KabarBaik.co, Sidoarjo – Langit Jatim belum benar-benar beralih ke wajah kemarau. Hingga penghujung April, awan tebal masih setia menggantung, disusul hujan yang turun tak menentu di sejumlah wilayah.
Situasi ini terasa kontras dengan anggapan umum bahwa April menjadi awal musim kering. Alih-alih panas terik, nuansa ’kemarau basah’ justru lebih dominan dirasakan masyarakat.
Isu kemarau panjang yang sempat dikaitkan dengan fenomena El Nino bahkan belum menunjukkan dampak signifikan di Jawa Timur. Kondisi atmosfer justru masih mendukung terbentuknya hujan.
Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya, menjelaskan bahwa saat ini Jawa Timur belum sepenuhnya memasuki musim kemarau.
“Jawa Timur diprakirakan memasuki musim kemarau pada dasarian akhir bulan Mei, sehingga saat ini masih berada pada masa peralihan atau pancaroba. Kondisi cuaca saat pancaroba sangat dinamis dan dapat berubah dengan tiba-tiba,” ujarnya kepada kabarBaik.co, Kamis (30/4).
Memasuki masa pancaroba, pola cuaca memang cenderung labil. Perubahan bisa terjadi dalam waktu singkat, dari cerah berawan menjadi hujan deras disertai angin.
Dalam sepekan ke depan, potensi hujan masih cukup tinggi di berbagai wilayah Jawa Timur, dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga lebat.
“Kondisi cuaca di Jatim untuk seminggu ke depan masih berpotensi terjadi hujan ringan hingga lebat yang kadang disertai angin kencang sesaat,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Andrie mengungkapkan bahwa kondisi ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Gelombang Rossby yang melintasi wilayah Jawa Timur.
Kombinasi faktor tersebut membuat pembentukan awan hujan masih aktif, sehingga hujan tetap sering terjadi meski kalender menunjukkan peralihan menuju musim kemarau.
Dengan kondisi yang masih fluktuatif ini, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. (*)








