Kolaborasi Kampus dan Perajin, Tenun Jombang Tembus Pasar Interior

oleh -383 Dilihat
Perajin tenun wastra sejahtera ketika memproduksi window blind berbahan ayaman bambu (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co – Warga Dusun/Desa Penggaron, Mojowarno, Jombang, menampilkan transformasi tak biasa dari sentra tenun tradisional. Di antara alat tenun manual, kini terpajang produk window blind (tirai jendela) bernuansa elegan berbahan anyaman lidi bambu yang dipadukan dengan benang tenun khas lokal.

Bukan dari plastik atau aluminium, tirai ini memadukan kesan natural, kokoh, dan etnik. Inovasi tersebut lahir dari kolaborasi intens antara perajin Pokmas Tenun Wastra Sejahtera dengan tim dosen Desain Interior Petra Christian University (PCU) Surabaya.

Kolaborasi ini didukung hibah Program Inovasi Seni Nusantara Kemendikbudristek 2025. Tujuannya menggeser paradigma tenun Jombang yang selama ini identik dengan sarung dan kain, menuju produk desain interior bernilai tambah tinggi.

Peresmian revitalisasi Pokmas Tenun Wastra Sejahtera ditandai dengan serah terima sejumlah alat pendukung produksi, mulai dari alat tenun, alat serut bambu, hingga sisir tenun. Acara tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jombang.

Pengunjung yang datang juga dapat melihat langsung proses produksi tenun, demonstrasi pengambilan gambar di atas kain, hingga mengunjungi ruang pamer produk hasil pengembangan.

Ketua tim peneliti PCU, Dr Sherly de Yong, menyebut pendekatan co-design menjadi kunci utama inovasi ini. Menurutnya, pengembangan produk interior seperti tirai tenun dengan motif kontemporer membuka peluang variasi produk yang jauh lebih luas.

“Proses desain dilakukan bersama antara akademisi, mahasiswa, dan perajin. Tujuannya menciptakan produk baru yang relevan dengan pasar modern tanpa mengikis roh tradisionalnya,” ujar Sherly, Selasa (16/12).

Hasil pendampingan tersebut tidak hanya melahirkan window blind, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk interior lain seperti wall hanging dan taplak meja. Pendampingan telah dilakukan sejak September 2025, mulai dari pemetaan masalah, pendataan bahan baku, pelatihan desain motif, pemasaran digital, manajemen pameran, hingga produksi prototipe.

Produk window blind berbahan tenun bambu ini dibanderol mulai Rp 150 ribu untuk ukuran 45×90 sentimeter. Seluruh produk dibuat secara custom sesuai pesanan, dengan waktu pengerjaan menyesuaikan tingkat kesulitan desain.

“Pengerjaan motif membutuhkan ketelitian tinggi. Rata-rata satu perajin mampu menghasilkan empat sampai lima unit per hari. Untuk tahap perangkaian bisa mencapai tujuh hingga sepuluh unit, tergantung desainnya,” jelas Sherly.

Tim dosen PCU menilai produk ini memiliki potensi besar di pasar interior modern. Karakteristiknya yang lurus, kokoh, semi-transparan, serta berkesan alami dan etnik dinilai cocok untuk berbagai kebutuhan interior.

Di balik inovasi ini, terdapat perjalanan pendampingan panjang yang dimulai sejak 2019. Dosen PCU sekaligus pendamping Pokmas, Lintu Tulistiyantoro, mengungkap awal keterlibatannya bermula dari upaya membantu puluhan ibu-ibu perajin, sebagian besar merupakan single parent yang terdampak PHK pabrik tenun.

“Mereka bercerita, kami bergerak. Awalnya kami kumpulkan dana untuk membeli alat tenun bekas yang dibagikan ke rumah masing-masing. Dari situ produksi sarung dan kain mulai berjalan,” kata Lintu.

Seiring waktu, kebutuhan akan sentralisasi produksi muncul. Kini, kegiatan produksi terpusat di satu sentra dengan 16 perajin tetap. Transformasi ke produk interior disebut Lintu sebagai jawaban atas keterbatasan pasar fashion.

“Dari sarung berkembang ke pakaian jadi dan pewarnaan alami. Tapi pasar fashion ada batasnya. Produk interior membuka cakrawala baru,” ujarnya.

Ketua Pokmas Tenun Wastra Sejahtera, Nusa Amin, menyambut positif terobosan ini. Ia menyebut langkah tersebut sebagai pijakan baru agar tenun Jombang semakin dikenal secara nasional.

“Ini langkah konkret agar tenun kami terus berkembang mengikuti zaman,” tegasnya.

Ke depan, para perajin berharap adanya dukungan pemerintah daerah, khususnya dalam hal promosi dan pemasaran produk. Dengan sentuhan akademisi dan ketekunan perajin lokal, tenun Jombang kini tak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga siap memperindah ruang-ruang hidup modern.

“Tugas kampus ada di pengembangan ide. Untuk membawa produk ini lebih luas, kolaborasi dengan pemerintah daerah sangat dibutuhkan,” pungkas Amin. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.