Jenderal Asli Surabaya: Mengenang Try Sutrisno (15 November 1935 – 2 Maret 2026)

oleh -99 Dilihat
TRY SUTRISNO WAPRES
Try Sutrisno saat dilantik menjadi Wapres ke-6 RI pada 1993. (Foto IST)

MATAHARI mungkin tenggelam setiap malam, tapi sinarnya tetap terasa kehangatannya. Begitu pun Try Sutrisno, yang kepergiannya hari ini, Senin, 2 Maret 2026, meninggalkan cahaya prinsip dan teladan yang terus menyinari bangsa dan keluarganya. Dia bukan hanya seorang jenderal dan Wakil Presiden (Wapres), tetapi juga sosok ayah yang sederhana, pemimpin yang tegas, dan warga negara yang konsisten pada nilai moral.

Try lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935, dari pasangan Soebandi dan Mardiyah. Masa kecilnya berlangsung di tengah pergolakan sejarah, saat Indonesia masih menapaki langkah awal kemerdekaan. Kedekatannya dengan kehidupan sederhana membuatnya terbiasa dengan disiplin, kerja keras, dan kesabaran. Nilai-nilai yang kelak menjadi ciri khasnya sepanjang hidup.

Muda, Try memilih jalan militer. Lulus dari SMA di Surabaya, dia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956 dan lulus pada 1959, memasuki dunia yang menuntut kedisiplinan tinggi dan loyalitas tanpa kompromi. Pengalamannya memimpin pasukan dalam penumpasan Pemberontakan PRRI pada akhir 1950-an membentuk mental dan strategi militernya sejak dini

Setelah lulus, Try menapaki berbagai posisi penting di TNI. Pernah menjabat sebagai ajudan pribadi Presiden Soeharto pada pertengahan 1970-an, sebuah posisi yang mengharuskan keseimbangan antara loyalitas dan kecerdikan politik.

Kemudian memimpin sejumlah Kodam, termasuk Kodam XVI/Udayana, Kodam IV/Sriwijaya, dan Kodam V/Jaya. Pada pertengahan 1980-an, Try menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) pada 1986, sebelum akhirnya dilantik sebagai Panglima ABRI (1988–1993).

Dalam kapasitasnya sebagai Panglima ABRI, Try menghadapi berbagai tantangan keamanan nasional, mulai dari konflik separatis hingga pengawasan terhadap stabilitas sosial-politik di seluruh Indonesia. Kepemimpinannya dikenal tegas namun tetap berpegang pada prinsip integritas dan keadilan, menjadikannya figur yang dihormati di kalangan militer maupun masyarakat sipil.

Pada 11 Maret 1993, Try Sutrisno diangkat sebagai Wakil Presiden, mendampingi Presiden Soeharto hingga 11 Maret 1998. Masa jabatan ini berada di era akhir Orde Baru, yang ditandai dengan krisis ekonomi dan ketegangan sosial. Di panggung politik nasional, Try dikenal sebagai sosok yang konsisten, rendah hati, dan lebih fokus pada pengabdian daripada retorika.

Selain tugas kenegaraan, Try kerap memberikan pandangan yang menekankan pentingnya stabilitas konstitusi, loyalitas pada negara, dan penghormatan terhadap hukum. Ia menegaskan posisi militer yang profesional dan mendukung demokrasi yang sehat, pandangan yang kemudian menjadi bahan diskusi dalam berbagai seminar strategi nasional dan forum veteran.

Di balik jabatan tinggi, Try dikenal sebagai figur sederhana. Ia menolak kemewahan berlebihan, baik untuk dirinya maupun keluarganya. Anak-anaknya dibesarkan dengan prinsip kemandirian, disiplin, dan tanggung jawab.

Kisah keseharian keluarga ini kemudian dituangkan dalam buku Filosofi Parenting Try Sutrisno, yang menekankan bagaimana nilai moral dan karakter dibentuk melalui keteladanan, ibadah, dan rutinitas sederhana, bukan melalui pamer kekuasaan.

Banyak yang mengingatnya sebagai pribadi yang jujur, teguh pada prinsip, dan tetap rendah hati. Ia sering menasihati anak-anak dan rekan melalui contoh nyata, bukan pidato panjang — “Integritas dibangun dari kebiasaan, bukan kata-kata,” katanya salah satu nasihat yang mengena.

Kepergian Try Sutrisno meninggalkan warisan yang luas. Dari ketegasan militer, kepemimpinan kenegaraan, hingga nilai-nilai spiritual dan moral. Semasa hidup, dia juga aktif dalam organisasi veteran, termasuk sebagai Ketua Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri), menegaskan pentingnya persatuan dan solidaritas di antara para purnawirawan.

Masyarakat mengenang Try Sutrisno sebagai sosok yang bukan hanya tegas dan disiplin, tetapi juga membumi dan penuh teladan. Nilai yang ditanamkannya, baik dalam keluarga maupun bangsa, menjadi cahaya yang terus menyinari generasi berikutnya, seperti matahari yang tak pernah berhenti memberi kehangatan meski tenggelam di ufuk senja.

Try Sutrisno telah berpulang, namun teladan hidupnya tetap abadi. Ia meninggalkan sejarah yang kokoh dan nilai moral yang hidup, menjadi inspirasi bagi setiap warga Indonesia yang menapaki jalan pengabdian, disiplin, dan kesederhanaan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.