KabarBaik.co – Selama satu dekade, Sunaria, 60 tahun, telah mendedikasikan hidupnya untuk memproduksi terasi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.
Meski Puger tersohor sebagai sentra hasil laut, ironisnya, pengusaha lokal ini justru harus berjibaku dengan hilangnya bahan baku utama udang rebon lokal.
Sunaria tetap memertahankan metode tradisional demi menjaga tekstur dan rasa. Proses dimulai dari penjemuran udang rebon basah selama satu hari, diikuti dengan dua kali tahap penggilingan.
Menariknya, Sunaria tidak sepenuhnya bergantung pada mesin.
“Kalau pakai mesin terus hasilnya kurang bagus dan cepat kering. Jadi pada tahap akhir, saya tetap menumbuknya secara manual,” jelas Sunaria.
Jika cuaca mendukung, proses produksi dari udang basah hingga menjadi terasi siap jual membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Dalam sekali produksi, ia mengolah sekitar 1,5 ton udang basah yang menyusut menjadi sekitar 450 kilogram terasi matang.
Kendala terbesar muncul sejak tujuh tahun terakhir. Udang rebon asli Puger yang dikenal manis dan gurih kini sulit ditemukan. Akibatnya, Sunaria terpaksa mendatangkan bahan baku dari Tuban dan Gresik.
“Udang Puger itu lebih bagus, rasanya lebih manis dan gurih. Tapi sekarang sudah sekitar tujuh tahun tidak ada (langka),” ungkapnya.
Meski menggunakan bahan baku dari luar daerah, Sunaria memegang teguh prinsip kejujuran. Ia tidak berani melabeli produknya sebagai “Terasi Asli Puger” demi menjaga kepercayaan konsumen, meskipun proses produksinya tetap dilakukan di pesisir Puger.
Kualitas terasi buatan Sunaria sudah diakui secara luas. Melalui jaringan tengkulak, produknya yang dikemas dalam kotak seberat 1 kilogram seharga Rp 60.000 ini telah merambah pasar di luar Jawa.
Kegigihan Sunaria adalah potret nyata pelaku UMKM yang mampu beradaptasi dengan keterbatasan alam tanpa mengorbankan integritas. Meski bahan baku lokal menghilang, semangatnya untuk terus berproduksi tidak pernah padam. (*)







