KabarBaik.co- Israel akhirnya menyetujui gencatan senjata di Jalur Gaza setelah berbulan-bulan konflik mematikan dengan kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Kesepakatan ini menjadi bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menandai babak baru menuju stabilitas di kawasan Timur Tengah.
Presiden Trump mengungkapkan keyakinannya bahwa gencatan senjata tersebut akan bertahan lama. “Saya kira itu akan bertahan. Semua sudah lelah berperang,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (10/10). “Gaza memang sangat penting, tetapi ini lebih dari sekadar Gaza. Ini adalah perdamaian di Timur Tengah. Dan itu adalah hal yang indah,” tambahnya.
Rencana perdamaian tersebut mencakup 20 poin, termasuk pembebasan semua sandera oleh Hamas, penarikan bertahap pasukan Israel ke garis yang disepakati, serta pembentukan pemerintahan baru di Gaza tanpa kehadiran Hamas. Selain itu, ribuan tahanan Palestina juga akan dibebaskan.
Menurut laporan Channel 12 Israel, pasukan Israel mulai menarik diri dari beberapa wilayah di Jalur Gaza sejak Jumat pagi dan diperkirakan akan menyelesaikan penarikan sepenuhnya dalam 24 jam. Pasukan akan mundur ke arah timur dari Rafah dan Khan Yunis di selatan serta dari wilayah utara Gaza hingga mendekati perbatasan Israel.
Sebelumnya, Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah mencapai kesepakatan tahap pertama gencatan senjata dan pertukaran tawanan. Perundingan dilakukan secara tidak langsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, dengan partisipasi Turki, Mesir, dan Qatar di bawah pengawasan Amerika Serikat.
Sebagai bagian dari pelaksanaan kesepakatan, Washington juga akan mengerahkan sekitar 200 tentara ke Timur Tengah untuk memantau proses gencatan senjata di Gaza.
Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 67.200 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Wilayah Gaza kini porak-poranda dan dinilai tidak layak huni.
Dengan dimulainya penarikan pasukan Israel dan kesepakatan gencatan senjata ini, harapan pun muncul agar perdamaian yang rapuh di Gaza dapat bertahan, sekaligus membuka peluang baru bagi rekonsiliasi di kawasan Timur Tengah. (*)






