KabarBaik.co, Malang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan kaldera Gunung Bromo terus meluas. Hingga saat ini, luas area yang terdampak mencapai sekitar 120 hektare, sementara upaya pemadaman masih terkendala medan yang sulit dijangkau.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta, mengatakan sebagian besar titik api berada di lereng dan punggungan bukit. Kondisi tersebut membuat petugas kesulitan melakukan pemadaman melalui jalur darat.
“Sudah 120 hektare terdampak kebakaran. Kesulitan selama ini, titik api berada di punggungan bukit. Sulit untuk dijangkau darat,” ujarnya, lewat selulernya, Jumat (7/8).
Berdasarkan hasil identifikasi sementara, sumber api diduga berasal dari aktivitas manusia. Dugaan itu menguat karena lokasi awal munculnya api berada di jalur tradisional yang masih digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
Rudijanta menjelaskan jalur tersebut memang tidak banyak dilalui wisatawan. Namun, akses tersebut masih dimanfaatkan warga sebagai jalur penghubung dari kawasan Argosari menuju Ranu Pani.
“Dilewati masyarakat, karena itu jalur tradisional masyarakat daerah Argosari ke arah Ranu Pani,” jelasnya.
Ia menegaskan cuaca kemarau bukan menjadi penyebab munculnya kebakaran. Namun, kondisi vegetasi yang mengering akibat musim kemarau membuat api dengan cepat merambat dan memperluas area yang terbakar.
“Kalau cuaca itu membuat api membesar, merambat. Tetapi kalau sumber api bukan karena cuaca,” tandasnya.
Petugas gabungan hingga kini masih terus melakukan upaya pemadaman dan pemantauan di sejumlah titik guna mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (*)






