KabarBaik.co – Sore itu suasana Kampung Kauman di Kelurahan Pekauman, Sidoarjo mulai ramai. Aroma santan yang harum bercampur dengan gula merah menguar dari sebuah dapur sederhana di salah satu sudut kampung. Di dalamnya, Lukman Prasetyo dengan cekatan mengaduk panci besar berisi kuah kolak yang mengepul hangat. Tangannya lincah, seakan sudah terbiasa membuat hidangan ini sejak lama.
Kolak yang dibuatnya bukan kolak biasa. Warga sekitar menyebutnya kolak srikaya, meski tak ada buah srikaya dalam resepnya. Sajian ini berbeda dari kolak pada umumnya karena memiliki isian unik: pisang, kolang-kaling, roti, hingga telur ayam. Keunikan rasanya membuat banyak orang rela antre setiap sore hanya untuk mendapatkannya.
“Ini sudah turun-temurun sejak zaman kakek buyut saya,” ujar Lukman sambil terus mengaduk kuah santan yang mulai mengental.
“Dulu namanya sarikaya, sekarang lebih dikenal sebagai kolak srikaya. Tapi anehnya, kalau dibuat di luar bulan Ramadan, rasanya beda, kurang nikmat,” tambahnya sembari tertawa kecil.
Di luar dapurnya, antrean warga semakin panjang. Diana Novel, salah satu pelanggan setia, mengaku selalu menunggu datangnya bulan Ramadan hanya untuk mencicipi kolak srikaya ini.
“Rasanya gurih, manis, dan roti yang menyerap santan itu bikin makin lezat,” ungkapnya penuh semangat.
Baginya, takjil ini bukan sekadar pelepas dahaga, tapi juga hidangan yang memberi energi untuk beribadah setelah berbuka.
Sementara itu, Saiful, warga asli Kampung Kauman, merasa bahwa kolak srikaya lebih dari sekadar makanan. Ia percaya bahwa sajian ini adalah bagian dari tradisi yang harus terus dilestarikan.
“Di tempat lain belum tentu ada, kalaupun ada pasti asalnya dari sini,” katanya yakin.
Menurutnya, Ramadan di Sidoarjo tak akan lengkap tanpa kehadiran kolak istimewa ini.
Lukman dan keluarganya harus bekerja ekstra keras setiap hari di bulan Ramadan. Dalam sehari, mereka bisa membuat hingga 500 porsi kolak srikaya, yang dijual dengan harga Rp 8.000 per mangkuk. Meski melelahkan, ia merasa bangga bisa meneruskan warisan keluarga.
“Ini bukan sekadar dagangan, tapi juga bagian dari sejarah kampung kami,” katanya.
Seiring matahari yang kian merunduk, suara azan magrib berkumandang. Warga yang telah mendapatkan kolak srikaya segera pulang, siap untuk berbuka puasa. Semangkuk kolak yang hangat dan manis bukan hanya mengganjal perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga membawa kehangatan tradisi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bagi sebagian orang, Ramadan adalah tentang kebersamaan, ibadah, dan berburu takjil khas yang hanya muncul setahun sekali. Dan di Sidoarjo, kolak srikaya adalah simbol dari semua itu. Jika Anda berkunjung ke Sidoarjo saat Ramadan, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi keunikan rasa dari takjil istimewa ini. (*)