KabarBaik.co – Menjelang Natal dan Tahun baru (Nataru), harga cabai dan sejumlah sayuran di Pasar Porong, Sidoarjo, melonjak tajam dalam sepekan terakhir.
Untuk cabai rawit kualitas baik, harganya bahkan menembus Rp 100.000 per kilogram. Lonjakan ini membuat pedagang terpaksa mengurangi pembelian partai besar (kulakan), Senin (8/12).
Irma, pedagang cabai di Pasar Porong, mengatakan bahwa cabai rawit kualitas baik terus merangkak naik. Dari sebelumnya Rp 95.000 per kilogram, kini sudah tembus Rp 100.000.
“Sudah lima hari ini harganya naik 5 ribu, sekarang harga jualnya sudah seratus ribu perkilonya,” ujar Irma.
Bukan hanya cabai rawit, cabai merah besar juga ikut naik cukup signifikan. Di tingkat pedagang, harganya kini mencapai Rp 50.000 per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp 34.000–Rp 35.000. Kondisi ini memaksa pedagang mengurangi jumlah kulakan.
“Biasanya saya mengambil 15 sampai 35 kilogram cabai rawit per hari, sekarang cuma berani membeli sekitar 5 kilogram saja. Takut nggak laku, yang ada malah rugi karena cabainya busuk,” keluh Irma.
Hal senada disampaikan Santi, pedagang cabai lainnya. Menurutnya, lonjakan harga membuat daya beli masyarakat turun drastis.
“Pembelian turun banyak. Biasanya langganan kalau belanja bisa sampai setengah sampai satu kilo, sekarang cuma ambil hitungan ons saja,” jelasnya.
Ida menyebut banyak pembeli mulai beralih ke cabai kering atau cabai kualitas rendah yang harganya lebih terjangkau.
“Banyak yang bilang lebih baik beli cabai kualitas rendah atau cabai kering. Katanya selisih harganya jauh,” tambahnya.
Ulfa, penjual Seblak di wilayah jabon, juga merasakan dampaknya. Ia terpaksa mengganti cabai segar dengan cabai kering demi menekan biaya jual daganganya.
“Harga cabai segar sudah terlalu tinggi. Dari pada rugi, ya terpaksa pakai cabai kering, harganya masih 35 sampai 45 ribu perkilonya,” ungkap Ulfa.
Kenaikan harga bukan hanya terjadi pada cabai. Wortel kini naik dari Rp 15.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram, sementara bawang merah merangkak dari Rp 40.000 menjadi Rp 55.000 per kilogram.
Para pedagang memperkirakan lonjakan harga jelang Tahun Baru ini dipicu kondisi cuaca buruk yang melanda banyak wilayah di Jawa Timur, sehingga pasokan dari petani berkurang.(*)







