Di Balik Aroma Kretek, Doa Seorang Ibu Tak Pernah Padam di Bojonegoro

oleh -123 Dilihat
IMG 20251222 WA0021
Mariati saat memandikan anaknya di kali Avur. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co – Setiap pagi, jauh sebelum azan Subuh menggema, Sri Mariyati telah terjaga. Di rumah sederhana berukuran 5×8 meter persegi di Desa Padangmentoyo, Kecamatan Temayang, Bojonegoro, perempuan kelahiran 1982 itu memulai harinya dengan rutinitas yang tak pernah berubah. Memasak, menyiapkan kebutuhan anak-anak, lalu bersiap bekerja.

Mariyati adalah satu dari lebih dari 2.000 perempuan buruh di Mitra Produksi Sigaret (MPS) di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Selama tujuh jam setiap hari, tangannya lincah melinting rokok, pekerjaan yang telah ia tekuni sejak 1998. Namun, di balik kepulan aroma tembakau itu, tersimpan kisah perjuangan seorang ibu yang tak pernah lelah.

Bersama suaminya, Komari, yang sehari-hari mengais barang bekas untuk dijual ke pengepul, Mariyati membesarkan tiga anak di tengah keterbatasan ekonomi. Dari ketiganya, anak sulung Mariyati yang kini berusia 20 tahun, mengidap disabilitas mental sejak lahir. Kondisi itu membuat sang anak sepenuhnya bergantung pada Mariyati, mulai dari makan, mandi, hingga aktivitas harian.

“Anak pertama saya itu terlahir spesial. Butuh ditangani secara spesial pula,” ujar Mariyati saat ditemui di rumahnya, Senin (22/12).

Setiap pagi, setelah memastikan anak sulungnya aman dan terawat, ia melanjutkan pekerjaan rumah tangga, mulai dari menyapu, mencuci, hingga menyiapkan segala kebutuhan sebelum berangkat ke pabrik.

Kekhawatiran selalu menyertai langkah Mariyati. Beberapa kali, anak sulungnya sering keluar rumah tanpa sepengetahuan keluarga dan ditemukan warga atau polisi di desa hingga lintas kecamatan lain. Peristiwa terakhir terjadi sekitar setahun lalu. Saat itu, Mariyati tengah bekerja dan harus pulang lebih awal demi mencari anaknya. Untungnya, pihak pabrik memberi izin.

“Dia selalu menunggu saya pulang kerja. Pengen ngobrol, bercanda. Waktu di pabrik, pikiran saya sering ke dia,” tuturnya lirih.

Meski hidupnya penuh ujian, Mariyati tak pernah menganggap anaknya sebagai beban. Baginya, kehadiran sang anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sepenuh hati. “Setiap anak adalah titipan dari Allah. Kami akan merawatnya sebaik-baiknya,” ucapnya.

Rumah yang ia tempati saat ini merupakan bantuan dari salah satu perusahaan minyak dan gas di Bojonegoro melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang terdapat di samping kali avur. Namun, rumah itu belum memiliki kamar mandi. Setiap hari, Mariyati harus memandikan anaknya yang berkebutuhan khusus di sungai kecil tak jauh dari rumah.

“Kita syukuri saja apa yang ada. Yang penting saya tetap bisa menjalankan kewajiban sebagai ibu, merawat anak-anak saya semaksimal mungkin,” katanya.

Di Hari Ibu, kisah Sri Mariyati menjadi potret nyata tentang makna keibuan yang sesungguhnya. Ketulusan tanpa syarat, cinta yang tak pernah menyerah, dan doa yang terus hidup di tengah keterbatasan. Di balik kesederhanaannya, Mariyati adalah ibu yang kuat, serta mengajarkan bahwa kasih sayang ibu yang tak pernah kalah oleh keadaan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.