KabarBaik.co – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali meniadakan karangan bunga dalam perayaan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-254. Sebagai gantinya karangan bunga dari mitra kerja diganti dengan paket sembako.
Hasilnya lebih dari seribu paket sembako telah terkumpul mulai 13 Desember hingga hari ini. Hingga hari ini, kiriman paket masih terus berdatangan. Pengumpulan berlangsung hingga 19 Desember.
“Pada hari jadi Banyuwangi ini, kami mengajak agar ucapan karangan bunga diganti dengan paket sembako. Nantinya, sembako tersebut akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk untuk korban bencana,” kata Ipuk.
Bantuan tersebut nantinya akan disalurkan tidak hanya untuk warga Banyuwangi tapi tetapi juga akan disalurkan ke daerah lain yang terdampak bencana, termasuk di wilayah Sumatera dan Aceh. Langkah ini merupakan bentuk solidaritas dan kepedulian masyarakat Bumi Blambangan terhadap sesama sesuai dengan tagline Harjaba 254 yakni Tandang Bareng.
“Kami juga mengajak ASN untuk berdonasi kepada saudara kita yang tertimpa bencana di Sumatera. Alhamdulillah, mendapat respon yang positif,” kata Ipuk.
Selain donasi Pemkab Banyuwangi menggelar sejumlah acara, doa bersama, sarapan bareng lintas selemen hingga penampilan aneka atraksi seni oleh anak-anak sekolah.
“Harjaba sebagai momen untuk mengingatkan kita kembali untuk terus bergandengan tangan, berkolaborasi untuk menghadapi masa depan,” kata Ipuk.
Bupati Ipuk dan Forkopimda juga ziarah ke makam bupati pendahulu. Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengingat kembali jasa para pendahulu yang telah memberikan pondasi yang kokoh bagi berdirinya Banyuwangi.
Di kompleks pemkamanan tersebut bersemayam para Bupati Banyuwangi terdahulu yakni Kanjeng R.T. Wiroguno II (Mas Thalib), Bupati Banyuwangi II (1782-1818); Kanjeng R.T. Suronegoro, Bupati Banyuwangi ke III (1818-1832).
Kanjeng Raden Adipati Wiryodanu Adiningrat, Bupati Banyuwangi IV (1832-1867); Kanjeng R.T Pringgo Kusumo, Bupati Banyuwangi V (1867-1881); Kanjeng R.T Astro Kusumo, Bupati Banyuwangi VII (1888-1889); Kanjeng R.T. Achmad Noto Adisoerjo, Bupati Banyuwangi XI (1920-1930) dan Ir. H. Samsul Hadi, Bupati Banyuwangi XXV (2000-2005).
Bupati Ipuk mengatakan ziarah ini sebagai wujud penghormatan mendoakan atas jasa para pendahulu yang telah mengabdikan hidupnya untuk Banyuwangi. Serta menjadi pengingat bahwa kemajuan yang saat ini digapai adalah hasil dari fondasi yang dibangun oleh para pendahulu.
“Ziarah ini bukan hanya meneruskan tradisi tapi bentuk penghormatan kepada para bupati terdahulu, dan pengingat bagi kita semua bahwa Banyuwangi berdiri kokoh juga berkat perjuangan dan pengabdian para pendahulu,” Kata Ipuk usai melakukan ziarah.
Pada ziarah tersebut Bupati Ipuk dan semua yang hadir membacakan doa yang dilanjutkan dengan menaburkan bunga di atas makam.
“Semoga para bupati terdahulu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kita jadikan semangat perjuangan, pengabdian, dan ketulusan mereka sebagai teladan menjadikan Banyuwangi semakin maju, sejahtera dan berdaya saing,” ujarnya.







