KabarBaik.co, Sidoarjo– Lonjakan harga kedelai pasca-Lebaran mulai memukul para perajin tahu rumahan di Desa Sepande, Candi. Dalam sepekan terakhir, harga bahan baku utama itu terus merangkak naik dan memaksa perajin mengambil langkah bertahan di tengah tekanan biaya produksi.
Salah satu perajin, Nuna, mengeluhkan harga kedelai impor kini telah mencapai Rp 10.500 per kilogram. Padahal sebelumnya, harga masih berada di kisaran Rp 9.600 hingga Rp 10.050 per kilogram. Kenaikan bertahap ini dirasakan sangat membebani, terutama karena daya serap pasar ikut melemah.
“Harganya naik jadi Rp 10.500, sebelumnya sekitar Rp 9.600 atau Rp 10 ribu,” ujarnya, Selasa (14/4).
Menurut Nuna, dampak paling terasa adalah berkurangnya permintaan dari tengkulak yang kini mulai membatasi pengambilan tahu. Kondisi ini memaksanya mengambil keputusan sulit agar usaha tetap berjalan.
Beberapa langkah yang dilakukan di antaranya memperkecil ukuran potongan tahu agar harga jual tidak melonjak drastis, serta menyesuaikan produksi karena penjualan yang menurun.
Tak hanya perajin, pedagang tahu keliling juga ikut terdampak. Juni Nur Cahyo, salah satu pedagang di wilayah Candi, mengaku tidak berani menaikkan harga jual meski harga dari pabrik naik. Ia memilih mengecilkan ukuran tahu agar tetap bisa dijual di harga yang sama.
“Kalau harga tetap, tapi potongannya dikecilkan sedikit,” ungkapnya.
Saat ini, Juni membeli tahu dari pabrik seharga Rp 40.000 per lembar dan menjualnya dengan target Rp 54.000. Namun, kondisi pasar yang cenderung sepi membuat perputaran dagangan tidak secepat biasanya.
Meski begitu, ia menyebut pelanggan mulai memahami kondisi tersebut. “Lama-lama nggak protes, sudah menyadari kalau kedelai naik,” tambahnya.
Kini, para perajin dan pedagang hanya berharap harga kedelai segera stabil. Sebab, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya usaha kecil yang terancam, tetapi juga akses masyarakat terhadap sumber protein murah seperti tahu bisa terputus. (*)






