Ketika Persija Jadi Musafir di Rumah Sendiri

oleh -202 Dilihat
IMG 20260506 175126

JAKARTA adalah kota dengan infrastruktur olahraga paling ambisius di Indonesia. Namun, kemegahan tersebut seolah runtuh saat laga El Clasico Indonesia antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung, 10 Mei 2026, resmi digeser ke Stadion Segiri, Samarinda. Keputusan ini bukan cuma soal perpindahan lokas. Tapi, potret nyata betapa rumit sinkronisasi antara ambisi industri olahraga dan birokrasi keamanan.

​Ketidakpastian ini bermula dari perbedaan sudut pandang antara federasi dan pihak keamanan. Sekjen PSSI, Yunus Nusi, sebelumnya sempat memberikan harapan bagi para fans dengan menyatakan bahwa dari sisi jadwal dan fasilitas, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) siap digunakan. “Tidak ada masalah dengan kondisi rumput maupun jadwal stadion untuk laga pekan ke-32 ini,” ujarnya.

​Namun, pernyataan tersebut terbentur tembok realitas di lapangan. Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol. Asep Edi Suheri, menunjukkan sikap yang jauh lebih berhati-hati. Usai melakukan pertemuan tertutup dengan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, di Balai Kota pada 5 Mei 2026, sang Kapolda memilih tidak memberikan pernyataan instan. Gestur “salamnya” seolah menjadi sinyal bahwa izin keamanan bagi puluhan ribu penonton di jantung Jakarta masih memerlukan kajian risiko yang sangat mendalam.

Tentu saja, kita tidak bisa menutup mata terhadap posisi aparat keamanan. Mereka memikul tanggung jawab besar atas keamanan publik dan nyawa manusia. Di tengah tensi tinggi derbi yang kerap memanas, terutama di media sosial, kekhawatiran akan terjadinya gesekan fisik menjadi alasan logis di balik ketatnya perizinan. Dalam konteks ini, keputusan memindahkan laga bisa dilihat sebagai langkah preventif untuk menghindari potensi insiden yang tidak diinginkan.

​Pemerintah Provinsi DKI sebenarnya telah mencoba menjembatani hal ini. Gubernur Pramono Anung mengakui ada pembahasan intens mengenai pengamanan laga tersebut. Namun, pada akhirnya, keputusan tetap berada di tangan pemegang otoritas keamanan. Di sisi lain, kekecewaan mendalam tak bisa disembunyikan oleh manajemen Persija. Ketua Panpel Persija, Ferry Indrasjarief, menegaskan pihaknya telah mengupayakan segala koordinasi. Namun, 1.000 kilometer jarak ke Samarinda akhirnya menjadi harga mahal yang harus dibayar.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, menjelaskan bahwa pemindahan ke Stadion Segiri adalah langkah terakhir agar liga tetap berjalan sesuai kalender. “Ini jalan tengah agar jadwal tidak berantakan dan pertandingan tetap berjalan sesuai tanggal,” ungkapnya.

​Namun, bagi publik sepak bola, terutama warga Jakarta, ini tetaplah sebuah ironi. Jakarta memiliki SUGBK yang bersejarah dan Jakarta Internasional Stadion (JIS) yang modern, namun untuk satu laga high-risk, kota ini seolah tak berdaya. Kita dipaksa melihat kenyataan bahwa kemegahan stadion belum tentu sebanding dengan kesiapan manajemen risiko keamanan yang modern.

Pertanyaan publik pun mengemuka. Sampai kapan tim-tim besar Indonesia seperti Persija itu harus mencari “jalan pintas” dengan membuang masalah ke luar daerah daripada menyelesaikan akar masalah keamanan di kota asalnya? Tanpa keberanian untuk mengelola risiko secara modern dan integratif, stadion megah tak ubahnya hanya akan menjadi “monumen mati” saat laga-laga besar tiba.

​Keputusan H-4 ini bukan sekadar soal skor di lapangan. Tapi soal pentingnya komitmen kolektif agar tim seperti Macan Kemayoran tak lagi “terusir” dari kandangnya sendiri, sambil tentu tetap menjamin keselamatan setiap nyawa yang datang ke stadion. (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.