Ekspor CPO Melonjak, Kementan Dorong Hilirisasi untuk Energi hingga Nilai Tambah

oleh -727 Dilihat
Petani sawit Indonesia. Sawit adalah bahan baku utama CPO.
Petani sawit Indonesia. Sawit adalah bahan baku utama CPO.

KabarBaik.co, Jakarta – Kinerja ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia menunjukkan tren positif pada awal 2026. Di saat yang sama, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menegaskan pentingnya hilirisasi sawit sebagai strategi utama memperkuat ekonomi nasional hingga kemandirian energi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 mencapai 4,69 miliar dollar AS, meningkat 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,71 miliar dollar AS.

“Kinerja ekspor komoditas unggulan selama bulan Januari-Februari tahun 2026, antara lain nilai ekspor CPO dan turunannya naik cukup tinggi yaitu sebesar 26,40 persen secara kumulatif,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam rilis resmi, Rabu (1/4).

Tak hanya dari sisi nilai, volume ekspor juga meningkat signifikan dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton. Kenaikan ini turut menopang kinerja ekspor nonmigas nasional yang tumbuh 2,82 persen secara tahunan (year on year) menjadi 42,35 miliar dollar AS.

Ateng menambahkan, sektor industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor. “Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari sampai dengan Februari tahun 2026 dengan andilnya sebesar 5,36 persen,” ucapnya.

Selain sawit, komoditas lain seperti nikel, kendaraan bermotor, hingga produk elektronik juga berkontribusi terhadap penguatan ekspor.

Hilirisasi Jadi Kunci Strategis

Sejalan dengan tren positif tersebut, Kementerian Pertanian menekankan bahwa penguatan hilirisasi sawit menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menyebut Indonesia memiliki peluang besar karena menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia.

“Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi CPO adalah langkah konkret untuk mentransformasi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen utama produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan pasar global,” ujar Moch. Arief.

Menurut dia, pengolahan CPO menjadi produk turunan seperti pangan, kosmetik, oleokimia, hingga bioenergi akan memperkuat daya saing industri sekaligus ketahanan ekonomi nasional.

“Dengan penguasaan lebih dari 60 persen pasar CPO dunia, Indonesia memiliki leverage besar dalam menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit global,” tegasnya.

Tekan Impor Solar hingga Dorong Biodiesel

Hilirisasi juga dinilai berperan penting dalam mendorong kemandirian energi, salah satunya melalui pengembangan biodiesel B50.

“Pemanfaatan biofuel sawit secara optimal berpotensi menggantikan impor solar secara signifikan. Bahkan, dengan implementasi penuh B50, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor solar dan mampu memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya dalam negeri,” jelasnya.

Pemerintah memperkirakan implementasi B50 membutuhkan sekitar 5,3 juta ton CPO, yang dapat dialihkan dari ekspor untuk diolah menjadi bahan bakar nabati.

Dampak ke Ekonomi dan Petani

Kinerja sektor sawit nasional juga menunjukkan tren positif. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia mencatat produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, naik 7,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi perdagangan, ekspor produk sawit mencapai 32,34 juta ton dengan nilai 35,87 miliar dollar AS. Kenaikan ini turut mendorong kesejahteraan petani, tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,45 pada Februari 2026.

Kementan juga mencatat hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah produk sawit hingga 3–10 kali lipat, bahkan lebih dari 30 kali lipat untuk produk tertentu seperti oleokimia dan vitamin E.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya hilirisasi untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan. Dan ini harus terus kita dorong hilirisasinya,” ungkap Mentan Amran.

Peran Strategis Indonesia di Pasar Global

Kementan menilai, dengan kekuatan pada komoditas strategis seperti sawit dan beras, Indonesia kini tidak hanya menjadi pelaku pasar, tetapi juga mulai memengaruhi dinamika global.

Hilirisasi dinilai tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai ekonomi dalam negeri, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kebijakan hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merupakan bagian dari strategi besar pembangunan nasional berbasis pertanian. Nilai tambah tertinggi berada di hilir, dan di situlah Indonesia harus mengambil peran utama,” pungkasnya.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.