KabarBaik.co, Nganjuk – Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro menjadi narasumber utama dalam kegiatan Pembinaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) se-Kabupaten Nganjuk Tahun 2026. Kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat peran remaja dalam edukasi dan pencegahan HIV/AIDS ini menekankan posisi strategis generasi muda sebagai agen perubahan berbasis sebaya.
“Remaja adalah masa transisi dari anak menuju dewasa. Mereka merasa sudah bisa mandiri, egonya besar, dan rasa ingin tahunya sangat tinggi. Pada kondisi inilah remaja menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap HIV/AIDS,” jelas Mas Handy sapaan akrab Wabup Nganjuk, Jumat (27/2)
Menurutnya, karakteristik remaja sebagai kelompok usia transisi membuat mereka tidak hanya rentan terhadap risiko, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menyebarkan informasi yang benar kepada teman seusianya. Pendekatan edukasi sebaya melalui PIK-R dan Forum Genre dinilai jauh lebih efektif karena pesan lebih mudah diterima.
“Remaja merupakan agen perubahan yang paling efektif di antara teman sebaya. Mereka punya potensi besar untuk menyebarkan informasi yang benar dan menghilangkan stigma,” tegasnya menekankan pentingnya peran remaja
Selain itu, Mas Handy juga mengingatkan akan dampak arus informasi yang deras di media sosial, sehingga literasi digital menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Remaja harus mampu memfilter dan menyebarkan konten yang akurat dan dapat dipercaya.
“Kalau menyebarkan informasi apa pun, pastikan itu benar dan bersumber jelas. Media sosial bisa menjadi alat edukasi yang sangat kuat, tetapi juga berbahaya jika isinya keliru,” ungkap mas Handy
Ia juga mendorong remaja agar memiliki tujuan hidup dan perencanaan masa depan yang jelas, karena hal tersebut menjadi benteng yang kuat dari perilaku berisiko seperti penyalahgunaan narkoba atau seks bebas.
“Ketika seseorang punya tujuan dan rencana hidup, energinya akan habis untuk mengejar cita-cita. Ia tidak akan sempat berpikir ke hal-hal negatif seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas, atau perilaku berisiko lainnya,” tandasnya.
Mas Handy menyoroti masih tingginya tantangan yang dihadapi remaja di Kabupaten Nganjuk, termasuk pernikahan dini dan minimnya pemahaman tentang HIV/AIDS, yang membuat peran PIK-R sangat krusial.
“Remaja adalah kunci, bagian dari solusi, bukan sekadar bagian dari masalah. Jika diedukasi dengan benar, mereka punya kekuatan besar untuk mengubah masa depan,” pungkasnya.
Melalui pembinaan ini, ia berharap para pengurus PIK-R, Forum Genre, dan Duta Genre mampu menjadi ujung tombak edukasi sebaya di sekolah dan masyarakat, serta berkontribusi dalam mewujudkan target Kabupaten Nganjuk menuju generasi sehat, berencana, dan bebas penularan HIV/AIDS pada tahun 2030. (*)








