KabarBaik.co, Bojonegoro – Hujan yang mengguyur kawasan Alun-alun Kota Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan para pengunjung. Ruang terbuka hijau tersebut tergenang air di sejumlah titik, sehingga mengganggu aktivitas warga yang ingin berolahraga maupun bersantai bersama keluarga.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan pembuatan lubang resapan biopori di area alun-alun. Langkah ini dilakukan untuk mengendalikan limpasan air hujan sekaligus meminimalkan genangan.
Sejak beberapa hari terakhir, sejumlah petugas DLH Bojonegoro tampak disibukkan dengan proses pembuatan lubang resapan, terutama di titik-titik yang memiliki kontur tanah lebih rendah dibandingkan area lainnya di Alun-alun Bojonegoro.
Pembuatan lubang resapan biopori dilakukan dengan cara melubangi tanah secara vertikal, kemudian memasang pipa PVC berlubang yang diisi dengan sampah organik. Metode ini dinilai efektif untuk mempercepat peresapan air ke dalam tanah. Selain itu, keberadaan sampah organik di dalam lubang dapat memicu aktivitas biota tanah yang membantu membentuk pori-pori alami, sehingga daya serap tanah semakin meningkat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah perkotaan.
“Pemasangan biopori di alun-alun bertujuan untuk meningkatkan daya resap air hujan ke dalam tanah, sehingga dapat meminimalisasi potensi genangan di titik-titik keramaian. Selain itu, ini juga menjadi bentuk edukasi nyata bagi masyarakat mengenai pengolahan limbah dari hulu,” ujarnya, Jumat (27/2).
Ia menambahkan, sistem biopori memiliki manfaat ganda, salah satunya sebagai bentuk konservasi lingkungan yang mendukung ketersediaan udara bersih di kawasan perkotaan. Luluk berharap langkah serupa dapat direplikasi oleh instansi lain maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
Dengan adanya lubang resapan tersebut, Alun-Alun Bojonegoro diharapkan tetap nyaman digunakan masyarakat meski memasuki musim penghujan, sekaligus berfungsi optimal sebagai paru-paru kota secara ekologis. (*)







