Imlek-Lebaran Jadi Musim Panen Industri Mamin, Produksi dan Distribusi Digenjot Sejak Akhir 2025

oleh -103 Dilihat
Meski kontribusi Imlek tidak sebesar Ramadan dan Lebaran, momentum ini tetap dinilai penting karena waktunya yang berdekatan sehingga memperpanjang periode konsumsi masyarakat.

KabarBaik.co, Jakarta – Industri makanan dan minuman (mamin) nasional bersiap memasuki periode emas penjualan pada awal 2026.

Momentum beruntun Tahun Baru Imlek, Ramadan, hingga Idul Fitri yang berlangsung pada Februari–Maret diperkirakan menjadi penggerak utama konsumsi masyarakat sekaligus mendongkrak kinerja industri sepanjang kuartal pertama tahun ini.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, mengungkapkan kesiapan pelaku industri sebenarnya telah dimulai sejak akhir 2025.

Para produsen lebih awal mengamankan pasokan bahan baku serta meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan musiman.

Saat ini, tingkat utilisasi industri mamin tercatat meningkat ke kisaran 70–80 persen, naik dari kondisi normal yang berada di level 60–70 persen.

Peningkatan tersebut telah berlangsung sejak November 2025 dan diperkirakan bertahan hingga periode pascalebaran.

“Beberapa kategori produk bahkan sudah beroperasi pada kapasitas optimal untuk mengejar target produksi,” ujar Adhi, Rabu (18/2).

Setelah fase pengamanan produksi, pelaku industri kini mengalihkan fokus pada optimalisasi pemasaran dan distribusi.

Meski kontribusi Imlek tidak sebesar Ramadan dan Lebaran, momentum ini tetap dinilai penting karena waktunya yang berdekatan sehingga memperpanjang periode konsumsi masyarakat.

Secara rata-rata, permintaan produk makanan dan minuman selama Ramadan hingga Lebaran meningkat sekitar 20–30 persen. Namun, pada kategori tertentu seperti sirup, nata de coco, kolang-kaling, dan biskuit, lonjakan permintaan bahkan dapat mencapai 100 persen seiring tradisi buka puasa dan silaturahmi keluarga.

“Imlek cukup menunjang. Peningkatannya memang tidak sebesar Ramadan-Lebaran, tetapi karena berlangsung berurutan, kuartal I-2026 diharapkan menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik,” jelasnya.

Gapmmi memproyeksikan kontribusi penjualan pada semester pertama dapat mencapai sekitar 60 persen dari total penjualan tahunan.

Secara keseluruhan, industri mamin ditargetkan tumbuh sekitar 6 persen pada 2026, lebih tinggi dibanding realisasi awal 2025 yang berada di kisaran 5 persen.

Optimisme tersebut turut didorong harapan terhadap berbagai insentif pemerintah yang mampu menjaga daya beli masyarakat.

Namun di balik peluang besar, industri masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketahanan pasokan bahan baku. Ketergantungan impor untuk komoditas seperti gandum, susu, gula, dan garam industri masih relatif tinggi.

Menurut Adhi, penguatan sektor hulu dan pemanfaatan bahan baku lokal menjadi kunci untuk mengurangi risiko biaya logistik, fluktuasi nilai tukar, hingga dampak ketidakpastian geopolitik global.

“Ketergantungan impor membuat industri sangat rentan ketika nilai dolar menguat,” tegasnya.

Selain itu, pelaku usaha juga menyoroti kebijakan pembatasan angkutan barang yang berpotensi mengganggu distribusi.

Gapmmi mengusulkan adanya dispensasi bagi produk krusial seperti air minum dalam kemasan (AMDK), susu, dan pakan ternak agar ketersediaan stok di ritel tetap terjaga.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Firman Sukirman, menilai akumulasi permintaan dari dua momentum besar ini akan mempercepat perputaran stok sekaligus memperkuat kinerja industri pada awal tahun.

Tradisi buka puasa bersama dan silaturahmi diperkirakan mendorong permintaan AMDK, terutama kemasan gelas dan botol kecil. Utilisasi pabrik diproyeksikan meningkat 10–15 persen, sementara permintaan ritel berpotensi naik 20–25 persen.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), Triyono Prijosoesilo, menyebut periode Ramadan-Lebaran menyumbang sekitar 30–40 persen dari total penjualan tahunan minuman kemasan. Bahkan pada kategori sirup, kontribusinya dapat mencapai 80–90 persen.

“Momentum ini diharapkan tetap menjadi pengungkit penjualan industri minuman sepanjang 2026,” katanya.

Meski demikian, pelaku industri tetap mencermati kondisi daya beli masyarakat kelas menengah yang belum sepenuhnya pulih. Dukungan kebijakan pemerintah dinilai penting agar konsumsi domestik tetap terjaga.

Pandangan serupa disampaikan Executive Director PT United Family Food (Unifam), Ongkie Tedjasurja.

Ia menilai periode Ramadan dan Idul Fitri secara konsisten memberikan kontribusi positif terhadap permintaan produk makanan, khususnya kategori confectionery dan camilan ringan.

Kedekatan waktu antara Imlek dan awal Ramadan juga diyakini akan meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat. Namun, perusahaan tetap bersikap hati-hati dalam menyusun proyeksi.

“Fokus kami saat ini pada penyesuaian produksi, penguatan distribusi, serta promosi yang relevan agar momentum ganda ini bisa dimanfaatkan secara optimal,” ujar Ongkie.

Dengan kombinasi momentum musiman, strategi produksi yang lebih matang, serta harapan membaiknya konsumsi domestik, awal 2026 menjadi periode krusial yang berpotensi menentukan arah pertumbuhan industri makanan dan minuman sepanjang tahun.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.