Jejak Kelahiran Soekarno di Ploso Jombang Kian Menguat, Bukti SK Tugas Ayah hingga Arsip ITB

oleh -90 Dilihat
Cindy Adams saat berkunjung ke rumah yang diklaim sebagai tempat lahirnya Soekarno di Ploso Jombang (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Polemik riwayat kelahiran Presiden pertama RI Soekarno kembali mencuat. Jejak yang mengarah ke wilayah Ploso, Jombang, Jawa Timur, disebut semakin kuat setelah sejumlah peneliti membeberkan temuan terbaru.

Temuan itu tak hanya berbasis cerita lisan, tetapi juga diperkuat dokumen tertulis, foto lawas, hingga kesaksian keluarga yang memiliki keterkaitan langsung dengan Bung Karno.

Salah satu penggagas penelusuran tersebut, Binhad Nurrohmat, sejarawan sekaligus inisiator Titik Nol Soekarno, menyebut riwayat kelahiran Soekarno di Ploso bersumber dari Raden Mas (RM) Sajid Soemodiardjo.

Sajid merupakan paman Bung Karno dari garis ayah yang juga pernah menjadi penasihat pribadi Presiden Soekarno pada 1945–1950.

“Riwayat itu disampaikan langsung oleh RM Sajid Soemodiardjo,” ujar Binhad, Minggu (22/2).

Sajid lahir di Kediri pada 1898 dan wafat pada 1970. Namanya tercatat dalam buku Jenderal A.H. Nasution, Seputar Perang Kemerdekaan jilid ke-9 (1978).

Menurut penuturan Sajid, ayah Soekarno, Raden Soekeni Sosrodihardjo, pernah bertugas sebagai mantri guru di Ploso. Di daerah itulah Soekarno disebut lahir pada 6 Juni 1902.

Tak hanya itu, masa kecil Bung Karno juga disebut lekat dengan wilayah Ploso. Ia dikisahkan mengaji di Desa Kedungturi yang kini masuk Desa Losari, Kecamatan Ploso.

Proses persalinan Soekarno disebut dibantu Mas Kiai Surosentono, sementara ari-arinya dikabarkan ditanam di Ploso oleh Sumojani.

“Ketika kecil dan sering sakit, Soekarno diobati Raden Mas Pandji Soemosewojo. Ia pula yang mengganti nama kecilnya dari Koesno menjadi Soekarno,” kata Binhad.

Riwayat tersebut, lanjut dia, masih dikenang oleh keturunan Sajid, yakni RM Suharyono dan RM Kuswartono.

Selain kesaksian keluarga, penelusuran ini juga diperkuat bukti visual. Salah satunya foto hitam putih hasil jepretan M Ichwan pada 1925 di Brumbung, Kabuh, Jombang. Dalam foto itu tampak Mas Kiai Surosentono dan Sumojani bersama sejumlah orang lainnya.

Foto tersebut kini tersimpan di tangan Sulis, warga Kabuh yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Ichwan.

Sementara itu, foto dan riwayat Raden Mas Pandji Soemosewojo diperoleh dari keluarga besar Ndalem Pojok Kediri. Soemosewojo tercatat sebagai saksi dari pihak mempelai pria saat Soekarno menikah dengan Inggit Garnasih di Bandung pada Maret 1923. Fakta tersebut tertulis dalam autobiografi Inggit Garnasih, Kuantar ke Gerbang (1981) karya Ramadhan KH.

Jejak Ploso juga muncul dalam buku karya jurnalis Amerika Serikat, Cindy Adams, berjudul My Friend the Dictator (1967) yang terbit di Indonesia dengan judul Soekarno My Friend (1971).

Dalam buku itu dimuat foto Cindy Adams bersama Mbok Suwi, pengasuh Soekarno sejak usia enam hari, serta Mbah Joyo Dipo, teman masa kecil Bung Karno. Foto tersebut diambil pada 16 Januari 1964 di depan rumah kelahiran Soekarno di Desa Ngelo, kini masuk Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso.

Mbok Suwi dan Mbah Joyo Dipo merupakan warga asli Ploso dan dimakamkan di wilayah tersebut.

Sementara itu, pemerhati sejarah, Arif Yulianto atau Cak Arif, menegaskan bahwa Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Ploso, yang saat itu merupakan bagian dari Karesidenan Surabaya.

Menurut Cak Arif, Kabupaten Jombang sendiri baru berdiri pada 1910 seiring dilantiknya Bupati Jombang pertama, R.A.A. Soeroadiningrat V atau Kanjeng Sepuh Jombang.

Ia membeberkan sejumlah data yang disebut menguatkan hal tersebut, di antaranya besluit atau Surat Keputusan (SK) penugasan Raden Soekeni sebagai Mantri Guru Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya, tertanggal 28 Desember 1901.

“Raden Soekeni mulai bertugas di Ploso pada 28 Desember 1901,” ujar Cak Arif.

Di Ploso, Raden Soekeni berdinas hingga 1907 sebelum dipindah ke Sidoarjo. Cak Arif juga menunjukkan tulisan tangan ayah Bung Karno yang menyebut tanggal kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1902.

“28 Desember 1901 ayah Bung Karno mulai berdinas di Ploso. Enam bulan kemudian Bung Karno lahir,” katanya.

Data lain yang ditunjukkan adalah arsip ITB atau Technische Hoogeschool (THS) yang mencatat Raden Soekarno lahir di Surabaya pada 6 Juni 1902.

Menurut Cak Arif, penyebutan Surabaya dalam arsip tersebut merujuk pada wilayah administratif Karesidenan Surabaya, yang kala itu mencakup Ploso dan wilayah yang kini menjadi Kabupaten Jombang.

Ia juga mengutip laporan pekerjaan sipil era Hindia Belanda tahun 1894 yang menyebut sejumlah desa di wilayah Jombang saat ini sebagai bagian dari Surabaja (Surabaya), seperti Semanden, Goemoelan, Kedoengboto, Potjokrejo, dan Woeloeh.

“Nah dengan penyebutan Surabaja terhadap desa-desa yang sekarang masuk Kabupaten Jombang, menandakan pada masa itu wilayah Jombang memang bagian dari Karesidenan Surabaya,” ujar dia.

Karena itu, ia menilai wajar jika kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1902 ditulis dengan keterangan Surabaya.

“Jadi Surabaya yang dimaksud adalah Ploso bagian dari Karesidenan Surabaya,” katanya.

Ia menambahkan, narasi serupa juga tertulis dalam buku biografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakjat Indonesia karya Cindy Adams (1966), yang menyebut ayah Soekarno dipindahkan ke Surabaja dan di sanalah Soekarno dilahirkan.

Dengan dukungan dokumen, arsip kolonial, foto lawas, serta kesaksian keluarga dan warga setempat, Ploso kembali mengemuka sebagai salah satu titik penting dalam diskursus sejarah kelahiran dan masa kecil Sang Proklamator. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.