KabarBaik.co – Bagi sebagian orang, jam kerja mungkin selesai ketika matahari tenggelam. Namun bagi Happy Oktavia, waktu nyaris tak pernah benar-benar berhenti.
Ia terbagi antara deadline berita dan kebutuhan anak-anaknya, antara lapangan liputan yang tak menentu dan rumah yang selalu menunggu pulang. Di sanalah perannya diuji, sebagai wartawan dan sebagai ibu dan single parent.
Happy memulai perjalanan jurnalistiknya pada 1999 di Radio Mandala Banyuwangi menjadi penyiar kemudian reporter lapangan.
Dunia jurnalistik yang keras, dinamis, dan menuntut kecepatan sudah ia kenal sejak muda. Ketika banyak orang seusianya masih meraba masa depan, Happy justru telah berjibaku dengan siaran langsung dan laporan lapangan.
Tahun-tahun itu pula yang menjadi awal ia belajar tentang pengorbanan, terutama setelah ia menjadi ibu dari anak kembar yang lahir pada 2002.
Menjalani peran sebagai ibu tak serta-merta membuatnya meninggalkan dunia jurnalistik. Justru sebaliknya, pada 2006 ia melangkah lebih jauh dengan bergabung ke TVOne. Pilihan itu bukan tanpa konsekuensi. Jam kerja wartawan televisi tak pernah pasti.
Pagi mencari informasi, siang di lapangan, malam mengejar siaran atau breaking news.
“Dalam situasi itu, anak-anak saya titipkan ke embahnya. Sebenarnya berat, tapi dunia menuntut begitu,” kata Happy.
Situasi itu ia hadapi hampir setiap hari. Ada rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang, meski ia tahu, itulah pilihan terbaik yang bisa ia ambil saat itu, meski si kembar tak pernah protes.
Protes itu baru datang ketika anak-anaknya beranjak dewasa. Bukan tentang ditinggal liputan, melainkan hal-hal sederhana yang justru terasa menyesakkan hati. “Mama nggak pernah masak,” kata anaknya suatu hari.
Kalimat singkat, tapi menancap dalam. Sebab di baliknya ada kerinduan masa kecil, tentang ibu yang hadir sepenuhnya, tentang rumah yang hangat oleh masakan sendiri.
Perubahan perlahan datang. Seiring waktu, situasi kerja lebih bisa diatur, teknologi pun membantu. “Sekarang mama bisa masak,” ujarnya sambil tersenyum, menirukan ucapan anaknya yang penuh kelegaan.
Kalimat sederhana itu menjadi penanda fase baru dalam hidupnya fase di mana ia berusaha menebus waktu yang hilang, meski ia sadar masa kecil anak tak akan pernah terulang.
“Makanya kadang sekarang sekadar saya buatkan telur ceplok itu mereka senangnya luar bisa. Katanya itu makanan paling enak sedunia,” ujar perempuan berusia 40 an itu.
Selain urusan memasak, Happy juga mengenang hal yang disesalinya kala itu. Ia mengaku sering tidak bisa mengantar si kembar sekolah karena ada jadwal liputan.
Namun di tengah keterbatasan waktu, Happy tetap berusaha hadir dengan caranya. Ia mengantar dan menjemput sekolah, sebisa mungkin. “Meskipun tidak sering, tapi setiap ada kesempatan selalu saya upayakan,” bebernya.
Tahun 2013 menjadi titik refleksi penting bagi Happy. Dari pernikahan keduanya lahir bayi perempuan mungil. Ia semakin menyadari bahwa membesarkan anak perempuan membutuhkan perhatian yang berbeda.
Dunia luar tak selalu ramah, dan kehadiran ibu bukan sekadar fisik, tetapi juga emosional. Teknologi memang membantu menjaga komunikasi, tetapi sentuhan, pelukan, dan kebersamaan tetap tak tergantikan.
Di Hari Ibu ini, Happy Oktavia menyampaikan pesan yang lahir dari perjalanan panjangnya. “Karier memang harus dikejar, katanya pelan, tapi tetaplah berpegang pada hati nurani,” pesannya.
Sebab menurutnya, masa kecil anak tidak bisa diulang. Yang terlewat akan menjadi penyesalan, bukan karena kesalahan, melainkan karena momen itu tak pernah kembali.
Happy adalah potret banyak ibu pekerja di luar sana yang berlari mengejar mimpi, namun tetap ingin pulang sebagai ibu seutuhnya. Ia mungkin tak selalu ada di setiap pagi atau sore, tapi cintanya tumbuh dalam keteguhan, pengorbanan, dan usaha untuk selalu kembali.
Di balik setiap berita yang ia liput, ada cerita lain yang tak pernah tayang tentang seorang ibu yang terus belajar memaafkan dirinya sendiri, sambil berharap anak-anaknya kelak mengerti bahwa semua itu dilakukan atas nama cinta.






