Keheningan Awal Ramadan di Makam Sang Penyebar Islam Sunan Gresik

oleh -991 Dilihat
c6752cae a14e 48da 9878 a9380a6e217b
Suasana Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik di awal Ramadan 1446 Hijriah. (Foto: Muhammad Wildan Zaky)

KabarBaik.co – Di awal Ramadan 1446 Hijriah, sore hari, aku menapakkan kaki di pelataran makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Kelurahan Gapurosukolilo, Gresik.

Tak seperti biasanya, tempat ini begitu sunyi. Hanya ada sepasang suami istri dan seorang anak kecil yang duduk tenang di bawah luasnya bangunan makam. Menunggu waktu berbuka puasa.

“Sepi memang, Mas. Hari pertama Ramadan biasanya begini,” ujar seorang penjaga parkir di depan makam, Sabtu (1/3), tepat hari pertama menjalani ibadah puasa.

“Tapi nanti, di minggu-minggu berikutnya, pengunjung bakal ramai lagi,” lanjutnya sambil menyandarkan tubuh di motornya.

Pemandangan ini terasa janggal. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik hampir tak pernah benar-benar sepi.

Menurut Rukoiyah, salah satu pedagang di sekitar makam, beberapa hari sebelum Ramadan, peziarah dari berbagai daerah berbondong-bondong datang.

“Alhamdulillah, berkah buat kami juga. Kalau ramai pengunjung, dagangan kami ikut laris,” ujarnya sembari merapikan dagangan.

Ketenangan makam ini memberi kesempatan bagiku untuk lebih leluasa mengamati setiap jengkal tempat peristirahatan terakhir salah satu waliyullah mahsyur tersebut.

Batu nisan yang berdiri tegak di hadapanku tampak kokoh dan berwibawa. Ukiran kaligrafinya begitu rapi, seolah-olah tangan-tangan yang mengukirnya telah dikaruniai kesabaran tanpa batas.

Rasa penasaran mengantarkanku menelusuri sejarah nisan ini. Menurut salah satu litelatur, penelitian oleh JP Moquette, seorang peneliti Belanda, batu nisan dan kijing Syekh Maulana Malik Ibrahim kemungkinan besar diimpor dari Cambay, Gujarat, India.

Batu sejenis ini banyak ditemukan di makam-makam kuno Gujarat, menandakan betapa dihormatinya Sunan Gresik di masanya.

Tiap goresan kaligrafi di batu nisan itu bukan sekadar hiasan, tetapi untaian doa dan penghormatan. Di bagian atasnya, terukir kalimat tauhid: Laa ilaha illallah Muhammadurrasulullah.

Tepat di bawahnya, surat Ar-Rahman ayat 26-27 mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, hanya wajah Allah yang kekal. Ada pula ayat dari surat At-Taubah ayat 21-22 yang menegaskan janji surga bagi orang-orang beriman.

Sementara di bagian pinggir nisan, ayat kursi dari Al-Baqarah 255-256 mengelilinginya, seolah menjadi benteng doa bagi beliau yang bersemayam di bawahnya.

Namun yang paling menyentuh adalah kalimat-kalimat penghormatan di bagian bawah nisan.

Ini kubur yang dirahmati dan diampuni, yang berharap kepada rahmat Allah Yang Maha Tinggi.
Kebanggaan dan tiang bagi pangeran-pangeran, sultan-sultan, dan para wazir, pecinta orang miskin dan fakir.
Yang berbahagia, yang syahid, bukti untuk negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal kebaikannya.
…dengan rahmah dan keridhoan, ditempatkan dia di rumah surga…

Bahkan tanggal wafat beliau pun terukir abadi: Senin, 12 Rabiul Awal 822 Hijriah.

Membaca tulisan itu, seakan diajak menyusuri jejak panjang perjuangannya. Betapa sosoknya bukan hanya seorang penyebar Islam, tetapi juga seorang pemimpin yang dihormati, pecinta kaum miskin, dan penopang para sultan.

Nisan itu bukan sekadar batu, tetapi sebuah prasasti yang berbicara tentang seorang manusia yang hidupnya dipenuhi kebaikan dan keteladanan.

Kini, keheningan Ramadan mengiringi peristirahatan panjang Syekh Maulana Malik Ibrahim. Tapi aku tahu, sunyi ini hanya sementara.

Sebentar lagi, pelataran ini akan kembali dipenuhi langkah para peziarah. Doa-doa akan kembali berdesir di udara, dan makam ini akan kembali menjadi saksi perjalanan hati yang mencari keberkahan.

Karena sosok seperti Sunan Gresik tak pernah benar-benar sepi. Namanya abadi dalam doa. Dikenang dalam jejak. Dan terus hidup dalam setiap hati yang merindukan cahaya.

Sebagai catatan, Syekh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal Sunan Gresik salah satu tokoh Wali Songo, memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Jawa.

Sunan Gresik dianggap sebagai salah satu ulama pertama yang menyebarkan Islam secara luas di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, khususnya di Gresik, Jawa Timur.

Berdasarkan catatan sejarah, Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak hanya dikenal karena ajaran agamanya, tetapi juga karena cara-cara dakwahnya yang penuh kebijaksanaan, menghormati adat istiadat lokal, dan mampu beradaptasi dengan budaya setempat.

Syekh Maulana Malik Ibrahim diperkirakan lahir pada abad ke-14. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa beliau berasal dari wilayah Persia atau India, sementara yang lainnya mengaitkannya dengan keturunan Arab.

Namun, yang jelas adalah bahwa Sunan Gresik merupakan salah satu ulama besar yang diutus untuk menyebarkan Islam ke Nusantara.

Sekitar abad ke-14, Syekh Maulana Malik Ibrahim memulai perjalanannya ke Tanah Jawa untuk menyebarkan agama Islam.

Ia pertama kali tiba di Pulau Jawa melalui Gresik, sebuah kota pesisir yang menjadi pintu gerbang perdagangan antara Indonesia dan dunia luar, khususnya dunia Islam.

Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu sosok yang memperkenalkan Islam dengan cara yang lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa.

Ia menghargai dan menghormati tradisi budaya lokal yang ada pada saat itu, sehingga Islam yang dibawa tidak terasa asing bagi masyarakat.

Sebagai salah satu tokoh Wali Songo, Sunan Gresik tidak hanya menjadi simbol dari penyebaran agama Islam di Jawa, tetapi juga simbol dari keteladanan dalam mengamalkan ajaran Islam yang damai dan moderat.

Hingga kini, namanya tetap dikenang dan menjadi sumber inspirasi bagi umat Muslim di seluruh Indonesia bahkan dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Muhammad Wildan Zaky
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.