KabarBaik.co, Surabaya- Pagi itu, serambi masjid kampung mulai ramai. Satu per satu warga datang membawa rantang, tampah, atau besek. Isinya hampir sama. Ketupat, lengkap dengan lauk sederhana. Opor, sambal goreng, atau sekadar tahu, tempe atau telur berbumbu. Tidak ada yang mewah, tapi justru di situlah hangatnya terasa.
Ketupat-ketupat itu kemudian ditata bersama. Warga duduk melingkar. Bukan milik siapa-siapa, tapi milik semua. Sebelum disantap, modin memimpin doa. Suara lirihnya mengalun, memanjatkan syukur, memohon berkah, sekaligus mengirim doa untuk leluhur. Setelah itu, makan bersama. Tanpa sekat.
Pemandangan seperti ini dulu jamak ditemui di berbagai sudut Jawa Timur. Tradisi yang sederhana, tapi sarat makna. Ketupat bukan sekadar hidangan Lebaran, melainkan jembatan kebersamaan.
Dari Dakwah ke Tradisi
Jejak ketupat sebagai bagian dari tradisi Lebaran bisa ditelusuri hingga abad ke-15, saat Islam mulai berkembang di tanah Jawa. Salah satu tokoh penting dalam proses ini adalah Sunan Kalijaga, yang dikenal menyebarkan ajaran agama melalui pendekatan budaya.
Masyarakat Jawa kala itu sudah akrab dengan tradisi membungkus makanan menggunakan daun. Ketika Islam datang, kebiasaan ini tidak dihapus, melainkan diberi makna baru. Ketupat kemudian diperkenalkan sebagai simbol dalam perayaan setelah Idul Fitri.
Sejumlah sumber mencatat bahwa dari sinilah lahir tradisi “Bodo Kupat” atau Lebaran Ketupat, yang biasanya dirayakan sepekan setelah Idul Fitri atau 8 Syawal.
Tradisi itu menjadi semacam penutup dari rangkaian Ramadan dan Lebaran. Sebuah momen tambahan untuk bersilaturahmi, setelah suasana formal Lebaran mulai mereda.
Filosofi di Balik Anyaman
Ketupat tidak pernah benar-benar sederhana. Di balik bentuknya yang segi empat dan anyamannya yang rumit, tersimpan filosofi yang dalam.
Dalam budaya Jawa, “kupat” sering dimaknai sebagai ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Sebuah refleksi yang sangat lekat dengan semangat Lebaran: saling memaafkan.
Anyaman janur yang berlapis-lapis melambangkan kesalahan manusia—kusut, tidak selalu rapi. Namun ketika dibelah, ketupat memperlihatkan isi putih bersih. Simbol dari hati yang kembali suci setelah saling memaafkan.
Janur, daun kelapa muda yang digunakan untuk membungkus ketupat, juga sarat makna. Ia sering dimaknai sebagai jatining nur—cahaya sejati. Sebuah pengingat bahwa setelah Ramadan, manusia diharapkan kembali pada fitrahnya.
Kupatan: Lebaran yang Lebih Cair
Di Jawa Timur, ketupat bahkan punya “hari raya” sendiri. Masyarakat menyebutnya Kupatan atau Lebaran Ketupat. Berbeda dengan Idul Fitri yang cenderung formal, Kupatan terasa lebih santai. Orang datang ke rumah tetangga tanpa undangan, membawa makanan, lalu pulang dengan cerita dan tawa.
Di beberapa daerah seperti Madura, tradisi ini dikenal sebagai tellasan topa’. Di wilayah pesisir seperti Pasuruan dan Probolinggo, bahkan ada tradisi melarung ketupat ke laut sebagai bentuk syukur.
Membuat ketupat sendiri adalah proses yang tak kalah menarik. Dimulai dari menganyam janur menjadi selongsong berbentuk segi empat—pekerjaan yang butuh ketelatenan.
Setelah itu, beras dimasukkan sekitar setengah bagian. Ketupat kemudian direbus selama berjam-jam hingga matang sempurna. Setelah ditiriskan, hasilnya adalah nasi padat beraroma khas daun kelapa.
Ketupat lalu hadir di meja makan, menemani berbagai hidangan khas Lebaran. Namun sebenarnya, yang membuatnya istimewa bukan hanya rasanya, melainkan proses
Kini, tradisi ketupat mungkin tidak lagi selalu dirayakan di masjid seperti dulu. Banyak yang memilih merayakan di rumah, lebih praktis, lebih sederhana. Namun di balik perubahan itu, maknanya tetap sama.
Ketupat masih menjadi simbol pengakuan kesalahan, pengikat silaturahmi, dan pengingat bahwa kebersamaan adalah inti dari perayaan.
Seperti anyaman janur yang saling terkait, tradisi ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada hubungan, ada keterikatan, ada kebersamaan.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan ketupat. Ketupat bukan sekadar makanan, melainkan cerita yang terus diwariskan, dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*)







