Duka Jawa Tengah: Menanti Kepastian di Tengah Longsor Besar Cilacap dan Banjarnegara

oleh -381 Dilihat
BANJARNEGARA3
Tampak foto dari atas bukit yang longsor di wilayah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. (Foto BNPB)

KabarBaik.co- Wilayah Provinsi Jawa Tengah berpayung duka. Di waktu hampir bersamaan, Banjarnegara dan Cilacap diterjang longsor besar yang memisahkan keluarga, merenggut nyawa, dan memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka. Di dua kabupaten itu, para penyintas kini menjalani hari-hari panjang yang dipenuhi kecemasan, menunggu kabar dari orang-orang yang hingga kini belum kembali.

Di halaman Kantor Kecamatan Pandanarum, tenda-tenda pengungsian dipenuhi wajah-wajah letih. Sebagian duduk sambil memeluk selimut, sebagian lain memandangi bukit yang kini hanya menyisakan tanah runtuh dan batang-batang pohon patah. Dari kejauhan terdengar suara mesin alat berat dan teriakan tim SAR yang terus menyisir titik-titik yang diduga lokasi tertimbunnya warga.

“Berdasarkan update data per pukul 11.23 WIB, tercatat 876 jiwa mengungsi dan 27 orang diduga hilang,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarnegara, Raib Sekhudin, Senin (17/11) siang kepada awak media. “Operasi pencarian melibatkan BPBD, TNI, Polri, dan relawan. Kami terus berupaya secepat mungkin.”

Dua korban sudah ditemukan meninggal dunia, sementara 41 warga yang sempat menyelematikan diri ke hutan telah ditemukan selamat. Tetapi, bagi keluarga yang masih menunggu, setiap menit yang berlalu terasa seperti menahan napas panjang yang tak kunjung selesai.

Di posko logistik, para relawan sibuk menyiapkan makanan. Di sela kesibukan itu, Raib menambahkan, “Dapur umum, tenda darurat, dan logistik sudah disiapkan. Kami memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi selama masa tanggap darurat.”

Longsor di Banjarnegara terjadi setelah hujan lebat di kawasan Desa Situkung, Kecamatan Pandanarum, pada Sabtu (15/11), sekitar pukul 16.00 WIB. Curah hujan yang begitu tinggi dan kondisi tanah labil, diduga sebagai pemicu tebing sekitar longsor.

Sementara itu, duka juga datang dari arah Cilacap. Di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, keluarga korban berdiri dalam hujan, menunggu kabar dari tim SAR yang sejak pagi melanjutkan pencarian di antara tumpukan material longsoran besar. Namun sore hari, hujan deras memaksa operasi dihentikan lebih cepat.

“Operasi pencarian yang dimulai pukul 05.30 kami hentikan sementara karena hujan deras. Itu sangat membahayakan,” kata SAR Mission Coordinator, M. Abdullah.

Beberapa saat sebelumnya, tiga jenazah dari satu keluarga ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Penemuan itu membuat suasana di posko pencarian berubah hening. Isak terdengar dari sebuah sudut tenda ketika kantong jenazah diangkat satu per satu. Dengan tambahan tiga korban tersebut, total ada sebanyak 16 warga yang telah berpulang dan tujuh orang lainnya masih dalam pencarian.

Di tengah kabut yang turun di lereng bukit dan genangan air di tenda-tenda pengungsian, ada banyak cerita yang tertinggal. Ada anak-anak yang kehilangan tempat tidur mereka, ada keluarga yang kehilangan rumah dan orang-orang tercintanya, dan ada pula warga yang masih bertahan dengan harapan kecil agar nama yang mereka panggil kembali dijawab.

Jawa Tengah sedang berduka. Tetapi, dari setiap genggaman tangan warga, dari setiap relawan yang datang tanpa diminta, dari setiap doa yang dibacakan di tenda pengungsian, tampak kekuatan kecil yang menjaga mereka tetap berdiri tabah. Luka itu mungkin masih mendalam, tetapi harapan mesti tetap menyala di tengah reruntuhan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.