KabarBaik.co – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jakarta Pusat melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri, Jawa Timur, Sabtu (18/10). Agenda ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan forum berbagi pengalaman sekaligus memperkuat sinergi antarwilayah dalam mengelola masjid agar semakin makmur dan berdaya bagi umat.
Rombongan yang dipimpin Ketua DMI Jakarta Pusat KH. Syawaluddin Hidayat disambut hangat oleh Ketua DMI Kota Kediri KH. Abu Bakar Abdul Jalil bersama pengasuh pondok, KH. Sunarto. Suasana keakraban tampak sejak awal pertemuan, mencerminkan semangat ukhuwah dan kolaborasi antarwilayah.
Dalam sambutannya, KH. Abu Bakar menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kunjungan tersebut. Menurutnya, momentum silaturahmi ini bukan hanya mempererat hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi wadah untuk saling berbagi praktik baik dalam upaya memakmurkan masjid.
“Kami dari DMI Kota Kediri mengucapkan selamat datang dan sugeng rawuh di Kota Kediri. DMI adalah wadah pembinaan takmir dan jamaah agar umat semakin rukun dan bersatu,” ujar KH. Abu Bakar.
Sementara itu, KH. Syawaluddin Hidayat menjelaskan kunjungan ke Kediri ini merupakan bentuk komitmen DMI Jakarta Pusat untuk belajar dari keberhasilan daerah lain dalam tata kelola masjid. Ia menilai manajemen masjid di Kediri patut menjadi inspirasi karena mampu berjalan efektif dan berdaya guna.
“Apa yang baik di Kediri bisa kami bawa ke Jakarta, begitu juga sebaliknya. Setiap daerah punya keunggulan masing-masing, tapi tujuannya satu: memakmurkan dan dimakmurkan masjid,” jelas Syawaluddin.
Rombongan DMI dan LDII Jakarta Pusat yang berjumlah 32 orang itu mengaku terkesan dengan sambutan yang begitu ramah dari pihak pondok.
“Kami datang satu bus bersama LDII Jakarta Pusat. Alhamdulillah, disambut luar biasa dengan kehangatan dan kekeluargaan. Ini bentuk ukhuwah yang nyata,” imbuhnya.
Dari pihak tuan rumah, KH. Sunarto menegaskan bahwa masjid memiliki peran sentral di lingkungan pesantren. Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid juga menjadi pusat pendidikan dan pembinaan karakter bagi santri.
“Masjid di pesantren adalah jantung kegiatan belajar mengajar. Kami senang bisa berbagi praktik pengelolaan, mulai dari kebersihan, dakwah, hingga pendidikan. Kami juga banyak belajar dari teman-teman Jakarta Pusat, terutama tentang kesejahteraan pengelola masjid,” tutur KH. Sunarto.
Kegiatan silaturahmi ditutup dengan ramah tamah dan doa bersama. Kedua pihak sepakat untuk terus memperkuat kerja sama demi mewujudkan visi besar DMI: menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat.
Silaturahmi ini menjadi bukti bahwa semangat belajar dan berbagi antarwilayah mampu memperkaya pengalaman, mempererat ukhuwah, dan menghadirkan masjid yang semakin berdaya bagi masyarakat. (*)






