KabarBaik.co, Surabaya — Semangat berinovasi tidak mengenal usia. Hal itu dibuktikan lima siswa SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya yang berhasil mengembangkan aplikasi pembelajaran bahasa isyarat berbasis Artificial Intelligence (AI) bernama Sign Language Translator. Berkat inovasi tersebut, mereka meraih Juara I Kategori Young Innovators pada ajang Impact Fest 2026.
Tim yang menamai dirinya Nebula One terdiri atas siswa kelas V dan VI, yakni Arjun, Shaka, Aghna, Siraj, dan Shauqi. Inovasi yang mereka ciptakan lahir dari kepedulian terhadap masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi dengan penyandang disabilitas sensorik, khususnya tunarungu dan tunawicara.
Di bawah bimbingan para guru, kelima siswa memanfaatkan platform Pictoblox dan teknologi machine learning untuk mengembangkan aplikasi yang dapat membantu masyarakat mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) maupun Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Salah seorang anggota tim, Shauqi, mengatakan ide pembuatan aplikasi muncul setelah mereka berdiskusi bersama guru pendamping mengenai pentingnya membangun komunikasi yang lebih inklusif.
“Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum memahami bahasa isyarat. Karena itu, kami membuat aplikasi yang berisi materi pembelajaran Bisindo dan SIBI agar masyarakat lebih mudah belajar dan memahami bahasa isyarat,” ujarnya, Minggu (2/8).
Proses pengembangan aplikasi yang memanfaatkan teknologi hand pose detection tersebut berlangsung sekitar tiga hingga lima bulan. Selama proses itu, para siswa melakukan pencarian ide, riset sederhana, hingga belajar dasar-dasar pemrograman.
Berbagai tantangan pun mereka hadapi, mulai dari kesalahan penerjemahan gerakan (translation error) hingga penyempurnaan algoritma. Namun, kendala tersebut berhasil diatasi melalui proses debugging dan perbaikan kode program secara bertahap.
Saat ini, Sign Language Translator masih berada pada tahap prototipe. Ke depan, Tim Nebula One berencana menambahkan berbagai fitur baru, seperti Sign to Text (isyarat ke teks), Text to Sign (teks ke isyarat), dan Voice to Sign (suara ke isyarat).
“Kami berharap aplikasi ini nantinya bisa digunakan masyarakat luas sehingga dapat membantu mengurangi hambatan komunikasi dengan teman-teman penyandang disabilitas,” kata mereka.
Tak hanya berprestasi, kelima siswa tersebut juga mengajak generasi muda untuk berani menuangkan ide dan memanfaatkan teknologi sebagai solusi atas berbagai persoalan di sekitar.
“Jangan takut mencoba. Kalau punya ide, wujudkan. Teknologi bisa dimanfaatkan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang,” ujar mereka.
Keberhasilan Tim Nebula One mendapat dukungan penuh dari Kepala SDN Tenggilis Mejoyo I Surabaya, Siti Noor Iffa, bersama guru pendamping Ika Khusniyawati dan Arizkylia Yoka Putri.
Siti Noor Iffa mengatakan sekolah terus mendorong terciptanya budaya belajar yang inovatif dengan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, baik melalui kegiatan akademik maupun nonakademik.
“Kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci dalam mendukung tumbuhnya prestasi anak-anak. Kami ingin mereka memiliki keberanian untuk berinovasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, guru pendamping Ika Khusniyawati menjelaskan bahwa ide pengembangan aplikasi berangkat dari pembelajaran mengenai pentingnya pendidikan inklusif yang kini menjadi perhatian di dunia pendidikan.
Menurutnya, siswa diajak melakukan riset sederhana, mengidentifikasi permasalahan di lingkungan sekitar, kemudian mencari solusi melalui pendekatan teknologi.
“Tantangan mendampingi siswa SD belajar coding memang tidak mudah karena membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Namun, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan berani bereksperimen. Potensi itulah yang perlu terus didukung,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Prestasi Tim Nebula One menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi sejak usia dini mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial di sekitarnya. (*)







