KabarBaik.co, Bojonegoro – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memastikan distribusi LPG subsidi 3 kilogram di wilayah Jawa Timur tetap berjalan lancar. Perusahaan juga melakukan pemantauan secara intensif guna memastikan kebutuhan energi masyarakat, khususnya rumah tangga dan pelaku usaha mikro, tetap terpenuhi.
Sebagai upaya menjaga ketersediaan LPG bersubsidi, Pertamina menyalurkan tambahan pasokan sepanjang Maret 2026 melalui mekanisme fakultatif dan ekstradropping. Total tambahan pasokan mencapai 10 persen atau sebanyak 3.657.666 tabung LPG 3 kilogram di wilayah Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bojonegoro.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi peningkatan kebutuhan masyarakat, terutama menjelang hari raya, sekaligus memastikan LPG bersubsidi tetap tersedia sesuai peruntukannya.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan, selain menambah pasokan, pihaknya juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait, serta lembaga penyalur resmi agar distribusi LPG berjalan lancar hingga tingkat pangkalan.
“Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus secara rutin menyalurkan LPG 3 kilogram sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah. Kami juga melakukan pemantauan distribusi secara berkala agar pasokan tetap tersedia bagi masyarakat,” ujar Ahad, Senin (16/3).
Selain itu, Pertamina juga melakukan peninjauan langsung di lapangan untuk memantau penyaluran LPG 3 kilogram kepada masyarakat. Pengawasan ini dilakukan guna memastikan distribusi berjalan sesuai ketentuan, termasuk penerapan harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pangkalan.
Namun di lapangan, sejumlah pangkalan di Kabupaten Bojonegoro dilaporkan masih mengalami kelangkaan LPG bersubsidi menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Salah satu pemilik pangkalan di Kecamatan Kapas mengaku stok LPG 3 kilogram di tempatnya kosong sejak sepekan terakhir. Ia menyebut jumlah kiriman yang diterima dalam beberapa waktu terakhir juga mengalami penurunan.
“Biasanya dalam satu kiriman kami masih mendapat sekitar 100 tabung. Tapi beberapa kiriman terakhir hanya dapat 50 tabung, dan sekarang belum ada kiriman lagi,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Nikmatul Khoiriyah, pedagang kelontong sekaligus pengecer di Kecamatan Ngraho. Ia mengaku kelangkaan gas melon mulai dirasakan sejak awal Ramadan hingga saat ini.
Menurutnya, selain sulit didapat, harga LPG 3 kilogram juga mulai merangkak naik di tingkat pengecer. Saat ini ia menjual LPG 3 kilogram seharga Rp 25 ribu per tabung, dari harga pembelian sekitar Rp 21 ribu dari sales. “Biasanya saya ambil dari sales. Tapi sekarang pasokan dibatasi. Saya punya sepuluh tabung, tapi hanya diberi dua tabung saja,” katanya.
Dari informasi yang ia terima, pembatasan pengiriman menjadi salah satu penyebab kelangkaan tersebut. Hingga kini, belum ada kepastian kapan distribusi LPG bersubsidi di wilayah tersebut akan kembali normal. (*)






