KabarBaik.co, Banyuwangi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 3 Banyuwangi tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi siswa, tetapi juga mendorong pengelolaan sampah yang lebih produktif. Sisa makanan dari program tersebut kini diolah menjadi pakan maggot dan pupuk organik oleh para siswa.
Pengolahan sampah MBG itu dilakukan di area belakang sekolah bersama sampah organik lain seperti daun dan ranting. Para siswa mengumpulkan sisa makanan setiap hari untuk dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Hasil budidaya maggot kemudian digunakan sebagai pakan ikan nila yang dibudidayakan di kolam sekolah.
“Sisa makanan dari MBG kami kelola sebagai pakan maggot. Hasilnya kemudian digunakan untuk pakan ikan nila yang ada di kolam sekolah,” ujar M. Fadil, siswa kelas 8 SMPN 3 Banyuwangi, saat ditemui dalam kunjungan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Selasa (7/4).
Selain mengolah sisa makanan, siswa juga memanfaatkan daun dan ranting yang gugur di lingkungan sekolah menjadi kompos premium. Produk pupuk organik tersebut telah dipasarkan dengan harga sekitar Rp 7.500 per kemasan. Mereka juga memproduksi eco enzyme dan pupuk organik cair untuk kebutuhan tanaman di sekolah.
Fadil mengatakan telah mengikuti kegiatan pengelolaan sampah sejak kelas 7. Ia mengaku tertarik karena memiliki minat pada kegiatan pertanian.
“Sejak kelas 7 sudah ikut mengelola sampah. Di rumah juga suka tanam-tanam, jadi senang bisa praktik langsung di sekolah,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi langkah SMPN 3 Banyuwangi yang mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam kegiatan belajar siswa. Menurutnya, pemanfaatan sisa makanan MBG menjadi pakan maggot merupakan bentuk edukasi lingkungan yang aplikatif dan berkelanjutan.
“Ini sangat bagus, anak-anak sudah belajar mengelola sampah dengan benar dan bisa menghasilkan produk yang bermanfaat,” kata Ipuk.
“Ini bisa menjadi role model. Sekolah lain bisa meniru dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing,” imbuh Ipuk.
SMPN 3 Banyuwangi dikenal sebagai sekolah yang syarat prestasi. Salah satunya meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri, predikat tertinggi dalam program sekolah berbudaya lingkungan.
“Sekolah kami juga sebagai sekolah pelopor yang mengintegrasikan edukasi Geopark Ijen ke dalam kurikulum pembelajaran. Kami juga memiliki fasilitas “Geopark Corner,” Duta Geopark, dan modul pembelajaran khusus, serta pernah dikunjungi asesor UNESCO dan Badan Geologi,” terang Holilik, Kepala Sekolah SMPN 3 Banyuwangi.







