Gusdurian Peduli, Kawal Biksu Thudong dari Bali hingga Jogja

oleh -160 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 21 at 2.10.04 PM
Gusdurian peduli memberikan pelayanan kesehatan memijat kaki dan pendampingan penuh bagi para Bhante dalam perjalanan suci mereka. (Ist)

KabarBaik.co, Nganjuk — Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong atau Klenteng Sukomoro, Nganjuk menjadi saksi bisu kehangatan toleransi di tanah air. Di tengah riuhnya penyambutan ritual Thudong, tampak para relawan dari Gusdurian Peduli yang setia berjaga.

Bukan sekadar hadir, mereka mengemban misi kemanusiaan yang besar, yaitu mengawal kondisi medis para Biksu (Bhante) yang tengah berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur.

“Ini kita mengawal Biksu Thudong, Dalam artian, kita dari Gusdurian Peduli. Memang mempunyai misi untuk mengawal dari Bali sampai ke Borobudur, dalam hal medis mereka. Dalam artian, kita sediakan ambulans, rawat, sama yang, yang ngemudi ambulansnya,” ujar Christianto Wibowo, relawan Gusdurian Peduli Lereng Kelud di Klenteng Sukomoro, Kamis (21/5)

Aksi sigap para relawan ini mencakup penanganan medis darurat di setiap titik peristirahatan. Beruntung, kerja keras tim ambulans utama ini juga terbantu oleh jejaring komunitas lokal di sepanjang rute yang dilewati. Mulai dari Banyuwangi hingga nanti tiba di Jogja, para Gusdurian lokal siap menyambut dan menyambung estafet kepedulian tersebut.

“Betul, jadi mulai pengobatan, misalnya kaki ada yang sobek dan segala macam. Sedangkan di setiap daerah, mulai dari Banyuwangi sampai, sampai nanti ke Jogja, Gusdurian – Gusdurian lokal, di setiap daerah itu nanti ikut membantu,” lanjut Christianto menjelaskan bagaimana sistem pengawalan medis ini bekerja secara sinergis.

Bagi Gusdurian, keterlibatan dalam mengawal perjalanan spiritual para Bhante ini bukan sekadar urusan medis atau kesehatan fisik semata. Ada nilai mendalam yang melandasi gerakan ini, yaitu merawat kemajemukan bangsa.

Misi ini menjadi ruang nyata untuk mengenalkan kembali esensi dari kerukunan beragama tanpa memandang latar belakang primordial.

“Jadi gini. Salah satu nilai dari Gusdurian yang kita amalkan itu adanya toleransi, pluralisme. Entah itu suku, agama, atau apa pun, kita enggak mandang itu. Yang jelas, dari sini kita bisa mengenalkan bahwa misi kita itu saling menghargai antar umat beragama. Itu salah satunya itu,” tegas Christianto mengenai nilai fundamental yang mereka bawa.

Perjalanan panjang yang menguras fisik ini tentu tidak mudah. Namun, Christian mengaku sangat terharu melihat bagaimana masyarakat di sepanjang jalan, seperti di daerah Jombang, menyambut para Bhante dengan sukacita yang luar biasa. Baginya, fenomena ini adalah potret indah bahwa Indonesia yang ramah dan toleran itu masih ada dan sangat terasa.

“Masyarakat kita itu bener-bener euforianya itu gede. Jadi memang, saya enggak nyangka banget gitu. Selama perjalanan itu disambut mulai dari kanan kiri anak SD, SMP, SMA keluar semua. rasanya kayak trenyuh gitu. Ternyata walaupun berbeda, tapi kita semua masih bisa saling menghargai,” ungkapnya menahan haru.

Meski sempat ada beberapa insiden kecil di mana Bhante mengalami kelelahan atau sesak napas akibat faktor cuaca, Christianto bersyukur semuanya bisa ditangani dengan cepat berkat kesiapan unit ambulans.

Komitmen untuk mengawal jalannya ritual Thudong ini akan terus dijaga sebagai bentuk nyata mengamalkan warisan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang kemanusiaan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.