KabarBaik.co- Tuntas sudah Konferensi Wilayah (Konferwil) XVIII Nahdlatul Ulama (NU) Jatim di Ponpes Tebuireng, Jombang. Minggu (4/8) malam, kegiatan periodik lima tahunan itu menetapkan Pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri, KH Anwar Manshur, sebagai Rais Syuriah. Adapun KH Abdul Hakim Mafudz (Gus Kikin), pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, menjadi ketua tanfidziah PWNU Jatim periode 2024-2029.
Dalam proses penjaringan calon oleh peserta Konferwil muncul dua nama. Yakni, Gus Kikin dan Ketua PCNU Bangkalan KH Muhammad Makki Nasir (Lora Makki). Dari 45 cabang NU se-Jatim, yang mengikuti tahapan pemungutan suara sebanyak 43 suara. Gus Kikin mendapat 38 suara (88 persen) dan Lora Makki 5 suara (12 persen).
Amin Said Husni, pimpinan sidang pleno, pun membacakan beberapa ketentuan untuk dapat menjadi calon seperti diatur dalam tata tertib. Di antaranya, bakal calon harus mendapatkan dukungan minimal 30 persen suara. Sesuai tatib, yang berhak menjadi calon hanya Gus Kikin.
Selain syarat mendapatkan dukungan minimal 30 persen suara, juga terdapat beberapa persyaratan lain. Termasuk mendapatkan persetujuan dari KH Anwar Manshur Rais Syuriah PWNU Jatim terpilih. Begitu diminta untuk memberikan persetujuan, KH Anwar Manshur pun menjawab lugas sembari tersenyum. ‘’Saya sangat setuju,’’ ungkap kiai sepuh itu.
Sebelumnya, KH Anwar Manshur mendapat mandat sebagai Rais Syuriah PWNU Jatim hasil musyawarah tujuh kiai yang terpilih sebagai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Yakni, KH Anwar Manshur, KH Ubaidillah Faqih (Ponpes Langitan, Tuban), KH Miftachul Akhyar (Rais Am PBNU), KH Anwar Iskandar (ketua umum MUI Pusat), KH Moh. Hasan Mutawakkil Alallah (ketua MUI Jatim), KH Fuad Nur Hasan (Ponpes Sidogiri), dan KH Mudatsir Badaruddin (Rais PBNU).
KH Anwar Manshur sudah menjabat Rais Syuriah PWNU Jatim sejak periode 2015. Gus Kikin juga akan kembali meneruskan jabatannya sebagai ketua PWNU Jatim lima tahun mendatang. Sebelumnya, sejak Desember 2023 lalu, Gus Kikin ditunjuk PBNU sebagai Plt ketua PWNU Jatim. Ia menggantikan KH Marzuki Mustamar yang diberhentikan PBNU sejak September 2023.
Untuk diketahui, sebetulnya KH Anwar Manshur dan Gus Kikin tidak lain merupakan saudara sepupu atau saudara satu kakek. Yakni, dari KH Anwar Alwi, pendiri Ponpes Paculgowang, Jombang. Semasa hidup, KH Anwar Alwi satu angkatan sekaligus sahabat karib dengan KH Hasyim Asyari dan KH Abdul Karim (Mbah Manab), pendiri Ponpes Lirboyo.
Nah, KH Anwar Manshur adalah salah seorang putra dari KH Manshur Anwar. Kemudian, Gus Kikin merupakan anak dari KH Mahfudz Anwar, pendiri Ponpes Seblak, Jombang KH Manshur dan KH Mahfudz adalah kakak-adik, putra KH Anwar Alwi tersebut.
Dalam perkembangannya, tiga ulama besar di zamannya, yakni KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, KH Anwar Alwi Paculgowang, dan KH Abdul Karim Lirboyo, yang sama-sama santri Syaikhona KH Kholil (Mbah Kholil) Bangkalan itu saling memperjodohkan anak dan keturunannya menjadi keluarga.
Sosok Kiai Anwar Alwi, Kakek KH Anwar Manshur dan Gus Kikin
KH Anwar Alwi lahir pada 23 Ramadan 1291 H, putera kedua dari empat bersaudra pasangan KH Alwi dan Nyai Hj Sholihah. Sejak kecil, Anwar mengikuti jejak ayahnya, KH Alwi, dalam mendalami ilmu agama. KH Alwi membimbing langsung Anwar kecil.
