KabarBaik.co – Peringatan Haul ke-47 KH M. Bishri Syansuri di Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang, menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali warisan keilmuan dan kebangsaan ulama besar pendiri pesantren tersebut.
Haul ini tidak sekadar tradisi tahunan, tetapi juga refleksi peran pesantren dalam menjaga kesinambungan Islam moderat dan komitmen kebangsaan.
KH M. Bishri Syansuri dikenal sebagai tokoh besar Nahdlatul Ulama (NU) yang berpengaruh dalam pengembangan ilmu fiqih. Pemikiran dan keteladanannya hingga kini masih menjadi rujukan ribuan kader NU yang berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, hingga kebijakan publik.
Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), mengatakan perjuangan KH Bishri Syansuri terus hidup melalui kader-kader NU yang melanjutkan tradisi keilmuan para pendiri bangsa.
“Perjuangan ulama tidak pernah terputus. Apa yang dirintis KH Bishri Syansuri hari ini dilanjutkan oleh para santri dan kader NU di berbagai lini kehidupan,” ujar Cak Imin dalam keterangannya Minggu (21/12).
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai kontribusi KH Bishri Syansuri dalam mempertahankan kemerdekaan dan membangun karakter bangsa tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia, meskipun hingga kini belum dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
“Keteladanan beliau sebagai ulama yang arif dan bijaksana menjadi modal penting dalam menghadapi tantangan zaman,” kata Emil.
Emil juga berharap Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar terus berperan aktif dalam mencetak generasi santri yang unggul secara keilmuan dan berdaya saing, khususnya di bidang keagamaan.
Pengasuh Ponpes Mambaul Ma’arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), menegaskan pesantren terus menjaga tradisi pendidikan yang menekankan kedalaman ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Tradisi tersebut dirawat bersama para masyayikh dan alumni.
“Melalui pola pendidikan ini, pesantren diharapkan tetap menjadi pilar utama dalam membentuk karakter umat dan bangsa,” ujarnya.
Menurut Gus Salam, peringatan haul ini menegaskan bahwa pesantren bukan hanya ruang pewarisan tradisi, tetapi juga pusat pembentukan nilai yang relevan dengan dinamika sosial dan kebangsaan Indonesia saat ini. (*)








