KabarBaik.co, Mataram— Dinas Perhubungan NTB mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi lonjakan angkutan ternak menjelang Idul Adha yang diperkirakan terjadi pada Mei mendatang.
Kepala Dinas Perhubungan NTB Ervan Anwar mengatakan salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pembentukan satgas guna mengurai potensi penumpukan kendaraan pengangkut ternak di area pelabuhan.
“Satgas ini dibentuk untuk memastikan pengaturan berjalan optimal di lapangan. Kami sudah berkoordinasi dengan asosiasi peternak dan instansi terkait agar proses distribusi ternak dapat berjalan lancar dan terukur,” ujar Ervan, Rabu (8/4).
Selain pembentukan Satgas, Dishub NTB juga memperluas buffer zone atau area penyangga parkir di sekitar pelabuhan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan yang biasanya meningkat signifikan menjelang hari raya kurban.
“Buffer zone kita siapkan lebih luas agar kendaraan tidak menumpuk di dalam pelabuhan. Ini bagian dari mitigasi kemacetan yang kerap terjadi setiap tahun,” jelasnya.
Dari sisi hulu, pengaturan distribusi ternak diperkuat melalui koordinasi dengan dinas peternakan.
Pengiriman ternak dari wilayah sentra seperti Bima dan Sumbawa akan diatur secara bertahap menyesuaikan kondisi di pelabuhan.
“Kalau dari hulunya sudah diatur, kami optimistis tidak terjadi kemacetan. Pengendalian dilakukan sejak dari daerah asal ternak,” tambahnya.
Untuk mendukung kelancaran arus logistik, Dishub NTB juga mengoptimalkan fasilitas pelabuhan dengan rencana penambahan dermaga operasional. Saat ini tersedia dua dermaga, dan tengah diusulkan menjadi tiga dermaga melalui koordinasi dengan ASDP Indonesia Ferry selaku pengelola pelabuhan Kayangan–Poto Tano.
Selain itu, alternatif distribusi melalui program tol laut juga dimaksimalkan. Kapal tol laut dengan kapasitas hingga 500 ekor ternak per perjalanan disiapkan untuk mempercepat pengiriman ke Pulau Jawa.
Dishub NTB juga mendorong deviasi rute pengangkutan dari Bima menuju Pelabuhan Tanjung Perak, menggantikan rute sebelumnya ke Pelabuhan Tanjung Priok. Perubahan ini dinilai mampu mempercepat waktu tempuh distribusi ternak dari NTB ke Jawa.
“Kami mendorong deviasi jalur agar distribusi lebih cepat dan efisien,” ungkap Ervan.
Lebih lanjut, Dishub NTB juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat serta pemilik kapal terkait kesiapan armada, termasuk perpanjangan masa docking kapal khusus ternak guna menjamin aspek keselamatan operasional. (*)







