Industri Mamin Dihantui Kenaikan Harga, Pelemahan Rupiah Tekan Margin dan Daya Beli

oleh -92 Dilihat
Ritel mamin
Pelaku usaha kini menghadapi situasi serba sulit dalam menentukan harga jual produk mereka.

KabarBaik.co, Surabaya – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan serius terhadap industri makanan dan minuman (mamin).

Di tengah kenaikan harga bahan baku impor dan belum pulihnya daya beli masyarakat, pelaku usaha kini menghadapi situasi serba sulit dalam menentukan harga jual produk mereka.

Kondisi tersebut diakui Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman. Menurutnya, sebagian pelaku industri sudah mulai melakukan penyesuaian harga, meski kenaikannya belum signifikan karena khawatir produk tidak terserap pasar.

“Sebagian sudah menyesuaikan harga jual, meskipun tidak bisa besar karena mempertimbangkan daya beli,” ujar Adhi saat dikonfirmasi, Sabtu (16/5).

Ia menjelaskan, kenaikan harga sebenarnya menjadi langkah yang sulit dihindari. Sebab, biaya produksi terus meningkat akibat lonjakan harga bahan baku, kemasan, hingga biaya operasional lainnya yang terdampak pelemahan rupiah.

Namun di sisi lain, perusahaan juga tak bisa gegabah menaikkan harga terlalu tinggi. Jika daya beli masyarakat melemah, penjualan dikhawatirkan turun dan justru memukul keberlangsungan usaha.

Menurut Adhi, banyak perusahaan akhirnya memilih menyerap kenaikan biaya produksi dengan memangkas margin keuntungan. Bahkan, tidak sedikit yang menjalankan usaha nyaris tanpa margin demi menjaga pasar tetap bergerak.

“Terpaksa kenaikan bahan baku, kemasan dan lainnya diserap dengan mengurangi margin atau bahkan sampai tidak ada margin,” katanya.

Gapmmi pun berharap nilai tukar rupiah segera kembali menguat agar tekanan terhadap industri bisa mereda. Sebab, stabilitas rupiah dinilai memiliki dampak berantai terhadap kondisi ekonomi nasional, mulai dari biaya produksi industri hingga daya beli masyarakat.

Adhi menyebut ketidakpastian nilai tukar menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha saat ini. Industri kesulitan mengambil keputusan strategis karena belum ada kepastian sampai di level mana pelemahan rupiah akan berlangsung.

“Ketidakpastian ini yang menjadi masalah. Kita tidak tahu sampai berapa nilai tukar akan terjadi, sehingga sulit menentukan langkah yang akan diambil,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Ia memastikan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan pemerintah terus melakukan berbagai langkah penguatan ekonomi.

“Enggak perlu panik. Karena pondasi ekonomi kita bagus, kita tahu betul kelemahan kita di mana, dan bisa kita betulin,” kata Purbaya.

Ia juga menepis kekhawatiran bahwa kondisi ekonomi saat ini akan menyerupai krisis moneter 1998. Menurutnya, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan masa lalu.

“Kita enggak akan sejelek kayak tahun ’98 lagi. Dengan pondasi ekonomi yang kuat enggak terlalu sulit sebetulnya,” jelasnya.

Purbaya optimistis Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan pergerakan nilai tukar agar kembali sesuai fundamental ekonomi nasional.

“Ya itu anda tanya Bank Sentral saja, mereka yang berwenang. Tapi saya yakin mereka bisa kendalikan. Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.