KabarBaik.co- Setelah menahan Bupati Sugiri Sancoko serta sejumlah pihak, KPK kini disebut-sebut turut menelusuri aliran dana proyek Monumen Reog dan Museum Peradaban (MRMP). Sebuah megaproyek prestius. Bukan hanya bakal menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo, tapi juga warga Jawa Timur. Publik pun menaruh harapan besar agar pembangunan landmark baru di kawasan perbukitan Kecamatan Sampung itu terus berjalan hingga tuntas.
Diketahui, MRMP bukan sekadar proyek infrastruktur. Tapi, menjadi ikon kebudayaan yang dirancang dengan penuh kebanggaan. Gagasan pendiriannya muncul sejak 2022, dimulai lewat sayembara desain arsitektur secara terbuka. Dari data laman IAI Jawa Timur, juara 1 dengan judul karya Taman Ragam Selaras, dengan Arsitek Ar. Bramana Ajasmara Putra, IAI, dengan tim terdiri atas I Made Aryatirta Predana, Kadek Yuda Pramana, Putu Dharma Putra, Freddy.

Desain pemenang menampilkan sosok singa berkepala Dadak Merak, lambang utama kesenian Reog Ponorogo, yang menjulang megah di atas tebing batu kapur. Rancangannya menggabungkan elemen arsitektur Jawa modern dengan pendekatan monumental, di mana bagian puncak monumen menjadi ruang simbolik untuk kebesaran budaya Reog.
Berdasarkan pemberitaan sejumlah media, pembangunan tahap pertama MRMP itu telah menyerap sekitar Rp 73,8 miliar. Selain itu, pemerintah melalui DAK tematik juga telah menambahkan Rp 10,6 miliar untuk memperkuat infrastruktur penunjang kawasan tersebut. Megaproyek itu disebut masih membutuhkan tambahan sekitar Rp 88,8 miliar sesuai rencana desain utuh yang mencakup museum peradaban, plaza budaya, ruang pertunjukan, dan area komersial berbasis UMKM.
Dengan total target ketinggian mencapai 126 meter, MRMP bahkan digadang-gadang akan melampaui tinggi monumen Garuda Wisnu Kencana di Bali.
Melansir Antara, pada 11 Agustus 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan selesainya pembangunan tahap pertama MRMP. Pembangunan tahap pertama yang dimulai 2023 mencakup konstruksi pondasi, bangunan utama, dan pemasangan panel kepala burung merak, yang merupakan elemen khas tarian Reog, sebagai penutup rangkaian pekerjaan.
“Pertama saya ucapkan selamat dan apresiasi atas inisiatif Bupati Ponorogo yang telah membangun monumen dan museum Reog Ponorogo. Ini langkah luar biasa dalam kemajuan kebudayaan, khususnya Reog Ponorogo yang telah diinskripsi Unesco sebagai warisan budaya takbenda dunia,” kata Fadli Zon saat itu.
Dia menilai keberadaan monumen tersebut merupakan terobosan budaya yang berpotensi membentuk ekosistem wisata baru di wilayah barat Jawa Timur. “Mudah-mudahan ini menjadi contoh bagi daerah lain untuk berani membuat terobosan-terobosan bagi kemajuan kebudayaan,” ujarnya.
Meski belakangan proyek tersebut ikut disorot dalam penyelidikan KPK, masyarakat berharap penyidikan tidak berimbas pada keberlanjutan pembangunan. Sebab di lapangan, kawasan MRMP telah hidup dan memberi dampak nyata bagi warga sekitar.
Hampir setiap sore, ratusan pengunjung datang menikmati suasana perbukitan, berfoto di area terbuka, atau sekadar bersantai sambil membeli jajanan dari para pedagang kecil. Aktivitas ekonomi tumbuh, puluhan UMKM berjualan di sekitar lokasi, dan kawasan itu mulai dikenal sebagai tujuan wisata baru di Ponorogo bahkan sebelum rampung seluruhnya.

Letaknya yang strategis, tidak jauh dari Telaga Sarangan dan Tawangmangu, menjadikan MRMP berpotensi menjadi simpul wisata baru yang menghubungkan koridor pariwisata Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dengan penataan akses dan fasilitas yang berkelanjutan, monumen ini diharapkan mampu mendongkrak ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat identitas budaya Ponorogo di mata dunia.
Bagi masyarakat setempat, Monumen Reog dan Museum Peradaban bukan sekadar bangunan dari beton dan baja. Namun, wujud kebanggaan kolektif, lambang warisan leluhur yang menolak dilupakan. Karena itu, meski badai kasus mungkin tengah mengiringinya, harapan warga tetap sama.
Proses hukum biarlah berjalan, namun pembangunan yang sudah membuka jalan kemajuan jangan sampai terhenti. Sebab, di bawah sinar senja yang jatuh di tebing Sampung, monumen itu telah menjadi tanda bahwa Ponorogo sedang bangkit, dengan budaya sebagai jantungnya. (*)







