KabarBaik.co, Batu – Kondisi pertanian apel di Kota Batu semakin memprihatinkan. Luasan lahan apel terus menyusut dari tahun ke tahun, berbanding lurus dengan penurunan produksi buah yang selama ini menjadi ikon daerah berjuluk Kota Apel tersebut.
Di tengah situasi itu, muncul varietas baru bernama Golden Analagi yang digadang-gadang menjadi harapan baru bagi kebangkitan apel lokal.
Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu mencatat, luas lahan apel mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, lahan apel masih mencapai 1.092 hektare. Namun pada 2023 menyusut menjadi 823,33 hektare, dan kembali turun menjadi 740,07 hektare pada 2024.
Penyusutan lahan tersebut berdampak langsung pada produksi apel. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, produksi apel pada 2022 mencapai 299.963 kuintal. Jumlah itu menurun menjadi 218.622 kuintal pada 2023 dan kembali merosot menjadi 140.285 kuintal pada 2024.
Artinya, dalam kurun dua tahun terakhir, produksi apel Kota Batu berkurang hingga 159.678 kuintal. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan komoditas yang telah lama menjadi identitas Kota Batu.
Di tengah gempuran apel impor yang semakin mendominasi pasar, seorang warga Kota Batu, Rudy Mardiyanto, memilih melakukan inovasi melalui riset pemuliaan tanaman. Selama tujuh tahun terakhir, sarjana pertanian sekaligus pakar komputer tersebut melakukan persilangan dua varietas apel legendaris Kota Batu, yakni Apel Anna dan Apel Manalagi.
Rudy menjelaskan penelitian tersebut berangkat dari keresahannya melihat varietas apel lama yang mulai rentan terhadap penyakit serta kurang mampu bersaing dengan produk impor.
“Tujuannya mencari titik temu, menghasilkan buah dengan tekstur renyah tapi tidak keras, rasa manis dengan asam yang pas, kandungan air banyak, kulit tebal agar tahan pengiriman jauh, dan tahan terhadap penyakit,” ujarnya, Minggu (14/6).
Menurutnya, Apel Manalagi yang selama ini dikenal luas memiliki tekstur terlalu keras, sementara Apel Anna meski berwarna menarik memiliki rasa cenderung masam dan daya simpan yang terbatas.
Ia menyebutkan, Golden Analagi hadir dengan karakter berbeda. Buah ini memiliki warna kuning keemasan yang menjadi perpaduan genetika antara Apel Manalagi dan Apel Anna. Selain tampil menarik, varietas ini juga diklaim memiliki cita rasa lebih seimbang dan ketahanan yang lebih baik.
Namun, menciptakan varietas baru bukan perkara mudah. Selama tujuh tahun penelitian, Rudy mengaku berkali-kali mengalami kegagalan.
“Ada yang bentuknya sudah mirip Manalagi, renyah, tapi rasanya tidak karuan. Itu artinya gagal. Kita coba lagi, silang lagi,” ungkap dia.
Menariknya, seluruh biaya penelitian dilakukan secara mandiri menggunakan dana pribadi. Bagi Rudy, inovasi menjadi kunci agar apel lokal tetap bertahan di tengah persaingan produk impor dan alih fungsi lahan pertanian.
Meski Golden Analagi telah dipanen sebanyak tiga kali dan mulai dipasarkan secara daring, varietas tersebut hingga kini belum didaftarkan dalam Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
Rudy mengaku masih mempertimbangkan biaya yang harus ditanggung setelah proses pendaftaran dilakukan. “Penelitian itu biayanya besar. Pasarnya belum tentu ada, tapi biaya administrasi tetap berjalan,” jelasnya.
Ia juga mengaku pernah menawarkan agar varietas tersebut dipatenkan atas nama Pemerintah Kota Batu melalui Distan-KP. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
Saat ini, Golden Analagi masih menjalani tahap pemurnian di lahan percobaan miliknya di Desa Tulungrejo dengan empat pohon induk. Tahun depan, ia menargetkan perbanyakan bibit di lahan Desa Sumberbrantas sebelum nantinya diperluas kepada petani.
Bagi Rudy, perjuangan menghadirkan varietas baru bukan sekadar menghasilkan buah unggulan, melainkan menjaga identitas Kota Batu sebagai Kota Apel.
“Kalau kita tidak berinovasi, siapa yang mau berjuang? Kita butuh pembeda agar apel lokal tidak kalah telak dengan produk impor,” tegasnya.
Kini, di bawah langit Bumiaji, Golden Analagi tengah bersiap menjadi simbol kebangkitan apel lokal. Bukan sekadar buah baru, tetapi juga harapan agar kejayaan apel Kota Batu tetap lestari di tengah tantangan zaman. (*)






