KabarBaik.co, Nganjuk – Suasana hangat penuh persaudaraan menyelimuti Nganjuk saat rombongan biksu dari empat negara Asia Tenggara melintas. Para biksu yang sedang menjalani ritual jalan kaki suci (Thudong) dari Bali menuju Candi Borobudur ini mendapatkan sambutan luar biasa dari warga setempat.
Perjalanan spiritual ini dinilai menjadi momentum penting untuk menunjukkan kuatnya rasa toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di daerah tersebut.
“Buat mereka, ini sebuah perjalanan yang bersifat keagamaan untuk mengikuti Hari Waisak nanti di Borobudur. Ini sebuah perjalanan suci untuk perdamaian,” ujar Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nganjuk, H. Solihin As’audi, saat ditemui di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong atau Klenteng Sukomoro, Kamis (21/5).
Kehadiran jajaran pengurus FKUB di Klenteng Sukomoro yang menjadi tempat singgah para biksu bukan tanpa alasan. Haji Solihin menegaskan bahwa aksi penyambutan ini menjadi pesan kuat kepada dunia luar mengenai wajah asli masyarakat Nganjuk yang penuh kedamaian, ramah, dan sangat menghargai setiap perbedaan yang ada.
“Mereka melintas ini perlu mensupport. Yang penting itu jangan sampai mereka itu terganggu. Waktunya sudah dihitung sedemikian rupa. Nah, kalau ada gangguan di jalan itu sungguh akan merepotkan,” tambah Haji Solihin memberikan imbaua.
Sebagai tokoh umat Islam sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Haji Solihin menegaskan bahwa tidak ada sekat dalam urusan kemanusiaan. Sikap ramah dan terbuka yang ditunjukkan oleh warga Nganjuk merupakan refleksi nyata dari nilai-nilai luhur yang merangkul semua golongan tanpa memandang latar belakang.
“Yang kita tunjukkan adalah sifat humanioranya. Jadi menunjukkan kepada dunia bahwa Islam itu agama yang terbuka, agama yang moderat untuk semua golongan, semua agama, semua ras, dan seterusnya,” pungkasnya. (*)








