KabarBaik.co, Gresik,- Minggu (1/2) malam, sorot lampu GOR Tri Dharma, Gresik, terasa berpijar lebih terang dari biasanya. Gemuruh dukungan suporter menggema tanpa henti, riuh seperti kawanan lebah yang terusik. Maklum, tim voli putri Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia (GPPI) menjamu Medan Falcons sekaligus menjadi laga penutup seri keempat Proliga 2026.
Di salah satu sudut lapangan, seorang remaja 15 tahun terlihat melakukan pemanasan. Tatapannya terkunci rapat ke arah net, penuh fokus dan determinasi. Gadis itu adalah Khanza Putri Yansi Ganeshtri, permata muda voli asal Tulungagung, Jawa Timur. Malam tersebut boleh jadi menjadi salah satu ujian terberat dalam karier profesionalnya yang masih sangat hijau.
Mengenakan jersey merah Medan Falcons, Khanza datang bukan sebagai kawan, melainkan sebagai penantang bagi mantan timnya, Gresik Phonska Plus. Pertandingan itu jelas bukan sekadar laga Proliga biasa, melainkan panggung ketika masa lalu dan masa depan bertemu di satu garis serang yang sama.
Atmosfer laga kian memanas ketika Khanza harus berhadapan langsung dengan pemain asing sarat pengalaman, Annie Mitchem. Jika Khanza adalah simbol masa depan voli Indonesia, Mitchem adalah standar emas profesionalisme kelas dunia. Jam terbangnya di liga-liga internasional menjadikan Mitchem tembok kokoh yang tak mudah ditembus.
Beberapa kali smash keras Khanza dari posisi opposite berhasil diredam blok solid skuad Gresik, termasuk oleh Mitchem. Namun alih-alih ciut, Khanza justru tampak semakin tertantang, seakan ingin membuktikan satu hal. Bahwa, ia mampu.
Dalam sebuah reli panjang, Khanza pun sempat melepaskan spike menyilang yang tajam, melewati jangkauan tangan midle blocker mantan timnya. Lalu, bola itu menghujam tepat di garis belakang. Riuh penonton seketika pecah.
Di usia 15 tahun, Khanza menunjukkan nyali yang tak gentar meski harus beradu kekuatan dengan pemain kelas dunia. Pelatih Medan Falcons, Marcos Sugiyama, bahkan memberikan apresiasi khusus kepada para pemain mudanya.
“Coba lihat Khanza Putri yang usianya baru 15 tahun. Dia mantan pemain Gresik, tapi berani menghadapi timnya sendiri. Itu luar biasa, saya tidak habis pikir,” ujar Marcos dalam konferensi pers seusai laga.
Kembali ke Gresik bagi Khanza jelas bukan perjalanan biasa. Di tribun, banyak pendukung tuan rumah yang tentu masih mengingat bagaimana ia memulai debut di Livoli Divisi Utama saat baru berusia 14 tahun. Kala itu Khanza mungkin hanya “anak bawang” yang selalu mendapat dukungan. Kini, dia datang sebagai salah satu tumpuan poin Medan Falcons.
Meski laga berakhir dengan kemenangan telak 3-0 untuk Gresik Phonska Plus, statistik individu Khanza cukup mengesankan. Dia menjadi salah satu kontributor timnya. Keberaniannya menghadapi para senior—pemain yang setahun lalu masih membimbingnya di akademi—menunjukkan kedewasaan mental yang melampaui usia.
Khanza tak lagi tampak seperti pemain junior yang sedang belajar, melainkan seorang profesional yang tengah mengejar takhta.
Perjalanan Khanza di Proliga musim ini pun tidak selalu mulus. Publik masih mengingat insiden di seri Bandung saat menghadapi Jakarta Livin Mandiri pada pekan lalu. Setelah mencetak cukup banyak poin dan berjuang habis-habisan melawan Yolla Yuliana dkk, tubuh Khanza sempad drop. Dalam video yang beredar, ia harus ditandu keluar lapangan karena kelelahan dan membutuhkan infus.
Insiden itupun sempat memicu perdebatan. Apakah terlalu dini bagi gadis di bawah 17 tahun memikul beban sebagai starter di liga sekeras Proliga?
Namun, boleh jadi bagi Khanza, rasa sakit dan kelelahan itu adalah bagian dari harga yang harus dibayar demi mimpi besar. Dengan tinggi badan yang kini mencapai 180 sentimeter, dia tentu menyadari fisik adalah aset sekaligus tantangan terbesarnya.
Panggilan pelatih tim nasional, Marcos Sugiyama, untuk bergabung dalam pemusatan latihan (Pelatnas) SEA Games 2025 menjadi bukti bahwa bakatnya bukan sekadar sensasi sesaat. Di sana, saat itu dia pun belajar langsung dari idolanya sekaligus senior sesama Jawa Timur, Megawati Hangestri.
Narasi “The Next Jatim” pun terasa semakin nyata. Jika Megawati membuka jalan bagi atlet Indonesia di panggung internasional, Khanza hadir sebagai salah satu generasi berikutnya yang siap berlari. Bahkan, mungkin saja lebih jauh. Dia tak hanya membawa bola voli di tangannya, tetapi juga harapan jutaan gadis muda dari daerah-daerah yang bermimpi menembus level profesional.
Catatan karier Kahnza pun sudah terbilang gemilang. Debutnya bersama tim Gresik di Livoli pada 2023 langsung berbuah manis dengan membantu timnya meraih gelar juara Livoli Divisi Utama musim 2023 dan 2024. Ia juga berkontribusi membawa Gresik Phonska Plus finis di posisi ketiga Proliga 2025.
Khanza sempat terpilih sebagai Player of The Day Livoli Divisi Utama 2024 berkat performa impresifnya. Tak hanya itu, ia turut membawa Jawa Timur menjadi runner-up Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Voli U-16 2025 dan meraih gelar Best Opposite Spiker.
Malam itu, di GOR Tri Dharma, pertandingan mungkin berakhir dengan kekalahan bagi Medan Falcons. Namun bagi pemain muda seperti Khanza, laga tersebut adalah satu lagi bab penting dalam buku biografinya. Tentang keberanian seorang remaja 15 tahun yang berdiri tegak, menantang raksasa, dan menolak menyerah pada lelah.
Setidaknya, dunia voli Indonesia tetap punya alasan kuat untuk menatap masa depan dengan optimisme. Dan, nama Khanza Putri Yansi Ganeshtri, diharapkan menjadi salah satu pemain yang bakal berdiri di barisan terdepan. Semoga. (*)







