KabarBaik.co, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro akan memperkuat sektor pangan di tengah ancaman krisis ekonomi global dan dampak perubahan iklim. Langkah strategis ini dibahas dalam rapat koordinasi evaluasi yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro di Pendopo Malowopati, Senin (16/3).
Dalam rapat tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, menegaskan bahwa pihaknya akan memaksimalkan perlindungan lahan sawah. Pemkab menargetkan hingga 87 persen lahan sawah di Bojonegoro masuk dalam skema Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Menurut Nurul, langkah ini menjadi strategi penting menghadapi gejolak ekonomi dunia. Fluktuasi harga BBM global diperkirakan akan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok sekaligus menekan daya beli masyarakat. Dalam kondisi tersebut, sektor pangan dinilai menjadi penopang utama stabilitas ekonomi daerah.
“Ketahanan pangan bisa menjadi penyelamat ekonomi masyarakat. Karena itu kita harus memastikan lahan pertanian tetap terlindungi,” ujar Nurul.
Saat ini, luas sawah yang telah masuk dalam perlindungan LP2B di Bojonegoro baru sekitar 43.000 hektare. Sementara pemerintah pusat menargetkan 93.000 hektare lahan sawah terlindungi di wilayah ini.
Nurul menilai target tersebut menuntut kerja keras seluruh pihak. Pemerintah daerah harus meningkatkan luas lahan yang dilindungi lebih dari dua kali lipat sekaligus memastikan kesesuaian data di lapangan dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang proses sinkronisasinya akan dimulai pada April mendatang.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut masa depan masyarakat Bojonegoro. Data di lapangan harus benar-benar sinkron dengan rencana tata ruang,” tegasnya.
Untuk memastikan akurasi data pertanian, Pemkab mengerahkan 235 Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) melakukan geotagging terhadap sekitar 270.000 petani di seluruh wilayah Bojonegoro. Nurul juga meminta seluruh aparatur dan tenaga lapangan bekerja maksimal demi memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Jangan ada sekat antara pusat dan daerah. Bapak Ibu lahir dan bekerja di Bojonegoro, maka kontribusinya harus untuk memperkuat pangan masyarakat Bojonegoro,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, mengingatkan bahwa tantangan sektor pertanian ke depan tidak ringan. Ia menyoroti potensi kekeringan saat puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juni mendatang.
Karena itu, Zaenal meminta para PPL aktif mengedukasi petani agar menyesuaikan pilihan komoditas tanam dengan ketersediaan air di wilayah masing-masing. Selain perlindungan lahan, Pemkab juga mulai menjajaki efisiensi biaya produksi pertanian melalui program elektrifikasi. Penggunaan pompa air bertenaga listrik dinilai lebih hemat dibandingkan mesin diesel yang masih bergantung pada BBM. (*)







