Lahir Tanpa Ibu, Ayah Kini Koma, Kisah Fatoni Tak Menyerah hingga Mimpinya Kuliah Terwujud

oleh -174 Dilihat
Rektor Unram Prof Sukardi, bersama Wakil Bupati Lombok Timur Moh. Edwin Hadiwijaya mengunjungi kediaman Fatoni di Dusun Karang Luar, Desa Lenek, Lombok Timur. (Foto: Ist)
Rektor Unram Prof Sukardi, bersama Wakil Bupati Lombok Timur Moh. Edwin Hadiwijaya mengunjungi kediaman Fatoni di Dusun Karang Luar, Desa Lenek, Lombok Timur. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Mataram – Kisah Muhammad Fatoni Ginan Nafsi menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari mimpi. Lahir sebagai penyandang disabilitas tuna daksa, kehilangan ibu sejak dilahirkan, hingga harus menghadapi ayah yang kini terbaring koma, tidak membuat pemuda asal Dusun Karang Luar, Desa Lenek, Lombok Timur itu menyerah mengejar pendidikan.

Perjuangan Fatoni akhirnya mendapat dukungan untuk melangkah ke bangku kuliah setelah diterima di Program Studi Teknik Industri Universitas Mataram (Unram).

Kampus tersebut memberikan bantuan berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT), fasilitas asrama, laptop untuk menunjang perkuliahan, serta berupaya mencarikan orang tua asuh agar studinya dapat berjalan hingga selesai.

Dukungan itu disampaikan saat Rektor Unram Prof Sukardi, bersama Wakil Bupati Lombok Timur Moh. Edwin Hadiwijaya mengunjungi kediaman Fatoni beberapa waktu lalu.

“Siapa pun berhak kuliah. Yang terpenting adalah tetap semangat belajar dan terus berusaha meraih cita-cita,” kata Prof. Sukardi.

Bagi Fatoni, bantuan tersebut bukan sekadar meringankan biaya kuliah, tetapi juga menghadirkan harapan baru setelah sekian lama berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.

“Ketika mendengar semua dukungan itu, saya sampai meneteskan air mata. Bukan karena sedih, tetapi karena seperti ada beban yang selama ini saya pikul tiba-tiba terangkat,” ungkapnya.

Sejak kecil, Fatoni tumbuh dalam kondisi yang tidak mudah. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya, sementara sang ayah kini menjalani perawatan dalam kondisi koma.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan fisik, ia tetap berusaha menyelesaikan sekolah dengan tekad untuk mengubah masa depannya melalui pendidikan.

Semangat itu pula yang membuatnya dikenal sebagai sosok pantang menyerah. Kepala Dusun Karang Luar, Mugni Labib, mengatakan Fatoni tidak pernah menjadikan kondisi fisiknya sebagai alasan untuk berhenti berkarya.

“Dari kecil mentalnya kuat. Dia tidak pernah merasa rendah diri. Apa pun yang ingin dicapai selalu diusahakan. Dia anak yang gigih dan tidak pernah menyerah,” ujar Mugni.

Menurutnya, selama bersekolah Fatoni selalu mendapat dukungan dari teman-temannya yang bergantian mengantar dan menjemput ke sekolah.

Selain belajar, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan desain, bahkan dipercaya membantu mengoperasikan peralatan produksi kerajinan berbahan kayu milik warga.

Kini, Fatoni bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa. Ia berharap dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita.

Kisah Fatoni membuktikan bahwa mimpi dapat terus hidup meski seseorang lahir dengan berbagai kekurangan.

Ketekunan, dukungan keluarga, masyarakat, dan kepedulian berbagai pihak dapat menjadi jembatan bagi anak-anak berprestasi untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan tinggi.

Di balik kisah ini, tersimpan pesan sederhana: selalu ada harapan bagi mereka yang tidak berhenti berjuang.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.