KabarBaik.co, Nganjuk – Kehadiran praktisi parenting dan neuroscience nasional, dr. Aisyah Dahlan, di Pendopo Kabupaten Nganjuk membawa warna baru bagi dunia pendidikan di Bumi Anjuk Ladang.
Dalam seminar parenting modern tersebut, dr. Aisyah mengupas tuntas rahasia mendidik anak berdasarkan cara kerja otak dengan pembawaan yang hangat, jenaka, dan penuh kedekatan di hadapan Bupati Nganjuk Kang Marhaen Djumadi, Ketua TP PKK Wahyuni Marhaen, jajaran Forkopimda, serta ratusan guru BK dan wali murid.
“Banyak sekali yang mengira suami saya bernama Pak Dahlan. Nama suami saya sebenarnya adalah Dr. Prianto Sismadi,” ujarnya, Rabu (26/8)
Kehadiran dr. Aisyah ini menjadi momen istimewa karena ia akhirnya dapat menyapa masyarakat Nganjuk secara langsung setelah sebelumnya hanya bertatap muka secara virtual di masa pandemi.
Suasana pendopo pun hangat dipenuhi tawa saat ia memperkenalkan keluarga serta kelima anaknya kepada para audiens.
“Zaman dulu, kalau televisi atau radio kita rusak, cukup dipukul langsung benar kembali. Namun, teknologi sekarang menggunakan pendekatan soft touch (sentuhan lembut). Sama halnya dengan anak-anak zaman sekarang, mereka tidak bisa lagi dididik dengan kekerasan fisik, melainkan harus dengan pola asuh soft touch penuh kelembutan,” jelasnya.
Dalam pemaparan materi sains populernya, lulusan kedokteran ini membeberkan bahwa anak-anak generasi digital yang lahir tahun 2000-an ke atas dibekali sekitar 100 miliar sel otak (neuron) yang sanggup mengakses data secara cepat.
Oleh karena itu, pendekatan pengasuhan yang relevan dengan perkembangan zaman dan teknologi menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan anak masa kini.
“Jika anak datang dalam kondisi kesal atau sedih, sekolah bisa menghiburnya dulu melalui tadarus bersama, bernyanyi, atau bermain musik sederhana dengan memukul kaleng menggunakan sumpit kayu. Gerakan fisik dan irama ini terbukti sangat bagus menaikkan emosi gembira anak di otak mereka,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Aisyah memaparkan bahwa informasi yang diserap otak anak diproses melalui zat perekat bernama neurotransmitter, di mana kualitas zat tersebut dipengaruhi oleh nutrisi, situasi, dan emosi. Ia bahkan secara khusus memuji kelezatan pecel Nganjuk sebagai sarapan bergizi tinggi, serta menekankan pentingnya guru mencairkan emosi negatif siswa sebelum pelajaran dimulai.
“Sangat wajar jika anak laki-laki usia dini sangat aktif bergerak, lari-larian, dan suka berimajinasi meniru pahlawan super setelah menonton TV. Itulah mengapa, untuk menyelamatkan perkembangan mental anak laki-laki dari kurikulum sekolah modern yang sangat padat, idealnya mereka baru mulai masuk sekolah dasar di usia 7 tahun ke atas,” terang dr. Aisyah.
Sesi berlanjut ke pembahasan anatomi otak, di mana dr. Aisyah menerangkan perbedaan perkembangan belahan otak pada anak laki-laki dan perempuan.
Melalui seminar interaktif ini, ia berharap para guru dan orang tua di Nganjuk dapat terus menerapkan ilmu pengasuhan positif agar tercipta hubungan keluarga yang harmonis serta mendukung keunikan potensi setiap anak.






