Emak-Emak NU dan Ziarah Sunyi: Satu Abad Mengawal Indonesia

oleh -259 Dilihat
HUD KI JATIM

SELEPAS ziarah ke Talango, Kalianget, sore itu saya melanjutkan ke makam Joko Tole. Masih di Sumenep, Madura. Anda pasti sudah tahu nama itu. Termasuk mungkin cerita-ceritanya. Mulai soal Majapahit hingga saudaranya yang disebut juga punya andil dalam sejarah peradaban Gresik.

Jalan menuju pesareannya terasa lengang. Di beberapa titik, aspalnya sempit. Hanya cukup dilalui satu mobil. Jika dua kendaraan berpapasan, salah satunya wajib mengalah. Menepi dulu, masuk sedikit ke tanah atau rerumputan di pinggir jalan. Kalaupun ada.

Di kiri-kanan, kebun dan rumah-rumah sederhana berdiri tanpa pagar tinggi. Sesekali pepohonan hutan. Masih lumayan lebat. Angin berembus pelan, membawa bau tanah dan dedaunan kering. Tak ada baliho besar. Tak ada penunjuk arah mencolok. Kalau bukan karena niat, mungkin orang tak akan sengaja datang ke tempat ini.

Sekilas, makam itu tampak sunyi. Jauh dari kesan tempat wisata religi mainstream yang selalu ramai. Semisal Walisongo itu. Tapi, begitu saya mendekat ke pelatarannya, suasananya berbeda. Kebetulan, ada dua Kuda jantan. Tampak gagah. Mereka sedang dilatih pawangnya. Menggerakkan kaki seperti baris-berbaris itu. Juga, menggeleng-gelengkan kepala, seolah kita berzikir.

Saat masuk ke dekat makam Joko Tole, masih sepi. Saya dan seorang teman pun berdoa dan mendoakan. Tidak lama. Beberapa waktu kemudian, emak-emak berkerudung hijau datang. Menggantikan kami. Mereka duduk melingkar. Ada yang membawa tas kain berisi bekal, ada yang menenteng botol air mineral. Sebagian melafalkan tahlil pelan, sebagian lagi menunggu sambil mengobrol ringan dengan logat Madura yang kental.

Rombongan ibu-ibu Nahdlatul Ulama (NU). Datang jauh-jauh hanya untuk ziarah. Tak ada seremoni. Tak ada pengeras suara. Tak ada dokumentasi mewah. Hanya doa-doa lirih, bacaan Yasin, dan wajah-wajah tulus yang berharap berkah.

Sederhana sekali. Tapi justru di situlah terasa hangat. Saya memandangi mereka. Cukup lama. Ada yang sudah sepuh, jalannya pelan sambil berpegangan tangan. Ada yang masih muda, mungkin baru pulang mengantar anak sekolah. Mereka tertawa kecil, berbagi makanan, lalu kembali khusyuk berdoa.

Di tengah kesunyian tempat itu, saya tiba-tiba merasa sedang melihat wajah NU yang sebenarnya. Bukan NU yang ada di layar televisi. Bukan NU di forum-forum besar atau panggung megah.

Tapi NU yang hidup di kampung-kampung. NU yang bernapas lewat tradisi. NU yang dijaga oleh orang-orang sederhana.

Dan mungkin, dari langkah-langkah kecil seperti itulah, organisasi ini bisa terus bertahan. Hari ini, 31 Januari 2026, Nahdlatul Ulama genap berusia 100 tahun. Satu abad.

Waktu yang panjang untuk sebuah organisasi kemasyarakatan. Sejak didirikan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari pada 1926, NU telah melewati begitu banyak zaman. Penjajahan, perang kemerdekaan, gejolak politik, krisis ekonomi, hingga era digital hari ini. Digencet, mendorong motor mogok kemudian ditinggal, di-bully di medsos, dan cerita-cerita lainnya.

Namun ada satu hal yang tak pernah berubah. NU selalu dekat dengan rakyat kecil. Di desa-desa, NU hidup lewat langgar dan musala. Lewat suara anak-anak mengaji selepas Asar atau magrib. Lewat tahlilan, yasinan, dan salawatan. Lewat ibu-ibu muslimat yang setia menggelar pengajian. Lewat kiai kampung yang mengajar tanpa pamrih.

NU tidak tumbuh dari gedung tinggi. Kantor berpendingin udara. Ia tumbuh dari tikar pandan, ataupun karpet lusuh, dari teras rumah, dari pesantren sederhana.

Barangkali itu salah satu sebabnya NU kuat. Akarnya menancap dalam, walaupun kadang elite gegeran.

Sejarah mencatat, NU bukan hanya mengurus urusan ibadah. Para kiai dan santri juga ikut mengawal Republik ini. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa cinta tanah air bukan sekadar slogan, melainkan panggilan iman. Agama dan kebangsaan berjalan beriringan. Islam dan Indonesia tidak dipertentangkan.

Kini, di usia satu abad, NU kembali mengingatkan perannya lewat tema besar Harlah: Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia.

Tema itu mungkin terdengar besar. Tinggi. Agak berat. Tapi ketika saya teringat emak-emak yang berziarah di jalan sempit menuju makam Joko Tole itu, maknanya jadi terasa sangat sederhana.

Mengawal Indonesia merdeka, mungkin artinya menjaga agar kampung tetap rukun. Tidak mudah bertengkar hanya karena beda pilihan. Tetap, sambung rasa, gotong royong ketika tetangga kesusahan. Tetap mengaji anak-anak, walaupun hidup pas-pasan. Bahkan, mungkin kekurangan.

Dan peradaban mulia, mungkin bukan soal gedung megah atau teknologi canggih semata, tapi soal akhlak. Soal sopan santun. Soal adab. Soal saling menghormati. Soal doa-doa tulus yang dipanjatkan tanpa pamrih.

Peradaban dibangun dari karakter manusia, bukan hanya pembangunan fisik. Apa gunanya jalan lebar kalau hati sempit? Apa gunanya kota modern kalau warganya mudah saling membenci?

NU, lewat tradisi-tradisi kecilnya, diam-diam sedang merawat fondasi tersebut.

Ziarah, tahlil, pengajian, sedekah, gotong royong, semua itu mungkin tampak sepele. Tapi, dari situlah lahir rasa kebersamaan, rasa hormat pada leluhur, dan kesadaran bahwa hidup tak hanya tentang diri sendiri.

Seratus tahun NU bukan sekadar angka. Ia adalah bukti kesetiaan. Kesetiaan pada agama. Kesetiaan pada tradisi. Dan, kesetiaan pada Indonesia.

Seperti emak-emak yang tetap datang ke makam wali meski jalannya sempit dan jauh dari keramaian, NU pun terus berjalan pelan tapi pasti. Tidak selalu gaduh, tapi konsisten. Tidak selalu terlihat, tapi terasa manfaatnya.

Barangkali memang begitulah cara NU mengawal negeri ini. Bukan dengan teriakan. Tapi dengan ketekunan. Bukan dengan sensasi. Tapi dengan istiqamah.

Dari jalan-jalan sempit di kampung, dari doa-doa pelan di makam wali, dari pengajian sederhana di teras rumah, peradaban itu pelan-pelan dibangun.

Dan di usia satu abad ini, NU seolah mengingatkan kita bahwa Indonesia yang mulia tidak lahir dari hal-hal besar saja, melainkan dari kebaikan-kebaikan kecil yang terus dirawat setiap hari. Seperti langkah para peziarah itu. Pelan. Sederhana. Tapi tak pernah berhenti. (*)

Penulis: M. Sholahuddin, tinggal di Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.