Dengan sikap dan kepribadian KH Alwi yang luhur serta telaten dalam mendidik para santri dan putera-puterinya, membuat Anwar kecil semakin tekun dalam belajar. Saking semangatnya, muncullah keinginan dari Anwar kecil untuk menggali ilmu-ilmu agama lebih dalam lagi, sehingga mendorong Anwar untuk pergi belajar di Pondok Pesantren lain.
Namun, karena dirasa belum cukup usia, maka keinginanya itu tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya. Selang beberapa tahun dan dirasa Anwar sudah cukup dewasa, akhirnya kedua orang tuanya memberikan restu kapadanya untuk memperdalam ilmu agama di pesantren lain. Pengembaraannya mencari ilmu ini tidak sebatas pada pesantren di Pulau Jawa saja. Namun, juga yang sampai di luar Jawa, tepatnya di Pulau Madura.
Beberaoa oesantren yang pernah singgahi untuk mendalami ilmu agama antara lain Pondok Pesantren Wonokoyo Jogoroto Jombang, Pondok Pesantren Trenggilis Wonokromo Surabaya, Pondok Pesantren Panji Sidoarjo, Pondok Pesantren Bangkalan Madura, dan menimba ilmu di Makkah.
Mengutip dari beberapa literatur, saat awal nyantri di Bangkalan di bawah asuhan Mbah Kholil, kedatangan Anwar muda di Bangkalan menyisakan kisah unik. Konon, ketika baru melangkahkan kaki untuk memasuki Pondok Pesantren Bangkalan, Anwar tidak disambut dengan hangat oleh Sang Kiai sebagaimana layaknya seorang santri baru. Malah, sebaliknya. Anwar muda malah dikejar-kejar dan dilempari batu layaknya seorang pencuri oleh Almaghfurllah Mbah Kholil.
Selang beberapa hari setelah berada di Bangkalan, cerita menjadi lain. Anwar dikejar-kejar dan dilempari batu itu, justru menjadi pertanda sebagai santri yang akan sukses dan dekat atau disayang oleh Sang Kiai. Betul, bahkan kala itu Anwar sering diberi tugas untuk melakukan pekerjaan oleh Sang Kiai. Di antaranya mencucikan pakaian Sang Kiai.
Setelah kurang lebih empat tahun menimba ilmu dengan gemblengan Mbah Kholil, datanglah sepucuk surat dari ayahnya, KH Alwi. Isinya, memberi kabar bahwa ayah dan ibunya akan pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Sepucuk surat itu menimbulkan keinginan Anwar untuk ikut pergi haji bersama orang tuanya.
Hal itu juga menggugah tekadnya untuk lebih menyempurnakan ilmu agamanya di Tanah Suci. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan. Anwar lantas meminta izin ke Mbah Kholil. Dengan berat hati, Anwar belia lantas meninggalkan Bangkalan dan berpisah dengan Sang Kiai.
Nah, sewaktu Anwar menimba ilmu di Bangkalan, salah satu teman akrabnya adalah KH Hasyim Asy’ari, Pertemanan selama nyantri di Bngkalan itu juga berlanjut menjadi ikatan kekeluargaan. Sebab, putera KH Anwar menikah dengan cucu KH Hasyim Asy’ari. Besan KH Anwar lainnya adalah KH Abdul Karim, Lirboyo, dan KH Ma’ruf, Kedunglo, Kediri.
Sekitar 1890, Anwar beliau beserta kedua orang tuanya berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Sebagaimana tekadnya setelah selesai melakukan ibadah haji, Anwar mohon doa restu kepada orang tuanya untuk bermukim di Tanah Suci, sementara ayah bundanya kembali ke Tanah Air Indonesia.
Di luar dugaan, ternyata beberapa hari bermukim di Makkah, Anwar bertemu kembali dengan KH Hasyim Asy’ari, salah satu sahabat karibnya ketika sama-sama menjadi santri di Bangkalan.
Empat tahun kemudian, ayahnya, KH Alwi berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji kali kedua, sekaligus menengok Anwar. Karena melihat ayahnya sudah sepuh, Anwar minta izin untuk pulang bersama ayahnya. Karena menganggap sudah cukup menimba llmu diTanah Suci, KH Alwi pun menyetujui keinginan pulang tersebut.
Selang beberapa waktu setelah Anwar berada di rumah, KH Alwi meninggal dunia. Sejak itulah, KH Anwar menggantikan ayahnya di Pesantren Paculgowang. Sebab, KH Anwar merupakan anak laki-laki tertua dari empat bersaudara.
