Heboh Jubir Istana soal Kepala Babi Dimasak Aja, Mantan Staf Khusus Menkeu Sri Mulyani Angkat Bicara

oleh -76 Dilihat
YUSTINUS PRASTOWO
Yustinus Prastowo.

KabarBaiik.co- Media tengah dihebohkan pernyataan kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan RI Hasan Nasbi. Baik media arus utama maupun media sosial. Pernyataan Hasan Nasbi yang belakangan memicu kontroversi itu terkait tanggapan atas teror kepala babi ke kantor media Tempo. Juru bicara (jubir) Istana itu seolah menyepelekan dengan berkelar ‘’Udah dimasak aja.’’

Tak ayal, pernyataan Hasan Nasbi tersebut memicu reaksi negatif para tokoh dari beragam kalangan. Sebagai pejabat negara, komentar itu dianggap sangat tidak pantas. Bahkan, berpotensi makin menggerus kepercayaan masyarakat pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di tengah upaya menghadapi guncangan ekonomi global.

Yustinus Prastowo, mantan staf khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menuliskan pengalamannya. ‘’Bekerja 4,5 tahun menjadi Staf Khusus Menkeu dan Jubir Kemenkeu adalah pengalaman yang sangat berharga. Saya sungguh beruntung dan bersyukur membantu Ibu Sri Mulyani dan bekerja dalam lingkungan yang positif, bekerja profesional, dan prudent. Saya bisa belajar dan berproses dengan baik,’’ tulisnya melalui akun X miliknya, Sabtu (22/3).

Selama menjadi jubir Menkeu itu, lanjut dia, dirinya diajari tak sekadar menyampaikan substansi yang benar. Tetapi juga dengan cara-cara yang baik. ‘’Empati adalah hal penting karena selalu menempatkan kita pada posisi liyan, yang mungkin saja ada di pihak korban, terdampak, atau dirugikan kebijakan. Termasuk pentingnya membaca angin politik, arus opini publik, dan peta geopolitik buah pengalaman panjang Bu SMI (Sri Mulyani Indrawati, Red) berkiprah selama ini,’’ lanjutnya.

Menurut Yustinus, kerja di pemerintahan, terlebih di era medsos, butuh kesabaran dan ketelatenan. Ia selalu berusaha menempatkan publik sebagai tuan, pembayar pajak, pemilik daulat, yang sedang dilayani. Mitra dialog dan diskursus yang punya hak untuk tahu dan paham, termasuk mengkritik dan komplain. Tentu tak selamanya berhasil. Kerap gagal juga dan ia tak segan mengakui atau meminta maaf.

‘’Setidaknya kita junjung etika, estetika, dan etiket. Saking mewanti-wanti kami agar berhati-hati, suatu ketika Bu SMI memberi ilustrasi: Bahkan mengigau pun mesti waspada! Tiap kata dan ucapan punya dampak yang tak hanya personal, tapi institusional,’’ kata Yustinus.

Maka, kerendahan hati, bukan sikap merendahkan, menjadi kunci. Yustinus menyatakan, bisa dibayangkan jika orang seperti Alan Greenspan atau kini Jerome Powell terlalu enteng bicara, apalagi keras atau kasar, dampak ke market akan luar biasa. ‘’Meski skala kita jauh lebih kecil, kiranya kehati-hatian dalam bertutur tetap menjadi pedoman para juru bicara pemerintah di semua level. Dulu ada pepatah ‘bahasa menunjukkan bangsa’. Adab dan kualitas seseorang dan suatu masyarakat tecermin dari diksi, idiom, kosakata, dan gaya bahasa yang digunakan,’’ ungkapnya.

Dia berharap, semoga peristiwa belakangan ini menjadi pelajaran berharga dan pengingat bagi semua. Yustinus juga menyampaikan terima kasihnya kepada Sri Mulyani yang telah melatih, mendidik, menempa, dan memberi kepercayaan. ’’Tanpa melewati fase penting dan berharga itu, saya mungkin tak akan merasakan pentingnya komunikasi dalam kehidupan publik ini,’’ pungkasnya.

Sementara itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Ashiddiqie juga sempat menyoroti tentang terjadinya gap komunikasi. ‘’Demo di banyak kota tentang RUU TNI sama dengan tanda distrust makin luas, kepercayaan kian turun karena pejabat terasa kian sombong, gap komunikasi kian jauh dengan rakyat, semua parpol dirangkul agar tidak ada lagi beda pendapat. Maka tinggal gerakan civil society dari bawah jadi satu-satunya harapan rakyat tersisa,’’ tulisnya di laman X, Jumat (21/3). (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.