik dibandingkan ketika penyakit sudah berkembang atau menyebar.
“Deteksi dan tindakan pada stadium awal terbukti secara signifikan meningkatkan peluang kesembuhan serta jauh lebih efisien dari sisi biaya operatif dan klaim medis perusahaan,” katanya.
Ia mencontohkan kanker payudara. Pemeriksaan secara berkala, termasuk mamografi pada kelompok yang sesuai, dapat membantu menemukan kelainan lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang ke tahap yang lebih kompleks.
Sahar mengatakan screening juga berkaitan dengan efisiensi pembiayaan kesehatan. Ketika pasien datang pada stadium lanjut, penanganannya dapat membutuhkan perawatan yang lebih panjang, rawat inap, kemoterapi maupun terapi lain yang tentu berdampak terhadap biaya pengobatan.
“Kalau kita screening, kita bisa fokus pada pasien-pasien yang masih early sehingga pengobatannya tidak seperti pasien yang sudah stadium lanjut,” ujarnya.
Ia berharap edukasi dan program screening dapat terus diperluas. Menurut dia, akses terhadap fasilitas pemeriksaan, termasuk mamografi, kini semakin tersedia di berbagai rumah sakit sehingga tantangannya tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga kemauan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan.
Selain deteksi dini, Sahar menjelaskan perkembangan teknologi juga memungkinkan pemeriksaan jaringan dilakukan dengan metode yang lebih minimal invasif. Salah satunya vacuum-assisted breast biopsy (VABB) yang dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk membantu memperoleh sampel jaringan dengan pendekatan yang lebih minim tindakan dibandingkan prosedur bedah terbuka.
Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam menentukan karakteristik kanker dan membantu dokter memilih terapi yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
“Sekarang pengobatannya juga sudah semakin spesifik. Kita tidak bisa menyamakan semua pasien karena terapi harus disesuaikan dengan jenis dan karakteristik kankernya,” katanya.
Di sisi lain, Dokter Spesialis Radiologi dan Onkologi Radiasi AHCC dr. Lulus Handayani, Sp.Rad, Sp.Onk.Rad (K), menjelaskan perkembangan teknologi radioterapi memungkinkan pemberian radiasi dilakukan semakin presisi.
Ia meluruskan sejumlah persepsi masyarakat mengenai radioterapi, termasuk anggapan bahwa pasien yang menjalani terapi radiasi akan selalu mengalami pembatasan aktivitas yang berat.
Menurut Lulus, perencanaan radioterapi dilakukan secara terukur dengan menentukan area sasaran secara presisi. Proses tersebut menggunakan pencitraan dan sistem imobilisasi untuk membantu memastikan posisi pasien tetap sesuai dengan perencanaan selama terapi.
“Yang kita rencanakan dan yang kita jalani harus tepat. Titik yang sudah ditentukan harus tetap sesuai agar radiasi dapat diberikan secara presisi,” jelasnya.
Radioterapi, lanjut dia, dapat diberikan pada berbagai kondisi kanker, termasuk kanker payudara, bergantung pada stadium, hasil pemeriksaan, tindakan operasi, serta pertimbangan medis lainnya.
Pada kanker payudara stadium awal, misalnya, radioterapi dapat menjadi bagian dari rangkaian terapi setelah operasi pada pasien tertentu. Tujuannya untuk membantu mengendalikan risiko kembalinya sel kanker di area yang telah ditangani.
Karena itu, Lulus menekankan bahwa keputusan pemberian radioterapi tidak bisa disamaratakan. Setiap pasien harus menjalani evaluasi dan perencanaan berdasarkan kondisi masing-masing.
Melalui kegiatan “Synergy in Care”, AHCC berharap kolaborasi dengan korporasi, perusahaan asuransi, komunitas, dan media tidak berhenti pada hubungan kemitraan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk meningkatkan literasi kesehatan.
Edukasi mengenai kanker diharapkan membuat masyarakat tidak lagi menunggu munculnya keluhan berat untuk memeriksakan diri. Sebab, semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan pilihan penanganan yang tepat sejak awal. (*)