Kepribadian dan Karamah KH Anwar Alwi
Dalam mendidik dan melatih serta membimbing para santri, KH Anwar terkenal sangat telaten. Kelemahlembutan dalam mendidik santri inilah yang kemudian membentuk kepribadian seorang kiai disegani para santri dan masyarakat sekitar.
Karakteristik demikian bukan hanya dicurahkan kepada para santri dan masyarakat sekitar saja, melainkan juga kepada putera-puterinya. Lebih-lebih dalam ikatan pendidikan. Hampir seluruh anaknya mendapat pendidikan langsung darinya. Karena itu, wajar jika kelak anak-anaknya mewarisi sikap kepribadiannya.
Cara dan prinsip dakwah KH Anwar lebih cenderung memakai sistem door to door atau dari rumah ke rumah. Selalu bertindak bijaksana dalam mengajak orang-orang yang belum mau melaksanakan syariat Islam. KH Anwar kurang setuju bila dakwah di tengah-tengah masyarakat hanya dengan ceramah dan pengajian umum saja.
Prinsip dakwah yang dipakai KH Anwar, rupanya ada sedikit perbedaan dengan cara dakwah KH Hasyim Asy’ari, yang cenderung dakwah lewat melalui pengajian umum atau di panggung. Hingga pada suatu hari, KH Anwar menolak dilaksanakannya lomba pidato di Pesantren Tebuireng, yang waktu itu ketua pondoknya adalah KH Wahab Hasbullah, yang kelak kemudian menjadi pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Perbedaan pandangan antara KH Anwar dengan KH Hasyim Asy’ari tidak terbatas hanya pada soal dakwah. Namun, juga beberapa persoalan lain. Di antaranya tentang boleh tidaknya membudayakan Hari Raya Idul Fitri, dengan istilah Hari Raya Ketupatan. Menurut KH Hasyim Asy’ari, hal itu boleh lantaran hanya beda istilah saja.
Pandangan lainnya tentang boleh tidaknya memasang kentongan di masjid. Menurut KH Hasyim Asy’ari, pemasangan kentongan atau bedug itu tidak boleh. Sebab, kentongan itu menyerupai lonceng gereja. Karena itu, orang Islam tidak boleh memasang dan memukul kentongan di masjid. Di pihak lain, KH Anwar berpandangan bahwa memasang kentongan itu boleh. Alasannya, kentongan dalam tradisi Islam itu tidak sama dengan lonceng yang di pasang di gereja-gereja orang Kristen.
Kendati demikian, perbedaan pandangan itu tidak lantas membuat hubungan KH Hasyim Asya’ri dan KH Anwar menjadi renggang. Keakraban keduanya tetap terjalin baik. Bahkan, ibaratnya bagai sejoli yang sulit dipisahkan. Terutama dalam mengadakan acara-acara yang erat kaitannya dengan perjuangan. Baik formal maupun nonformal.
KH Anwar dan KH Hasyim Asy’ari kerap pergi bersama ke Surabaya dalam menghadiri rapat-rapat pembentukan Jamiyyah NU. KH Anwar pun aktif dalam menghadiri muktamar-muktamar NU. Mulai muktamar pertama hingga keempat.
Perjuangan Masa Kolonial Belanda
Di zaman kolonial Belanda, meski tidak tercantum namanya sebagai tokoh muapun anggota organisasi masyarakat, KH Anwar tetap seorang ulama yang banyak berkiprak di tengah medan perjuangan. KH Anwar selalu turun ke lapangan melihat dan memberikan tuntunan kepada masyarakat agar melaksanakan perkara yang haq dan meninggalkan perkara yang batil.
Tuntunan demikian tidak terbatas hanya sebatas hukum yang harus dilaksanakan oleh umat Islam saja. Namun, juga tentang hukum-hukum dan kewajiban dari sebagian orang Islam demi keselamatan sesama. Termasuk bagaimana hukumnya jihad dalam mengusir penjajah yang hendak merusak Islam dan merongrong negara.
Sikap antipati terhadap pemerintahan kolonial terlihat jelas setiap KH Anwar memberikan pengajian-pengajian. Naik ngaji kuping maupun pengajian yang diselenggarakan dengan jadwal harian dan mingguan. Masyarakat sekitar Jombang sudah mengetahui persis bahwa KH Anwar adalah seorang Kiai yang dengan tegas menentang kerja sama dengan segala bentuk penjajahan.
