Langkah Strategis Danantara dan MIND ID Perkuat Hilirisasi Bauksit

oleh -55 Dilihat
Penampakan SGAR Fase 1 di Mempawah, Kalimantan Barat saat injeksi bauksit perdana pada September 2024. (Foto: Ist/Tankapan layar YT Sekretariat Presiden)

KabarBaik.co, Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah serius menggarap hilirisasi bauksit. Melalui Danantara Indonesia dan MIND ID, sederet proyek strategis telah disiapkan untuk merealisasikan produksi bauksit-alumina-aluminium di dalam negeri. Tujuan utamanya, meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Berdasarkan data Badan Geologi ESDM, Indonesia memiliki cadangan bauksit yang melimpah secara global. Rinciannya, sumber daya bauksit sekitar 7,48 miliar ton dan cadangan sekitar 2,78 miliar ton. Hal ini menjadikan bauksit sebagai komoditas strategis sekaligus aset penting dalam pembangunan industri aluminium nasional.

Dari sisi kebijakan dan regulasi, hilirasi bauksit masuk dalam UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Antara lain mengatur pengolahan dan pemurnian mineral di dalam negeri, pelarangan ekspor mineral bahan mentah hingga akselerasi pembangunan fasilitas smelter.

Keseriusan dalam hilirisai bauksit ini juga berkaca pada keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam hilirisai produk nikel. Kebijakan Pemerintah dalam mengakhiri ekspor bijih nikel tahun 2020 lalu sukses mendongkrak nilai tambah ekonomi Indonesia serta multiplier effect lainnya.

Seperti diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat menjadi pembicara pada Indonesia Economic Outlook 2026, 13 Februari kemarin. Bahlil menyebut, kebijakan menyetop ekspor bijih nikel membawa dampak nyata peningkatan nilai tambah ekonomi hingga 10 kali lipat.

“Kita pernah menyetop ekspor ore nikel (tahun 2020). Total ekspor (turunan, Red) nikel kita tahun 2018-2019 itu hanya USD 3,3 miliar, dan begitu kita melarang ekspor, di 2024 itu total ekspor kita sudah mencapai USD 34 miliar. 10 kali lipat hanya dalam lima tahun,” jelasnya.

Capaian ini adalah salah satu gambaran nyata dampak hilirisasi. Setelah pelarangan ekspor bijih nikel, perusahaan tambang berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan fasilitas pengolahan-pemurnian (smelter) untuk menghasilkan produk olahan bernilai tinggi seperti NPI, ferronickel, stainless steel hingga prekursor baterai. Alhasil, pengolahan nikel dari hulu-hilir dilakukan di dalam negeri.

Menurutnya, keberhasilan itu menjadi dorongan pertumbuhan ekonomi yang merata dan menciptakan lapangan pekerjaan. Sehingga langkah serupa akan diterapkan pada sejumlah komoditas strategis lainnya, terutama mineral bauksit.

“Tahun lalu (2023, Red) kita melarang ekspor bauksit. Dan tahun ke depan untuk mengkaji komoditas lain, termasuk timah tidak lagi boleh ekspor baranag mentah. Silakan teman-teman mau bangun hiliriasi investasi di dalam negeri,” tegas mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani mengungkap langkah strategis hilirisasi komoditas strategis yang menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Untuk hilirisasi bauksit saja, pihaknya menggelontorkan investasi tembus Rp 53,1 triliun pada tahun 2025.

“Proyek hilirisasi yang on the pipeline, di mana dari total 20 program hilirisasi ini, 6-7 sudah dimulai (groundbreaking, Red) sejak minggu lalu. Di antaranya adalah smelter alumina menjadi aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Termasuk bauksit menjadi grade alumina,” beber Rosan.

CEO Danantara Indonesia Rosan P. Roeslani (paling kiri berdiri) saat paparan di acara Indonesia Economic Outlook 2026. (Foto: Ist)

Dalam keterangan tertulisnya, Rosan menegaskan bahwa Program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” tutupnya.

