Harga Emas Melonjak, Pedagang Pasar Pucang Anom Surabaya Keluhkan Sepi Pembeli

oleh -133 Dilihat
Toko emas
Kenaikan yang cukup signifikan ini membuat masyarakat cenderung menahan diri, baik untuk membeli maupun melepas emas yang dimiliki.

KabarBaik.co, Surabaya – Lonjakan harga emas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir berdampak langsung pada aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Seperti yang dirasakan para pedagang emas di Pasar Pucang Anom, yang mengeluhkan turunnya jumlah pembeli maupun masyarakat yang menjual emas pada awal April 2026.

Kondisi ini terutama dipicu oleh tingginya harga emas perhiasan, khususnya untuk kadar 16 karat yang kini menyentuh angka Rp 1.900.000 per gram. Harga tersebut dinilai cukup memberatkan masyarakat, sehingga berdampak pada menurunnya minat transaksi.

Salah satu penjual di Toko Emas Gunung Mas, Windi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga tersebut membuat aktivitas jual beli emas di tokonya cenderung stagnan.

“Sekarang emas 16 karat di angka Rp1,9 juta per gram, baik untuk beli maupun jual,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/4).

Menurutnya, harga tersebut tergolong tinggi jika dibandingkan dengan kisaran harga pasar sebelumnya yang berada di angka Rp 1.600.000 per gram. Kenaikan yang cukup signifikan ini membuat masyarakat cenderung menahan diri, baik untuk membeli maupun melepas emas yang dimiliki.

Windi menuturkan, sejak libur panjang Lebaran, jumlah pengunjung yang datang ke kiosnya mengalami penurunan drastis. Dalam sehari, hanya satu hingga dua orang yang melakukan transaksi.
“Sekarang sepi, sehari paling satu sampai dua orang saja,” katanya.

Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. Kenaikan harga emas yang biasanya menjadi momentum bagi masyarakat untuk menjual, justru belum mampu mendorong peningkatan transaksi secara signifikan di tingkat pasar tradisional.

Di sisi lain, pedagang tidak tinggal diam menghadapi situasi tersebut. Berbagai upaya dilakukan untuk tetap menjaga perputaran bisnis, salah satunya dengan memanfaatkan platform digital. “Kami tetap pasarkan lewat media sosial, seperti status WhatsApp. Apalagi sudah punya pelanggan tetap,” jelas Windi.

Strategi ini menjadi alternatif penting di tengah perubahan pola belanja masyarakat yang kini semakin bergeser ke ranah digital. Meski demikian, efektivitasnya masih belum sepenuhnya mampu menggantikan transaksi langsung di toko.

Secara ekonomi, kenaikan harga emas global memang kerap dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi, inflasi, hingga fluktuasi nilai tukar. Dalam situasi seperti ini, emas biasanya menjadi instrumen lindung nilai (safe haven). Namun di level ritel, khususnya untuk perhiasan, harga tinggi justru menahan daya beli masyarakat.

Pengamat menilai, kondisi ini berpotensi bersifat sementara, tergantung pada stabilitas ekonomi ke depan. Jika harga emas mulai terkoreksi atau daya beli masyarakat membaik, aktivitas perdagangan diperkirakan akan kembali bergeliat.

Para pedagang pun berharap harga emas dapat kembali stabil agar transaksi kembali normal. Stabilitas harga dinilai menjadi kunci untuk menghidupkan kembali minat masyarakat dalam berinvestasi maupun bertransaksi emas.

“Harapannya harga bisa lebih stabil, supaya pembeli juga mulai ramai lagi,” pungkas Windi.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.