Syahdan, banyak dari organisasi masyarakat yang melakukan aksi pemogokan, sehingga tidak luput KH Anwar bersama KH Hasyim Asy’ari juga kiai lainnya dituduh pemerintah kolonial ikut terlibat melakukannya. Padahal, pada waktu itu aksi-aksi pemogokan yang paling banyak melakukan adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) dan sebagian kecil dilakukan oleh Sarikat Islam di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto, yang memang kebanyakan anggotanya dari para kiai. Namun, karena itu hanya fitnah belaka, maka para kiai akhirnya dibebaskan oleh pihak kolonial.
Pada zaman itu, KH Anwar juga sering menjadi imam salat di Masjid Agung Jombang dan daerah sekitarnya. Dalam menuanaikan tugas rutinnya, sering menggunakan sepeda pancal atau dokar sebagai sarana transportasi yang murah dan efektif. Anehnya, jika KH Anwar sedang pergi mengendarai dokar itu, tidak ada kendaraan yang berani mendahuluinya.
Konon, pernah dokar yang dikendarai KH Anwar berpacu dengan kereta api (KA) jurusan Jombang-Pare, sehingga dokar itu terserempet. Namun, apa yang terjadi kemudian? Ternyata, bukan dokarnya yang rusak dan terbalik, melainkan justru tangga tempat naik KA yang rusak berat. Bahkan, sampai patah berantakan. Adapun KH Anwar beserta dokarnya selamat, tidak mengalami luka-luka serta kerusakan sedikitpun.
Di tengah rutinitas mendidik santri dan masyarakat, KH Anwar aktif mengikuti muktamar-muktamar NU. Begitu juga Muktamar NU keempat yang diselenggarakan di Semarang, Jawa Tengah, pada 17-20 Septembar 1929. Ketika itu, KH Anwar berangkat dengan KH Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lainnya dari Jombang.
Sepulangnya dari mukmatar, KH Anwar jatuh sakit. Walaupun demikian, tetap aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagaimana biasanya. Dalam keadaan sakit itu, terus istiqamah mendidik para santrinya. Bahkan, masih menyempatkan diri untuk mengisi pengajian-pengajian di luar desa dengan mengendarai sepeda pancal sendiri.
Beberapa bulan berikutnya, saat mengisi pengajian di masjid, KH Anwar mengakhiri pengajian pukul 09.00 WIB dan berpamitan hendak keluar dari desa. Padahal, jadwal pengajian baru akan selesai pukul 14.00 WIB. Di siang terik matahari itu, KH Anwar pergi ke Nglaban, Mojowarno. Jaraknya kurang lebih 15 kilometer dari Cukir, Jombang, tempat tinggalnya. Menggunakan sepada pancal.
Kepergiannya itu untuk melihat genteng yang rencananya akan dipasang di masjid Pesantren Sokopuro (pondok putera yang diasuh menantunya, KH Kholil Abdul Hadi). Setelah selesai melihat genteng tersebut, KH Anwar langsung pergi ke Sokupuro. Setiba di lokasi, KH Anwar melihat kondisi bangunan bagian atas dengan menaiki tangga.
Karena kondisi fisik serta yang sudah sepuh, ketika itu KH Anwar jatuh dari tangga. Lalu, tidak sadarkan diri. Tak pelak, santri dan orang-orang di sekitarnya pun panik. Mereka lantas berupaya kuat untuk memberikan pertolongan. Berbagai macam pertolongan telah dilakukan. Namun, takdir berkehendak lain. Pada 9 Jumadil Ula, Ahad Wage 1348 H atau 1929 M, KH Anwar berpulang.
Ketika itu, segenap umat Islam terutama para kiai/ulama, benar-benar amat terpukul serta berduka yang amat dalam. Betapa tidak, di saat bangsa Indonesia masih dikoyak-koyak penjajah, seorang tokoh dan guru yang penuh semangat yang ikhlas tanpa pamrih membina masyarakat, telah pergi selamanya. Karena itu, kepergian KH Anwar diiringi kepedihan umat.
Masyarakat berbondong-bondong membawa pulang jenazahnya dari Desa Sukopuro ke rumah duka di Paculgowang. Ribuan orang bertakziah dan bergantian menunaikan salat jenazah sampai beberapa kali.
Ketika itu, yang kali pertama menjadi imam adalah KH Hasyim Asy’ari, sahabat akrabnya semas masih hidup. Imam salat jenazah kedua, ketiga, dan seterusnya adalah para kiai lainnya. Husnl khatimah. (*)