Kelangkaan Elpiji 3 Kg Dikeluhkan Warga, UKM di Bojonegoro Terpaksa Hentikan Produksi

oleh -190 Dilihat
IMG 20260316 WA0007
Tumpukan tabung LPG di kios salah satu warga di Bojonegoro. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Kelangkaan elpiji subsidi 3 kilogram atau yang dikenal sebagai gas melon dikeluhkan masyarakat di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan gas bersubsidi, bahkan sebagian pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) terpaksa menghentikan sementara aktivitas produksinya.

Sejumlah pengecer juga mengaku mengalami pembatasan pasokan. Mereka hanya menerima sebagian kecil dari jumlah tabung yang biasanya didistribusikan. Akibatnya, stok cepat habis dan masyarakat harus berkeliling ke banyak toko untuk mencari elpiji.

Salah satu warga yang merasakan langsung kelangkaan tersebut adalah Anggun Shofia Ardila, warga Kecamatan Kota, Bojonegoro. Ia mengaku sudah tiga hari berkeliling mencari elpiji bersubsidi, namun tidak juga mendapatkannya. “sampai saat ini ini sudah 27 tempat saya cari, tidak ada yang punya. Mau masuk toko saja sudah diteriaki penjual kalau elpiji kosong,” ujar Anggun, Senin (15/3).

Keluhan serupa juga disampaikan Nikmatul Khoiriyah, pedagang kelontong sekaligus pengecer di Kecamatan Ngraho. Ia mengatakan kelangkaan gas melon mulai dirasakan sejak awal Ramadan hingga sekarang. Menurutnya, selain langka, harga elpiji juga mulai merangkak naik. Ia menjual elpiji 3 kilogram seharga Rp 25 ribu per tabung dengan harga sekitar Rp 21 ribu dari sales.

“Biasanya saya ambil dari sales. Tapi sekarang pasokan dibatasi. Saya punya sepuluh tabung, tapi hanya diberi dua tabung saja,” katanya.

Dari informasi yang ia terima, pembatasan pengiriman menjadi salah satu penyebab kelangkaan tersebut. Bahkan hingga saat ini belum ada kepastian kapan distribusi akan kembali normal.

Nikmatul menilai kelangkaan elpiji bersubsidi menjelang Lebaran bukan merupakan hal yang baru. Menurutnya, kondisi ini hampir selalu terjadi setiap tahun, bahkan disertai dengan kenaikan harga di tingkat pengecer. “Tahun lalu harga jual sekitar Rp 23 ribu sampai Rp 25 ribu per tabung. Tapi di beberapa tempat ada yang sampai Rp 30 ribu,” ungkapnya.

Dampak kelangkaan ini juga dirasakan pelaku UKM di Bojonegoro. Firdha Putri Ambarwati, pedagang pizza rumahan, mengaku terpaksa menghentikan sementara produksi karena tidak mendapatkan elpiji. Ia menyebut sudah tiga hari mencari gas melon namun tidak berhasil mendapatkannya. Padahal elpiji merupakan kebutuhan utama untuk menjalankan usahanya.

“Kami pedagang kecil, jual pizza Rp 15 ribu per kotak. Sekarang malah susah produksi karena gas melon sulit didapat. Jadi sementara libur dulu,” keluhnya. Firdha berharap distribusi elpiji bersubsidi segera kembali normal agar pelaku usaha kecil dan masyarakat tidak terus mengalami kesulitan, terlebih di tengah meningkatnya kebutuhan selama bulan Ramadan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini
Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.