Proyek SGAR Kapasitas 2 Juta Ton dan Smelter Aluminium Baru

Sederet proyek strategis telah dijalankan MIND ID dalam rangka memperkuat hilirisasi bauksit. Tahun 2025, telah membangun dan mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 di Mempawah, Kalimantan Barat. Nilai investasi mencapai Rp 16,7 triliun.

Fasilitas pengolahan bijih bauksit menjadi alumina ini memiliki kapasitas produksi 1 juta ton per tahun. Produk alumina SGAR Fase 1 nantinya akan menyuplai kebutuhan smelter aluminium INALUM. Dampaknya, ketergantungan terhadap impor alumina bisa dikurangi secara signifikan.

Tidak berhenti di situ, upaya memperkuat industri aluminium nasional terus dilakukan. Bersama INALUM dan ANTAM, MIND ID membangun proyek SGAR Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat. Modal yang ditanamkan sebesar Rp 14,8 triliun dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina. Target beroperasi akhir tahun 2028.

Jika fasilitas SGAR 1 dan 2 telah beroperasi secara keseluruhan, maka total kapasitas produksi alumina di dalam negeri mencapai 2 juta ton per tahun. Sehingga mampu memenuhi keseluruhan kebutuhan industri aluminium nasional. Tidak lagi impor.

“Hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri yang semakin kuat, serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor,” kata Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin dalam keterangan tertulisnya.

Di sektor hilir, MIND ID juga memperbesar kapasitas produksi smelter aluminium.  Inisiatif ini meliputi pembangunan smelter aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat dengan nilai investasi Rp 40,6 triliun. Memiliki kapasitas produksi 600 ribu ton aluminium per tahun, fasilitas ini akan mendukung rencana peningkatan kapasitas nasional menjadi 900 ribu ton per tahun.

Saat ini smelter aluminium di Kuala Tanjung yang dikelola INALUM berkapasitas 275 ribu ton per tahun. Dan fase pertama aluminium sekunder dengan kapasitas 30 ribu ton per tahun. Oleh karena itu, kehadiran smelter baru akan memperkuat serapan alumina dalam negeri.

Percepatan ekspansi SGAR Fase 2 dan pembangunan smelter aluminium baru, menjadi wujud komitmen Indonesia mewujudkan industri aluminium terintegrasi dari hulu hingga hilir. Di mana seluruh rantai produksi bauksit-alumina-aluminium digarap di dalam negeri.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan Negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Nilai Tambah 70 Kali Lipat

Rantai pasok bauksit–alumina–aluminium yang selama puluhan tahun terputus, bakal segera terintegrasi hulu ke hilir. Bijih bauksit yang selama ini banyak diekspor akan diolah di dalam negeri. Dampaknya bukan sekadar industri berdiri, tetapi nilai ekonomi melonjak, impor ditekan, dan fondasi ekonomi nasional makin kokoh.

Dasi sisi ekonomi, bisa dilihat dari harga bauksit mentah yang hanya sekitar USD 40 per metrik ton, melonjak menjadi USD 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina. Ketika sudah berbentuk aluminium, nilainya kembali melesat hingga USD 2.800 per metrik ton. Artinya, nilai tambah meningkat hingga 70 kali lipat.

Lonjakan ini diproyeksikan mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 71,8 triliun per tahun. Penerimaan negara pun ikut terkerek menjadi sekitar Rp 6,6 triliun per tahun.

Selanjutnya dampak terhadap ketahanan industri, Indonesia semakin mandiri. Kebutuhan aluminium domestik yang saat ini mencapai 1,2 juta ton per tahun ke depan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Ketergantungan pada impor alumina dan aluminium pun berangsur menurun secara signifikan.

Lebih dari itu, ada efek lonjakan cadangan devisa. Nilainya diperkirakan naik hingga 394 persen, dari sekitar Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Industri manufaktur nasional kini mendapat kepastian pasokan bahan baku, sekaligus harga yang lebih kompetitif.(*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.